Makassar, matasulsel.id — Inovasi hilirisasi rumput laut yang dikembangkan CV Bulan Bintang melalui beragam produk kosmetik dan herbal berbasis bahan alam menarik perhatian akademisi University of Tsukuba, Jepang. Kunjungan dua guru besar bersama peneliti BRIN ke tempat produksi CV Bulan Bintang di Makassar menjadi momentum untuk melihat langsung potensi inovasi rumput laut Sulawesi Selatan, Selasa, 27 Oktober 2026.
Dua akademisi yang berkunjung adalah Prof. Shusaku Matsushita, pakar analisis ekonomi, dan Prof. Sosaku Ichikawa, penasihat utama proyek SATREPS Seaweed. Keduanya didampingi peneliti BRIN, Afifah Nurmala Karima dan Rizki Aprilian Wijaya.
Dalam kunjungan tersebut, Ratnasari, S.Pi., M.Si., Komisaris CV Bulan Bintang, memperkenalkan berbagai inovasi pengolahan rumput laut menjadi produk kosmetik dan herbal bernilai tambah. Pengembangan ini memperlihatkan peluang rumput laut sebagai komoditas unggulan yang tidak hanya dipasarkan dalam bentuk bahan mentah, tetapi juga dapat diolah menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
Prof. Shusaku Matsushita menyampaikan kekaguman dan rasa syukurnya atas kesempatan melihat secara langsung inovasi yang dikembangkan Ratnasari. Kunjungan tersebut sekaligus menjadi ruang pertukaran pengetahuan mengenai pengembangan industri rumput laut dan potensi ekonomi yang dapat dihasilkan melalui inovasi pengolahan.
Hal menarik lainnya adalah penerapan prinsip ekonomi sirkular di tengah kawasan perkotaan. Limbah produksi CV Bulan Bintang tidak sekadar dibuang, tetapi diolah menjadi pupuk yang kemudian dimanfaatkan untuk menumbuhkan tanaman sebagai bahan campuran sejumlah produk inovasi.
Praktik ini menunjukkan bahwa inovasi berbasis rumput laut dapat dikembangkan sejalan dengan upaya mengurangi limbah, memanfaatkan kembali sumber daya, dan menciptakan proses produksi yang lebih berkelanjutan.
Kunjungan akademisi University of Tsukuba tersebut merupakan bagian dari upaya memahami perkembangan industri rumput laut di Sulawesi Selatan sekaligus mendukung pengembangan produk berbasis rumput laut secara berkelanjutan melalui proyek SATREPS Seaweed.
Bagi Ratnasari dan CV Bulan Bintang, kunjungan ini menjadi momentum untuk memperkenalkan hasil pengembangan inovasi lokal kepada kalangan akademisi internasional. Ketekunan dalam mengolah potensi sumber daya alam menjadi produk bernilai tambah memperlihatkan bahwa inovasi dapat tumbuh dari tempat produksi berskala lokal dan berkontribusi pada pengembangan ekonomi yang lebih berkelanjutan.
Dari Makassar, inovasi rumput laut menghadirkan pesan bahwa kekayaan sumber daya alam Sulawesi Selatan menyimpan peluang besar untuk dikembangkan melalui kreativitas, riset, dan penerapan prinsip ekonomi sirkular. (*)

Tinggalkan Balasan