MAKASSAR, — Pekerjaan perbaikan drainase di Jalan Buru, Kelurahan Melayu, Kecamatan Wajo, Kota Makassar, menuai keluhan warga dan pelaku usaha. Proyek yang menurut warga telah lama terhenti itu meninggalkan saluran terbuka, material hasil pengerukan yang menumpuk di tepi drainase, serta kondisi bahu jalan yang mengganggu aktivitas masyarakat.

Pekerjaan drainase tersebut dikaitkan dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Makassar. Namun, hingga berita ini disusun, pihak terkait masih sulit dihubungi untuk dimintai penjelasan mengenai progres pekerjaan, kendala yang menyebabkan pekerjaan diduga terhenti, serta target penyelesaiannya.

Berdasarkan dokumentasi foto yang diterima redaksi, sejumlah bagian drainase masih terbuka dan beberapa papan kayu digunakan sebagai jembatan sementara untuk melintasi saluran. Di sisi drainase, tampak material tanah, batu, dan puing berserakan di area yang berdekatan dengan jalur aktivitas warga dan kendaraan.

Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran, terutama bagi para pedagang yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas usaha di sepanjang Jalan Buru.

“Menurut warga sekitar, proyek ini sudah lama berhenti, Pak. Kami jadi bingung juga karena aktivitas kami di sepanjang Jalan Buru ini rata-rata pedagang. Kondisi seperti ini sangat mengganggu aktivitas kami dengan customer,” ungkap salah seorang warga yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan, Selasa (27/10/2026).

Material Pengerukan Menumpuk, Keselamatan Pengguna Jalan Dipertanyakan

Warga menilai persoalan semakin parah karena material hasil pengerukan drainase hanya ditumpuk di pinggir got tanpa penanganan yang memadai.

“Parahnya lagi, material dari pengerukan drainase itu hanya ditumpuk di pinggir got. Ini bisa membahayakan orang dan pengendara yang lalu-lalang. Apalagi kondisi jalan sempit, sehingga material tersebut berpotensi mengganggu akses dan keselamatan pengguna jalan,” keluhnya.

Warga juga khawatir material berupa tanah, batu, dan puing tersebut kembali jatuh ke dalam saluran, terutama ketika hujan turun.

“Kalau material itu jatuh kembali ke dalam got, saluran air bisa tersumbat. Kami khawatir ketika hujan deras, drainase tidak mampu mengalirkan air dengan baik dan akhirnya berdampak pada lingkungan sekitar,” tambahnya.

Kondisi ini membutuhkan perhatian serius dari pihak pelaksana. Material hasil pengerukan semestinya ditangani dengan baik agar tidak membahayakan pengguna jalan maupun menghambat aliran air dalam saluran drainase.

 

Jalan Sempit, Aktivitas Perdagangan Ikut Terganggu

Selain material pengerukan yang berserakan, warga turut menyoroti kondisi Jalan Buru yang relatif sempit. Sebagian bahu jalan yang digunakan sebagai tempat parkir kendaraan dinilai semakin mempersempit ruang gerak pengguna jalan.

Situasi tersebut dikhawatirkan memicu kemacetan, terutama ketika kendaraan pengangkut barang melintas bersamaan dengan aktivitas perdagangan dan kendaraan yang parkir di sekitar lokasi pekerjaan.

Bagi para pedagang, kondisi ini bukan sekadar persoalan kenyamanan. Akses pelanggan yang terganggu berpotensi memengaruhi aktivitas jual beli dan pendapatan mereka.

Warga berharap pihak terkait segera melakukan penataan lokasi pekerjaan, membersihkan material yang berpotensi membahayakan, serta memastikan akses jalan tetap aman dan dapat digunakan masyarakat.

 

Musim Hujan, Warga Khawatir Drainase Tidak Berfungsi Optimal

Kekhawatiran warga semakin meningkat memasuki periode musim hujan. Pekerjaan drainase yang belum tampak tuntas, ditambah material pengerukan yang masih menumpuk di tepi saluran, dinilai membutuhkan penanganan segera.

Apabila material kembali masuk ke dalam saluran dan menghambat aliran air, kondisi tersebut berpotensi mengurangi kemampuan drainase dalam mengalirkan air hujan.

Meski demikian, tingkat risiko genangan dan kondisi teknis drainase di lokasi tersebut masih perlu diperiksa oleh instansi berwenang.

Warga mempertanyakan mengapa material hasil pengerukan belum ditangani secara optimal dan kapan pekerjaan akan dilanjutkan hingga benar-benar selesai.

Mereka berharap pemerintah tidak menunggu sampai terjadi kecelakaan atau genangan serius sebelum mengambil tindakan.

 

PU Kota Makassar Sulit Dihubungi, Warga Menunggu Kepastian

Sebagai pihak yang dikaitkan dengan pelaksanaan pekerjaan drainase tersebut, PU Kota Makassar diharapkan memberikan penjelasan terbuka kepada masyarakat.

Namun, hingga berita ini disusun, upaya menghubungi pihak terkait untuk memperoleh keterangan mengenai progres pekerjaan dan penyebab dugaan penghentian proyek masih belum membuahkan penjelasan.

Belum adanya keterangan dari pihak terkait membuat warga belum memperoleh kepastian mengenai kapan pekerjaan akan dilanjutkan, bagaimana penanganan material pengerukan, serta langkah pengamanan yang akan dilakukan selama pekerjaan belum selesai.

Dalam konteks pelayanan publik, masyarakat membutuhkan informasi yang jelas mengenai pelaksanaan proyek infrastruktur yang berdampak langsung terhadap aktivitas sehari-hari mereka.

Karena itu, PU Kota Makassar diharapkan segera memberikan klarifikasi agar persoalan ini tidak berkembang menjadi polemik berkepanjangan.

 

Warga Minta Lurah Melayu dan Wali Kota Makassar Turun Tangan

Atas kondisi tersebut, warga meminta Lurah Melayu dan Wali Kota Makassar segera menindaklanjuti keluhan masyarakat dengan melakukan pengecekan langsung ke lokasi.

“Kami berharap Lurah Melayu dan Wali Kota Makassar bisa menindaklanjuti keluhan kami. Tolong dilihat langsung kondisi di lapangan. Kami ingin pekerjaan ini segera diselesaikan supaya aktivitas usaha kembali normal dan masyarakat tidak terus dirugikan,” tegas warga tersebut.

Warga juga berharap pemerintah berkoordinasi dengan instansi teknis dan pihak pelaksana untuk memastikan material pengerukan segera diangkut atau ditempatkan secara aman, akses jalan ditata, dan saluran drainase diselesaikan sesuai perencanaan.

Mereka meminta agar ada kepastian mengenai jadwal kelanjutan pekerjaan sehingga masyarakat tidak terus menanggung dampak dari kondisi proyek yang belum tuntas.

 

Jangan Tunggu Korban atau Banjir Baru Bertindak

Pekerjaan perbaikan drainase merupakan bagian penting dari upaya meningkatkan kualitas infrastruktur dan mengurangi risiko genangan. Namun, pelaksanaannya juga harus memperhatikan keselamatan masyarakat, kelancaran lalu lintas, dan keberlangsungan aktivitas ekonomi warga.

Jika pekerjaan memang mengalami penghentian dalam waktu cukup lama, masyarakat berhak memperoleh penjelasan mengenai penyebabnya, jadwal kelanjutan pekerjaan, serta target penyelesaian yang jelas.

Material hasil pengerukan yang menumpuk di tepi drainase juga tidak boleh dianggap sebagai persoalan sepele. Penanganan yang tidak memadai berpotensi menimbulkan bahaya bagi pengguna jalan dan menghambat aliran drainase apabila material kembali masuk ke saluran.

Pemerintah dan pihak pelaksana perlu segera memeriksa kondisi lapangan, memastikan keamanan area pekerjaan, membersihkan material yang mengganggu, dan memberikan kepastian mengenai kelanjutan proyek.

Warga kini menunggu tindakan nyata, bukan sekadar janji. Lurah Melayu dan Pemerintah Kota Makassar diharapkan segera merespons keluhan tersebut sebelum gangguan terhadap aktivitas perdagangan, risiko keselamatan pengguna jalan, maupun persoalan drainase berkembang menjadi masalah yang lebih serius.

Redaksi membuka ruang hak jawab dan klarifikasi kepada Dinas PU Kota Makassar, Kelurahan Melayu, instansi teknis terkait, serta pihak pelaksana pekerjaan untuk memberikan penjelasan mengenai progres, kendala, penanganan material pengerukan, dan target penyelesaian proyek drainase di Jalan Buru.

 

Sumber: Keterangan warga sekitar dan dokumentasi kondisi lokasi.