Jeneponto, matasulsel.id – Di saat sebagian besar warga Kota Bontosunggu masih menikmati hangatnya tempat tidur atau bersantai bersama keluarga di hari libur, Sabtu Pagi, 3 Juli 2026, deru mesin armada sampah dan gesekan sapu lidi di atas aspal sudah memecah keheningan.

Di sudut-sudut jalanan pusat kota Kabupaten Jeneponto ini, para pahlawan lingkungan sedang bekerja. Buruh saluran air berjibaku memastikan drainase bebas sumbatan, para sopir armada sigap mengangkut sisa-sisa konsumsi kota, dan para penyapu jalan dengan telaten membersihkan setiap jengkal pedestrian.

Namun, ada satu pemandangan yang menarik perhatian pagi ini. Di antara derap kerja para petugas, tampak Abdul Rahman, SE., MM, Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jeneponto. Pria yang akrab disapa Bang Rahmat ini tidak sedang berada di balik meja nyamannya.

Ia turun langsung ke lapangan, memantau, mengawal, dan memberikan semangat kepada jajarannya di hari yang sejatinya adalah waktu libur kerja.
Sebuah pemandangan yang memperlihatkan keteladanan nyata seorang abdi negara.

Kehadiran Bang Rahmat di lapangan bukan sekadar rutinitas formalitas. Ini adalah bentuk pengabdian tanpa batas untuk mengawal visi besar Bupati Jeneponto, Paris Yasir, dalam menghadirkan Jeneponto yang lebih baik, lebih bersih, dan nyaman bagi siapa saja.

Gerakan ini berakar kuat pada prinsip “Jaga Rasa”. Dalam konteks lokal, Jaga Rasa merupakan akronim sekaligus penegasan dari filosofi bahasa Makassar: Jangan Rantasa (jangan jorok/kotor). Makna sesungguhnya dari prinsip ini adalah sebuah ajakan ideologis kepada seluruh elemen masyarakat untuk jangan membuang sampah sembarangan dan menjaga estetika daerah agar selalu asri dan elok dipandang.
Sebab, kota yang bersih adalah cerminan martabat warganya. Jeneponto yang bersih akan menjadi daerah yang ramah dan memikat bagi siapa saja yang datang berkunjung.

Bagi Bang Rahmat dan jajaran DLH Jeneponto, menghadirkan lingkungan yang bersih dan asri bukan sekadar tentang kenyamanan estetika yang kita nikmati hari ini. Lebih dari itu, ini adalah investasi terbaik dan warisan paling berharga untuk masa depan anak cucu kita kelak.
Mewujudkan Jeneponto BAHAGIA dan Indonesia ASRI tidak bisa dilakukan dengan retorika semata.

Bang Rahmat menekankan bahwa gerakan ini membutuhkan empat pilar utama:
1.Keteladanan/Aktor: Pemimpin dan penggerak yang turun langsung memberi contoh.
2.Kolaborasi: Sinergi solid antara pemerintah, petugas kebersihan, dan kesadaran masyarakat.
3.Konsistensi: Kerja keras yang terus-menerus tanpa kenal tanggal merah.
4.Apresiasi: Penghargaan setinggi-tingginya kepada para buruh, sopir, dan penyapu jalan sebagai garda terdepan.

Udara segar yang kita hirup, tata kelola sampah kota yang rapi, saluran air yang lancar tanpa sumbatan banjir, serta hijaunya pepohonan di sepanjang jalan Bontosunggu akan menjadi bukti nyata.

Langkah-langkah kecil yang kita lakukan hari ini dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan akan membuahkan hasil besar bagi keberlanjutan bumi.
Mari bersama-sama mengulurkan tangan, mengubah kesadaran menjadi tindakan nyata. Mari Bekerja untuk Iklim, dimulai dari rumah kita, dari jalanan kita, untuk Jeneponto yang lebih baik dan berkelanjutan. Salam Jaga Rasa!.(*)