Makassar, matasulsel.id – Suasana Minggu pagi yang tenang usai berolahraga menjadi ruang lahirnya sebuah diskusi ilmiah yang hangat dan penuh inspirasi.

Bertempat di sebuah kedai kopi di Kota Makassar, Ahad (19/7/2026), Ratnasari, S.Pi., M.Si., inovator hilirisasi rumput laut Sulawesi Selatan, berdiskusi dengan Zulung Zach Walyandra, Research Fellow di Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) dan Sustainable Development Goals (SDGs) Centre Universitas Hasanuddin, sekaligus alumni The University of Melbourne, Australia.

Pertemuan yang telah direncanakan sekitar dua pekan sebelumnya itu berlangsung dalam suasana santai, namun sarat dengan pertukaran gagasan mengenai masa depan industri rumput laut Indonesia. Percakapan keduanya menggambarkan bagaimana ruang-ruang diskusi informal dapat menjadi media yang efektif untuk mempertemukan pengalaman lapangan dengan pendekatan ilmiah, sekaligus melahirkan perspektif baru dalam pengembangan sektor kelautan dan perikanan.

Diskusi diawali dengan saling berbagi pengalaman dan latar belakang keilmuan. Selanjutnya, pembahasan berkembang pada potensi besar rumput laut Sulawesi Selatan sebagai salah satu komoditas strategis nasional yang memiliki peluang luas untuk dikembangkan melalui pendekatan hilirisasi dan inovasi produk.

Sebagai bagian dari kegiatan penelitian yang sedang dilaksanakan di bawah naungan Sustainable Development Goals (SDGs) Centre Universitas Hasanuddin, Zulung membawa instrumen penelitian berupa kuesioner yang digunakan untuk menggali berbagai informasi mengenai ekosistem hilirisasi rumput laut di Indonesia. Penelitian tersebut bertujuan memperoleh gambaran mengenai keterkaitan antara riset, inovasi, dunia usaha, kebijakan, serta pemberdayaan masyarakat dalam membangun industri rumput laut yang berkelanjutan dan berdaya saing.

Berbekal pendidikan Sarjana Manajemen Sumber Daya Perairan Universitas Hasanuddin serta gelar Master of Environment dari The University of Melbourne Australia, Zulung menaruh perhatian pada bagaimana hasil-hasil penelitian dapat berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya dalam penguatan ekonomi biru (blue economy), hilirisasi sumber daya kelautan, serta pembangunan masyarakat pesisir yang berkelanjutan.

Dalam proses penelitian tersebut, diskusi bersama Ratnasari menjadi bagian penting dari pengumpulan informasi lapangan. Pengalaman Ratnasari sebagai peneliti sekaligus inovator yang telah berhasil mengembangkan berbagai produk turunan rumput laut memberikan perspektif yang komprehensif mengenai bagaimana hasil riset dapat diterjemahkan menjadi inovasi yang bernilai ekonomi, memperoleh perlindungan hak kekayaan intelektual, serta memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Ratnasari berbagi pengalaman mengenai perjalanan riset yang selama ini dijalaninya. Menurutnya, penelitian akan memberikan dampak yang lebih luas apabila tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi mampu diterjemahkan menjadi inovasi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

Pendekatan tersebut telah ia buktikan melalui berbagai produk berbasis rumput laut yang berhasil dikembangkan, memperoleh perlindungan hak paten dan hak cipta, serta didokumentasikan dalam sejumlah buku yang menjadi bagian dari upaya diseminasi pengetahuan kepada masyarakat dan kalangan akademik.

Di tengah diskusi, Ratnasari mengajak seluruh peserta melihat persoalan hilirisasi dari sudut pandang yang lebih strategis.

“Jika dunia terus membeli rumput laut mentah dari Indonesia, seharusnya kita mulai bertanya: diapakan saja rumput laut itu hingga memiliki nilai yang jauh lebih tinggi? Setelah diolah di luar negeri, justru kita membeli kembali dalam bentuk produk jadi dengan harga yang tidak murah.”

Pernyataan tersebut menjadi refleksi mengenai pentingnya transformasi ekonomi berbasis sumber daya alam. Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen rumput laut terbesar di dunia, namun sebagian besar hasil produksi masih dipasarkan dalam bentuk bahan baku.

Kondisi ini menyebabkan nilai tambah, penguasaan teknologi, penciptaan lapangan kerja, serta manfaat ekonomi yang lebih besar justru dinikmati oleh negara-negara pengolah.

Ratnasari menilai bahwa tantangan pembangunan sektor kelautan saat ini bukan terletak pada keterbatasan sumber daya manusia. Indonesia memiliki banyak peneliti, akademisi, guru besar, dan inovator dengan kapasitas keilmuan yang sangat baik. Tantangan sesungguhnya adalah membangun ekosistem yang mampu menghubungkan hasil penelitian dengan kebutuhan industri, sehingga inovasi dapat berkembang menjadi produk yang bernilai ekonomi dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat.

“Saya berharap peneliti-peneliti muda mengambil peran yang lebih besar dalam mengembangkan hilirisasi rumput laut Indonesia. Jangan biarkan kekayaan laut kita terus dipasarkan hanya sebagai bahan mentah. Sudah saatnya kita menghasilkan produk bernilai tambah, memperkuat industri nasional, sekaligus menghadirkan produk-produk sehat karya anak bangsa yang mampu bersaing di pasar global,” ujar Ratnasari.

Bagi Zulung Zach Walyandra, pertemuan tersebut menjadi kesempatan berharga untuk memperdalam pemahaman mengenai dinamika hilirisasi rumput laut dari perspektif praktisi yang telah membuktikan bahwa inovasi dapat diwujudkan hingga menjadi produk yang digunakan masyarakat. Pengalaman tersebut memperkaya proses penelitian yang sedang dilakukannya di bawah SDGs Centre Universitas Hasanuddin, sekaligus membuka peluang kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga penelitian, pemerintah, dunia usaha, dan pelaku inovasi.

“Inovasi dan pendampingan perikanan yang dilakukan Bu Ratna mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan no. 14, yaitu Life below the water atau kehidupan-kehidupan yang terkait dengan lautan. Poin tersebut merupakan salah satu tujuan pembangunan unggulan Sulawesi Selatan yg memiliki Indeks Ekonomi Biru tertinggi di Indonesia”

Keduanya sepakat bahwa masa depan industri rumput laut Indonesia tidak dapat dibangun hanya melalui penelitian di laboratorium ataupun aktivitas produksi di lapangan secara terpisah.

Diperlukan sinergi yang kuat antara riset, inovasi, kebijakan, dunia usaha, dan pemberdayaan masyarakat agar kekayaan hayati laut Indonesia mampu memberikan nilai tambah yang optimal, mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Pertemuan sederhana itu menjadi bukti bahwa ruang diskusi tidak selalu harus berlangsung dalam forum resmi atau ruang seminar.

Dalam suasana yang hangat dan penuh keterbukaan, secangkir kopi mampu menjadi penghubung lahirnya dialog yang mempertemukan ilmu pengetahuan, pengalaman, dan semangat kolaborasi.

Dari percakapan seperti inilah sering kali tumbuh gagasan-gagasan besar yang berpotensi memperkuat daya saing industri rumput laut Indonesia, mempercepat terwujudnya ekonomi biru yang berkelanjutan, serta mendorong Indonesia bertransformasi dari negara pengekspor bahan baku menjadi bangsa yang mampu menguasai inovasi, teknologi, dan industri hilir berbasis kekayaan hayati lautnya sendiri. (*)