Oleh : Dr. Hartina Fattah,S.Si.,MM (Rektor IAI Yapnas Jeneponto)

Perjalanan menuju sebuah tempat pengabdian terkadang telah mengajarkan banyak hal bahkan sebelum pengabdian itu sendiri dimulai.
Itulah yang terasa dalam perjalanan KKN Internasional menuju Thailand.

Perjalanan darat yang membentang dari Malaysia hingga menembus perbatasan Thailand bukan sekadar perpindahan geografis dari satu negara ke negara lainnya. Di sepanjang jalan, ada proses belajar yang berlangsung secara alamiah.

Tidak ada ruang kuliah. Tidak ada papan tulis. Tidak ada dosen yang berdiri menjelaskan teori.
Namun, perjalanan justru menghadirkan ujian ketahanan fisik dan mental secara nyata.

Bagi mahasiswa yang terbiasa dengan ritme kehidupan domestik, duduk berjam-jam di dalam kendaraan dengan pemandangan yang terus berganti tentu menghadirkan pengalaman tersendiri. Pada awalnya mungkin terasa menyenangkan. Ada negeri baru, jalan yang berbeda, dan suasana yang belum pernah dijumpai.

Tetapi perjalanan panjang memiliki caranya sendiri untuk menguji manusia.
Tubuh mulai lelah.
Ruang gerak terbatas.
Energi perlahan terkuras.

Dalam keadaan seperti itu, setiap orang mulai berhadapan dengan dirinya sendiri.

Kenyamanan tidak lagi sepenuhnya dapat dipertahankan. Ego pribadi harus perlahan dilunakkan demi kenyamanan bersama. Mahasiswa mulai belajar bahwa perjalanan kelompok menuntut toleransi, kesabaran, dan kemampuan memahami kondisi orang lain.

Kelelahan fisik pun perlahan menjadi ujian mental. Ketika tubuh mulai terasa remuk oleh perjalanan panjang dan guncangan rute yang dilalui, daya tahan psikologis ikut ditantang. Dalam keadaan demikian, seseorang akan lebih mudah mengeluh, kehilangan kesabaran, atau bahkan menyerah pada keadaan.

Di sinilah kemandirian mulai menemukan maknanya, tantangan perjalanan ternyata tidak berhenti pada kelelahan fisik.

Urusan perut kemudian menghadirkan cerita lain. Menahan lapar menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan awal menuju Thailand. Menariknya, rasa lapar itu bukan semata-mata karena tidak tersedia makanan.

Makanan ada.
Kehidupan masyarakat berjalan.
Kedai dan ruang-ruang pelayanan tetap beraktivitas.

Namun, kami sedang berada dalam lingkungan sosial dan budaya yang memiliki ritmenya sendiri.

Masyarakat Thailand yang kami jumpai memperlihatkan ritme kehidupan dan pelayanan yang terasa tenang, santai, dan tidak terburu-buru. Bagi mahasiswa yang telah menempuh perjalanan panjang dan berada dalam kondisi lapar, perbedaan ritme tersebut tentu menjadi tantangan.

Di satu sisi, perut sedang mendesak.
Di sisi lain, lingkungan tidak serta-merta bergerak mengikuti urgensi yang kami rasakan.

Di sinilah gegar budaya mulai hadir dalam bentuknya yang sangat sederhana.
Kita sering kali tidak menyadari bahwa cara manusia merespons keadaan sangat dipengaruhi oleh kebudayaan tempat ia tumbuh.

Kami datang dari lingkungan masyarakat Makassar dan Sulawesi Selatan yang cenderung ekspresif, tanggap, dan taktis dalam menyampaikan kebutuhan. Sementara itu, dalam interaksi yang kami alami di Thailand, komunikasi berlangsung lebih halus, tenang, dan penuh kehati-hatian.

Dua ritme sosial yang berbeda bertemu.
Bukan untuk menentukan mana yang lebih baik.
Bukan pula untuk menyimpulkan siapa yang paling benar.

Pertemuan itu justru menjadi ruang belajar.
Mahasiswa dipaksa untuk menahan diri, membaca situasi, dan menyesuaikan cara berkomunikasi agar tidak menyinggung sensitivitas masyarakat lokal.

Ternyata, beradaptasi tidak selalu mudah.
Menyesuaikan diri secara terus-menerus dengan kepekaan sosial yang baru dapat menguras energi mental. Apalagi ketika proses itu berlangsung bersamaan dengan tubuh yang lelah dan perut yang lapar.

Namun, justru dalam keadaan seperti itulah pendidikan kehidupan bekerja.

Belajar Tersenyum di Tengah Kelelahan, ujian mental semakin terasa di ruang-ruang publik. Ketika mengantre di imigrasi perbatasan.

Ketika mencoba memesan makanan di kedai lokal.
Ketika harus menjelaskan kebutuhan di tengah keterbatasan bahasa.
Hambatan bahasa yang bertemu dengan rasa lapar dan kelelahan dapat dengan mudah melahirkan frustrasi.
Hal yang biasanya sederhana tiba-tiba menjadi rumit.

Sebuah pertanyaan sederhana mungkin harus diulang beberapa kali, maksud yang ingin disampaikan belum tentu langsung dipahami, bahasa tubuh menjadi alat komunikasi, senyum menjadi jembatan.

Dalam kondisi fisik yang mulai menurun, menjaga sikap tetap tenang bukan perkara mudah.

Tetapi di Thailand, kami justru belajar tentang pentingnya menjaga kesopanan dalam berinteraksi.
Mahasiswa belajar untuk tetap tersenyum.
Belajar menahan ekspresi ketidaksabaran.

Belajar bahwa menjadi tamu di negeri orang menuntut kemampuan membaca dan menghormati budaya masyarakat setempat.

Mungkin terdengar sederhana.
Namun, tetap menjaga sopan santun ketika tubuh sedang lelah dan perut dalam keadaan lapar sesungguhnya merupakan latihan pengendalian diri yang nyata.

Teori tentang kecerdasan emosional dapat dipelajari melalui buku. Tetapi perjalanan memberikan ruang untuk mengujinya secara langsung.

Tidak Ada Ruang untuk Terus Meratap. Berada jauh dari rumah menghadirkan satu kenyataan, tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan fasilitas yang serba instan.

Tidak ada ruang untuk terus-menerus meratap. Tidak mungkin setiap kesulitan direspons dengan keluhan, mahasiswa harus mulai berpikir taktis.

Ketika makanan yang diharapkan belum tersedia, mereka harus mencari alternatif yang dapat diterima oleh tubuh.

Ketika bahasa menjadi penghalang, mereka harus menemukan cara lain untuk berkomunikasi.

Ketika beberapa anggota kelompok mulai kelelahan, emosi kelompok harus dikelola agar kebersamaan tetap terjaga.

Di sinilah kemandirian dipaksa tumbuh lebih cepat. Kondisi yang terjepit antara lelahnya fisik dan rasa lapar justru memaksa mahasiswa belajar menyelesaikan persoalan-persoalan sederhana secara mandiri.

Mereka belajar bahwa perjalanan tidak selalu menyediakan kenyamanan.
Ada saatnya manusia harus berkompromi dengan keadaan.
Ada saatnya keinginan pribadi harus ditunda.
Ada saatnya ego harus dikalahkan demi menjaga kelompok tetap solid.

Perlahan, rasa lapar dan kelelahan memberikan pelajaran tentang kompromi budaya, kompromi dalam konteks ini bukan berarti kehilangan identitas.

Mahasiswa tetaplah anak-anak Indonesia. Mereka datang membawa karakter, kebiasaan, bahasa, dan latar sosialnya sendiri.

Namun, berada di negeri lain mengajarkan bahwa identitas tidak seharusnya menjadi alasan untuk memaksakan kebiasaan kita kepada masyarakat lain.

Dunia terlalu luas untuk dinilai hanya dengan ukuran budaya sendiri.

Apa yang menurut kita lambat mungkin merupakan bentuk kehati-hatian bagi masyarakat lain.

Apa yang kita anggap terlalu tenang mungkin merupakan ekspresi kesopanan dalam kebudayaan yang berbeda.

Sebaliknya, cara kita yang ekspresif mungkin juga terasa asing bagi mereka.

Kesadaran semacam inilah yang perlahan meruntuhkan ego kedaerahan.

Mahasiswa belajar melihat perbedaan bukan sebagai gangguan, melainkan sebagai kenyataan sosial yang harus dipahami.

Inilah salah satu kemenangan mental pertama dalam perjalanan internasional.

Bukan kemenangan karena berhasil melewati perbatasan negara.

Bukan karena paspor telah mendapatkan catatan perjalanan baru.

Tetapi kemenangan ketika seseorang mampu mengalahkan keinginannya untuk selalu menjadikan kebiasaan sendiri sebagai ukuran bagi orang lain.

Seluruh rangkaian kelelahan fisik dan pergulatan mental sepanjang perjalanan darat melintasi negeri jiran sesungguhnya menjadi bekal penting sebelum mahasiswa tiba di lokasi KKN Internasional di Thailand.

Perjalanan itu seperti simulasi awal dari kehidupan pengabdian.
Mahasiswa yang akan hidup di tengah masyarakat harus memiliki daya tahan.
Mereka harus mampu membaca lingkungan.
Mereka harus peka terhadap kebiasaan masyarakat.
Mereka harus mampu mengelola emosi.
Dan mereka harus siap menghadapi keadaan yang tidak selalu sesuai dengan rencana.

Pengabdian kepada masyarakat tidak membutuhkan mahasiswa yang hanya pintar berbicara.
Pengabdian membutuhkan manusia yang mampu mendengar dan beradaptasi.
Karena itu, rasa lapar, tubuh yang lelah, antrean imigrasi, hambatan bahasa, dan kecanggungan ketika memesan makanan sesungguhnya bukan pengalaman yang sia-sia.

Semua itu menjadi bagian dari proses pendewasaan.
Ketika akhirnya tiba di lokasi KKN di Thailand, mahasiswa seharusnya tidak lagi menjadi pribadi yang sama seperti ketika memulai perjalanan.

Mereka telah melewati ujian mental pertama.
Mereka telah merasakan bagaimana menghadapi ketidaknyamanan.
Mereka telah belajar mencari alternatif.
Mereka telah berlatih mengelola emosi kelompok.

Dan yang paling penting, mereka mulai belajar memahami manusia yang hidup dalam kebudayaan berbeda.

Pada akhirnya, esensi KKN Internasional tidak seharusnya hanya ditemukan dalam dokumen laporan akhir yang tebal.
Tentu laporan penting.
Dokumentasi penting.
Program kerja juga penting.

Namun, ada sesuatu yang jauh lebih mendasar, transformasi karakter mahasiswa.
Apakah perjalanan membuat mereka lebih mandiri?
Apakah perjumpaan dengan budaya lain membuat mereka lebih terbuka?
Apakah hambatan bahasa mengajarkan kreativitas dalam berkomunikasi?
Apakah rasa lapar mengajarkan pengendalian diri?
Apakah kelelahan membuat mereka semakin memahami arti kebersamaan?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang seharusnya menjadi bagian dari refleksi sebuah KKN Internasional.

Sebab pendidikan tidak selalu bekerja dengan cara memberikan kenyamanan.
Terkadang pendidikan hadir melalui rasa lelah.
Melalui lapar yang harus ditahan.
Melalui komunikasi yang tidak langsung dipahami.
Melalui antrean panjang.
Melalui perbedaan budaya.
Dan melalui situasi-situasi sederhana yang memaksa manusia berhadapan dengan ego dirinya sendiri.

Perjalanan menuju Thailand memberikan satu pelajaran penting bagi kami, dunia tidak selalu berjalan mengikuti ritme yang kita inginkan.

Maka, manusialah yang harus belajar.
Belajar membaca keadaan.
Belajar menahan diri.
Belajar mencari jalan keluar.
Belajar menghormati perbedaan dan belajar tetap menjadi manusia yang santun, bahkan ketika tubuh sedang lelah dan perut sedang lapar.

Barangkali, di situlah makna terdalam dari sebuah perjalanan pendidikan.
Kita berangkat menuju negeri lain untuk menjalankan pengabdian.

Namun, bahkan sebelum tiba di tempat pengabdian, perjalanan telah lebih dahulu mengabdi kepada pendidikan kita sendiri.
Ia mendidik tubuh untuk bertahan.
Mendidik pikiran untuk beradaptasi.
Mendidik emosi untuk terkendali dan mendidik ego untuk memahami bahwa dunia jauh lebih luas daripada kebiasaan yang selama ini kita kenal.

Rasa lelah akhirnya akan terbayar. Rasa lapar akhirnya akan berlalu. Namun, pelajaran tentang kemandirian, ketahanan mental, dan penghormatan terhadap perbedaan akan menjadi bekal panjang bagi mahasiswa untuk tumbuh sebagai intelektual muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang dan siap berdiri di panggung global. (*)