Takalar, matasulsel.id – Pantai Punaga, Desa Punaga, Kecamatan Laikang, Kabupaten Takalar, Kamis (16/7/2016), menjadi pusat pembelajaran dan kolaborasi dalam kegiatan Transfer Teknologi PAIR Sulawesi bertajuk Empowering Seaweed Farmers and Developing Environmentally Friendly Derivative Products of Seaweed with a Circular Economy Approach.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Hasanuddin bekerja sama dengan Monash University Australia, dengan dukungan Pemerintah Australia melalui Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT), Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), serta Australia-Indonesia Centre (AIC).
Program ini dipimpin oleh Dr. rer. nat. Elmi Nurhaidah Zainuddin, DES. selaku Ketua Tim PAIR Sulawesi, yang selama ini konsisten mengembangkan riset dan pemberdayaan masyarakat pesisir melalui inovasi pemanfaatan rumput laut berbasis ekonomi sirkular. Melalui kegiatan ini, hasil penelitian tidak hanya dipublikasikan di ruang akademik, tetapi juga ditransformasikan menjadi teknologi yang dapat diterapkan secara langsung oleh masyarakat.
Sejak pagi hingga sore hari, kegiatan berlangsung dinamis dengan menghadirkan para akademisi, peneliti, praktisi, pemerintah daerah, penyuluh perikanan, serta masyarakat pesisir. Seluruh peserta bersama-sama berbagi pengetahuan dan pengalaman mengenai pengembangan produk turunan rumput laut, khususnya Ulva reticulata, yang selama ini keberadaannya belum dimanfaatkan secara optimal meskipun melimpah di kawasan pesisir.
Acara dibuka dengan sambutan inspiratif dari Prof. Daniel Prajogo dari Monash University Australia. Dalam paparannya, beliau menekankan bahwa keberhasilan inovasi sangat ditentukan oleh keterbukaan masyarakat terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Perubahan selalu dimulai dari kemauan untuk belajar. Ketika masyarakat terbuka terhadap ilmu pengetahuan, maka teknologi akan lebih mudah diterapkan dan manfaatnya akan dirasakan dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.
Pesan tersebut menjadi pengantar penting bahwa transformasi ekonomi masyarakat pesisir tidak hanya bergantung pada ketersediaan sumber daya alam, tetapi juga pada kesiapan sumber daya manusia dalam menerima dan mengembangkan inovasi.
Memperkuat perspektif tersebut, Prof. Rukman Hertadi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) memaparkan potensi pemanfaatan bahan alam sebagai edible plastic, yaitu plastik ramah lingkungan yang dapat terurai secara alami bahkan aman dikonsumsi. Melalui penjelasan yang sederhana namun ilmiah, beliau menunjukkan bahwa rumput laut hijau memiliki prospek besar sebagai bahan baku pengganti plastik berbasis petroleum yang selama ini menjadi salah satu penyumbang pencemaran lingkungan.
Selanjutnya, Siti Nurkhamidah, S.T., M.S., Ph.D. dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) memperkenalkan teknologi ekstraksi Ulva reticulata menjadi ulvan, polisakarida alami yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Tidak hanya menjelaskan konsep ilmiahnya, beliau juga mempraktikkan secara langsung proses ekstraksi sehingga peserta dapat memahami tahapan pengolahannya.
Ulvan diketahui memiliki berbagai potensi pemanfaatan sebagai bahan baku kosmetik, bahan tambahan pangan (food additive), biomaterial ramah lingkungan, hingga berbagai produk industri berbasis sumber daya hayati yang memiliki nilai jual tinggi.
Pengenalan teknologi ini diharapkan membuka peluang usaha baru bagi masyarakat pesisir melalui pemanfaatan sumber daya lokal yang selama ini belum tergarap secara maksimal.
Mewakili Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan, Ratnasari, S.Pi., M.Si. menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan kegiatan tersebut. Menurutnya, pemilihan Desa Punaga sebagai lokasi transfer teknologi merupakan langkah yang sangat tepat karena kawasan tersebut setiap musim dipenuhi Ulva reticulata, namun selama ini hanya dianggap sebagai limbah yang menumpuk di sepanjang pantai.
“Kini paradigma itu mulai berubah. Berkat penelitian yang dipimpin oleh Dr. rer. nat. Elmi Nurhaidah Zainuddin, DES. bersama Tim PAIR Sulawesi dan berbagai mitra, Ulva reticulata tidak lagi dipandang sebagai limbah, tetapi telah menjadi sumber daya bernilai tinggi yang berpotensi diolah menjadi bioplastik, biopigmen, biostimulan, kosmetik, hingga berbagai produk ramah lingkungan lainnya. Kehadiran para ilmuwan dari universitas dalam dan luar negeri di Desa Punaga menjadi kebanggaan tersendiri serta diharapkan mampu mengangkat nama daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan bagaimana kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat mampu menghadirkan solusi nyata terhadap persoalan lingkungan sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru berbasis inovasi.
Sepanjang kegiatan, antusiasme peserta terlihat begitu tinggi. Masyarakat tidak hanya menerima materi melalui sesi diskusi, tetapi juga menyaksikan demonstrasi langsung proses pembuatan berbagai produk turunan berbasis Ulva reticulata menggunakan teknologi yang relatif sederhana dan memungkinkan untuk diterapkan di tingkat kelompok masyarakat maupun usaha mikro.
Pendekatan ini menjadi bukti bahwa hasil riset dapat diterjemahkan menjadi inovasi yang aplikatif, mudah dipahami, serta berpotensi memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan bagi masyarakat pesisir.
Melalui kegiatan Transfer Teknologi PAIR Sulawesi ini, diharapkan hasil-hasil penelitian tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah semata, melainkan berkembang menjadi peluang usaha baru yang mampu meningkatkan nilai tambah sumber daya lokal. Pemanfaatan Ulva reticulata sebagai bahan baku berbagai produk ramah lingkungan juga sejalan dengan penguatan konsep ekonomi sirkular dan ekonomi biru, yang menempatkan kelestarian lingkungan sebagai fondasi utama pembangunan ekonomi pesisir.
Lebih dari sekadar pelatihan, kegiatan ini menjadi bukti bahwa sinergi antara dunia akademik, pemerintah, mitra internasional, dan masyarakat dapat menghadirkan inovasi yang berdampak nyata. Rumput laut hijau yang dahulu hanya dipandang sebagai limbah kini mulai bertransformasi menjadi komoditas bernilai tinggi yang berpotensi membuka lapangan usaha, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta mendukung pembangunan pesisir yang berkelanjutan.
Sebagaimana semangat yang diusung dalam kegiatan ini, laut tidak hanya menyediakan sumber daya alam yang melimpah, tetapi juga menghadirkan peluang yang tak terbatas ketika dipadukan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kolaborasi. Dari Desa Punaga, lahir sebuah pesan bahwa inovasi mampu mengubah sesuatu yang selama ini terabaikan menjadi sumber harapan, kesejahteraan, dan masa depan yang lebih baik bagi masyarakat pesisir Indonesia. (*)
Teknologi PAIR Sulawesi di Desa Punaga, Mengubah Ulva reticulata yang Terabaikan Menjadi Produk Bernilai Tinggi
Takalar, matasulsel.id – Pantai Punaga, Desa Punaga, Kecamatan Laikang, Kabupaten Takalar, Kamis (16/7/2016), menjadi pusat pembelajaran dan kolaborasi dalam kegiatan Transfer Teknologi PAIR Sulawesi bertajuk Empowering Seaweed Farmers and Developing Environmentally Friendly Derivative Products of Seaweed with a Circular Economy Approach.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Hasanuddin bekerja sama dengan Monash University Australia, dengan dukungan Pemerintah Australia melalui Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT), Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), serta Australia-Indonesia Centre (AIC).
Program ini dipimpin oleh Dr. rer. nat. Elmi Nurhaidah Zainuddin, DES. selaku Ketua Tim PAIR Sulawesi, yang selama ini konsisten mengembangkan riset dan pemberdayaan masyarakat pesisir melalui inovasi pemanfaatan rumput laut berbasis ekonomi sirkular. Melalui kegiatan ini, hasil penelitian tidak hanya dipublikasikan di ruang akademik, tetapi juga ditransformasikan menjadi teknologi yang dapat diterapkan secara langsung oleh masyarakat.
Sejak pagi hingga sore hari, kegiatan berlangsung dinamis dengan menghadirkan para akademisi, peneliti, praktisi, pemerintah daerah, penyuluh perikanan, serta masyarakat pesisir. Seluruh peserta bersama-sama berbagi pengetahuan dan pengalaman mengenai pengembangan produk turunan rumput laut, khususnya Ulva reticulata, yang selama ini keberadaannya belum dimanfaatkan secara optimal meskipun melimpah di kawasan pesisir.
Acara dibuka dengan sambutan inspiratif dari Prof. Daniel Prajogo dari Monash University Australia. Dalam paparannya, beliau menekankan bahwa keberhasilan inovasi sangat ditentukan oleh keterbukaan masyarakat terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Perubahan selalu dimulai dari kemauan untuk belajar. Ketika masyarakat terbuka terhadap ilmu pengetahuan, maka teknologi akan lebih mudah diterapkan dan manfaatnya akan dirasakan dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.
Pesan tersebut menjadi pengantar penting bahwa transformasi ekonomi masyarakat pesisir tidak hanya bergantung pada ketersediaan sumber daya alam, tetapi juga pada kesiapan sumber daya manusia dalam menerima dan mengembangkan inovasi.
Memperkuat perspektif tersebut, Prof. Rukman Hertadi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) memaparkan potensi pemanfaatan bahan alam sebagai edible plastic, yaitu plastik ramah lingkungan yang dapat terurai secara alami bahkan aman dikonsumsi. Melalui penjelasan yang sederhana namun ilmiah, beliau menunjukkan bahwa rumput laut hijau memiliki prospek besar sebagai bahan baku pengganti plastik berbasis petroleum yang selama ini menjadi salah satu penyumbang pencemaran lingkungan.
Selanjutnya, Siti Nurkhamidah, S.T., M.S., Ph.D. dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) memperkenalkan teknologi ekstraksi Ulva reticulata menjadi ulvan, polisakarida alami yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Tidak hanya menjelaskan konsep ilmiahnya, beliau juga mempraktikkan secara langsung proses ekstraksi sehingga peserta dapat memahami tahapan pengolahannya.
Ulvan diketahui memiliki berbagai potensi pemanfaatan sebagai bahan baku kosmetik, bahan tambahan pangan (food additive), biomaterial ramah lingkungan, hingga berbagai produk industri berbasis sumber daya hayati yang memiliki nilai jual tinggi.
Pengenalan teknologi ini diharapkan membuka peluang usaha baru bagi masyarakat pesisir melalui pemanfaatan sumber daya lokal yang selama ini belum tergarap secara maksimal.
Mewakili Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan, Ratnasari, S.Pi., M.Si. menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan kegiatan tersebut. Menurutnya, pemilihan Desa Punaga sebagai lokasi transfer teknologi merupakan langkah yang sangat tepat karena kawasan tersebut setiap musim dipenuhi Ulva reticulata, namun selama ini hanya dianggap sebagai limbah yang menumpuk di sepanjang pantai.
“Kini paradigma itu mulai berubah. Berkat penelitian yang dipimpin oleh Dr. rer. nat. Elmi Nurhaidah Zainuddin, DES. bersama Tim PAIR Sulawesi dan berbagai mitra, Ulva reticulata tidak lagi dipandang sebagai limbah, tetapi telah menjadi sumber daya bernilai tinggi yang berpotensi diolah menjadi bioplastik, biopigmen, biostimulan, kosmetik, hingga berbagai produk ramah lingkungan lainnya. Kehadiran para ilmuwan dari universitas dalam dan luar negeri di Desa Punaga menjadi kebanggaan tersendiri serta diharapkan mampu mengangkat nama daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan bagaimana kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat mampu menghadirkan solusi nyata terhadap persoalan lingkungan sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru berbasis inovasi.
Sepanjang kegiatan, antusiasme peserta terlihat begitu tinggi. Masyarakat tidak hanya menerima materi melalui sesi diskusi, tetapi juga menyaksikan demonstrasi langsung proses pembuatan berbagai produk turunan berbasis Ulva reticulata menggunakan teknologi yang relatif sederhana dan memungkinkan untuk diterapkan di tingkat kelompok masyarakat maupun usaha mikro.
Pendekatan ini menjadi bukti bahwa hasil riset dapat diterjemahkan menjadi inovasi yang aplikatif, mudah dipahami, serta berpotensi memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan bagi masyarakat pesisir.
Melalui kegiatan Transfer Teknologi PAIR Sulawesi ini, diharapkan hasil-hasil penelitian tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah semata, melainkan berkembang menjadi peluang usaha baru yang mampu meningkatkan nilai tambah sumber daya lokal. Pemanfaatan Ulva reticulata sebagai bahan baku berbagai produk ramah lingkungan juga sejalan dengan penguatan konsep ekonomi sirkular dan ekonomi biru, yang menempatkan kelestarian lingkungan sebagai fondasi utama pembangunan ekonomi pesisir.
Lebih dari sekadar pelatihan, kegiatan ini menjadi bukti bahwa sinergi antara dunia akademik, pemerintah, mitra internasional, dan masyarakat dapat menghadirkan inovasi yang berdampak nyata. Rumput laut hijau yang dahulu hanya dipandang sebagai limbah kini mulai bertransformasi menjadi komoditas bernilai tinggi yang berpotensi membuka lapangan usaha, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta mendukung pembangunan pesisir yang berkelanjutan.
Sebagaimana semangat yang diusung dalam kegiatan ini, laut tidak hanya menyediakan sumber daya alam yang melimpah, tetapi juga menghadirkan peluang yang tak terbatas ketika dipadukan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kolaborasi. Dari Desa Punaga, lahir sebuah pesan bahwa inovasi mampu mengubah sesuatu yang selama ini terabaikan menjadi sumber harapan, kesejahteraan, dan masa depan yang lebih baik bagi masyarakat pesisir Indonesia. (*)

Tinggalkan Balasan