Pangkep, matasulsel.id – Sebuah diskusi sederhana yang dikemas dalam suasana santai di Syahir Cafe, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sabtu (18/7).
Menghadirkan semangat besar untuk masa depan pembangunan daerah, melalui konsep coffee discussion, para peserta bertukar gagasan dan pengalaman mengenai pentingnya memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam mengoptimalkan potensi kelautan, perikanan, pendidikan, dan pariwisata sebagai fondasi pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
Pertemuan tersebut dihadiri oleh Ratnasari dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan, dr. Ivan dari Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Makassar, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Pangkep Iman Takbir, serta Syamsuddin Moedji dari Lembaga Demokrasi Celebes (LDC).
Kehadiran peserta yang berasal dari berbagai latar belakang menunjukkan bahwa pembangunan daerah tidak lagi dapat dikerjakan secara sektoral, melainkan membutuhkan sinergi antara pemerintah, akademisi, lembaga pendidikan, dan masyarakat sipil.
Salah satu topik yang mendapat perhatian khusus adalah penguatan komoditas ikan bandeng sebagai identitas sekaligus kekuatan ekonomi Kabupaten Pangkep. Daerah ini dikenal memiliki kawasan tambak yang luas dengan tradisi budidaya bandeng yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Potensi tersebut dinilai masih sangat besar untuk terus dikembangkan melalui peningkatan kualitas produksi, diversifikasi produk olahan, inovasi teknologi, promosi yang lebih luas, hingga perluasan akses pasar agar mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat pembudidaya.
Dalam diskusi tersebut, dr. Ivan menekankan bahwa pembangunan sektor kelautan tidak hanya berbicara mengenai sumber daya alam, tetapi juga harus didukung oleh peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Menurutnya, kolaborasi antara dunia pendidikan dengan masyarakat pesisir menjadi kebutuhan yang semakin penting untuk menjawab tantangan masa depan.
Ia mengusulkan agar pelatihan keselamatan pelayaran, keselamatan kerja di laut, serta program sertifikasi kompetensi bagi nelayan terus diperkuat. Langkah tersebut diyakini mampu meningkatkan profesionalisme nelayan, memperkuat budaya keselamatan, sekaligus membuka peluang yang lebih luas bagi masyarakat pesisir untuk memperoleh pengakuan kompetensi sesuai standar yang berlaku.
Sementara itu, Ratnasari mengangkat besarnya potensi rumput laut sebagai salah satu komoditas strategis yang dimiliki Kabupaten Pangkep. Menurutnya, rumput laut tidak hanya memiliki nilai ekonomi sebagai hasil budidaya primer, tetapi juga menawarkan peluang besar untuk dikembangkan melalui industri hilirisasi.
Berbagai produk bernilai tambah, mulai dari pangan fungsional, kosmetik, produk kesehatan, hingga bahan baku industri herbal, dinilai memiliki prospek pasar yang sangat menjanjikan.
Oleh karena itu, penguatan inovasi, riset, pengolahan pascapanen, serta kemitraan usaha menjadi faktor penting agar komoditas rumput laut mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat pesisir sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal di pasar nasional maupun internasional.
Dari sektor pariwisata, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Pangkep, Iman Takbir, memperkenalkan konsep inovatif MABBULO (Marine Blue Economy Local Wisdom). Gagasan tersebut mengintegrasikan pendekatan ekonomi biru dengan nilai-nilai kearifan lokal sebagai dasar pembangunan pariwisata yang berkelanjutan.
Melalui konsep ini, pengembangan destinasi wisata bahari tidak hanya berorientasi pada peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga diarahkan untuk menjaga kelestarian ekosistem laut, memperkuat budaya lokal, memberdayakan masyarakat kepulauan, serta menciptakan manfaat ekonomi yang dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat. Pendekatan tersebut diyakini mampu memperkuat posisi Kabupaten Pangkep sebagai salah satu destinasi wisata bahari unggulan di Sulawesi Selatan.
Diskusi kemudian berkembang pada upaya membangun identitas daerah melalui penguatan agenda budaya dan ekonomi kreatif. Syamsuddin Moedji dari Lembaga Demokrasi Celebes (LDC) mengemukakan gagasan untuk mengembalikan kejayaan Kabupaten Pangkep sebagai salah satu sentra penghasil bandeng terbaik di Indonesia.
Salah satu usulan yang memperoleh respons positif adalah menghidupkan kembali Festival Bandeng Pangkep sebagai agenda tahunan daerah.
Festival tersebut dipandang bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan dapat menjadi media promosi produk unggulan perikanan, ruang pemberdayaan pelaku UMKM, ajang edukasi masyarakat mengenai potensi perikanan daerah, sekaligus penggerak sektor pariwisata dan ekonomi kreatif yang mampu memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Seluruh peserta sepakat bahwa forum-forum diskusi informal seperti ini memiliki nilai strategis dalam membangun komunikasi yang lebih terbuka, mempererat jejaring kemitraan, serta melahirkan gagasan-gagasan inovatif yang dapat diwujudkan melalui kolaborasi nyata.
Pertemuan sederhana sering kali menjadi ruang lahirnya ide-ide besar yang mampu menjawab tantangan pembangunan daerah apabila ditindaklanjuti secara konsisten oleh seluruh pemangku kepentingan.
Semangat kebersamaan yang terbangun dalam diskusi tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya ditentukan oleh besarnya potensi yang dimiliki suatu daerah, tetapi juga oleh kemampuan seluruh elemen masyarakat untuk bekerja bersama dalam satu visi yang sama.
Kabupaten Pangkep memiliki kekayaan sumber daya kelautan, perikanan, budaya, dan pariwisata yang luar biasa. Ketika potensi tersebut dipadukan dengan penguatan sumber daya manusia, inovasi teknologi, hilirisasi produk, serta tata kelola yang kolaboratif, maka peluang untuk mewujudkan Pangkep sebagai pusat pengembangan ekonomi biru yang maju, berdaya saing, inklusif, dan berkelanjutan akan semakin terbuka.
Sebagaimana menjadi semangat yang mengemuka dalam pertemuan tersebut, kolaborasi bukan sekadar slogan, melainkan fondasi utama pembangunan.
Ketika pemerintah, akademisi, dunia pendidikan, pelaku usaha, dan masyarakat berjalan bersama, setiap potensi lokal dapat diubah menjadi kekuatan yang menghadirkan kesejahteraan, memperkuat daya saing daerah, serta mewariskan pembangunan yang berkelanjutan bagi generasi mendatang. (*)

Tinggalkan Balasan