Makassar, matasulsel.id – Suasana Minggu pagi yang tenang usai berolahraga menjadi ruang lahirnya sebuah diskusi ilmiah yang hangat dan penuh inspirasi.
Bertempat di sebuah kedai kopi di Kota Makassar, Ahad (18/7/2026), Ratnasari, S.Pi., M.Si., inovator hilirisasi rumput laut Sulawesi Selatan, berdiskusi dengan Zulung Zach Walyandra, Research Fellow Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Universitas Hasanuddin sekaligus alumni The University of Melbourne, Australia.
Pertemuan yang telah direncanakan sekitar dua pekan sebelumnya itu berlangsung dalam suasana santai, namun sarat dengan pertukaran gagasan mengenai masa depan industri rumput laut Indonesia.
Percakapan keduanya menggambarkan bagaimana ruang-ruang diskusi informal dapat menjadi media yang efektif untuk mempertemukan pengalaman lapangan dengan pendekatan ilmiah, sekaligus melahirkan perspektif baru dalam pengembangan sektor kelautan dan perikanan.
Diskusi diawali dengan saling berbagi pengalaman dan latar belakang keilmuan. Selanjutnya, pembahasan berkembang pada potensi besar rumput laut Sulawesi Selatan sebagai salah satu komoditas strategis nasional yang memiliki peluang luas untuk dikembangkan melalui pendekatan hilirisasi dan inovasi produk.
Sebagai bagian dari kegiatan penelitiannya, Zulung membawa instrumen berupa kuesioner yang digunakan untuk menggali berbagai informasi mengenai ekosistem hilirisasi rumput laut. Berbekal pendidikan Sarjana Manajemen Sumber Daya Perairan Universitas Hasanuddin serta gelar Master of Environment dari The University of Melbourne, ia menaruh perhatian pada keterkaitan antara riset, inovasi, dan pengembangan industri berbasis sumber daya kelautan.
Berbagai isu menjadi bahan diskusi, mulai dari ketersediaan bahan baku, tantangan budidaya, kualitas pascapanen, proses inovasi, pengembangan produk, perlindungan hak kekayaan intelektual, hingga strategi membangun ekosistem hilirisasi yang mampu menghasilkan nilai tambah secara berkelanjutan.
Dalam kesempatan tersebut, Ratnasari berbagi pengalaman mengenai perjalanan riset yang selama ini dijalaninya. Menurutnya, penelitian akan memberikan dampak yang lebih luas apabila tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi mampu diterjemahkan menjadi inovasi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.
Pendekatan tersebut telah ia buktikan melalui berbagai produk berbasis rumput laut yang berhasil dikembangkan, memperoleh perlindungan hak paten dan hak cipta, serta didokumentasikan dalam sejumlah buku yang menjadi bagian dari upaya diseminasi pengetahuan kepada masyarakat dan kalangan akademik.
Di tengah diskusi, Ratnasari mengajak seluruh peserta melihat persoalan hilirisasi dari sudut pandang yang lebih strategis.
“Jika dunia terus membeli rumput laut mentah dari Indonesia, seharusnya kita mulai bertanya : diapakan saja rumput laut itu hingga memiliki nilai yang jauh lebih tinggi? Setelah diolah di luar negeri, justru kita membeli kembali dalam bentuk produk jadi dengan harga yang tidak murah.”
Pernyataan tersebut menjadi refleksi mengenai pentingnya transformasi ekonomi berbasis sumber daya alam. Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen rumput laut terbesar di dunia, namun sebagian besar hasil produksi masih dipasarkan dalam bentuk bahan baku.
Kondisi ini menyebabkan nilai tambah, penguasaan teknologi, serta manfaat ekonomi yang lebih besar justru dinikmati oleh negara-negara pengolah.
Ratnasari menilai bahwa tantangan pembangunan sektor kelautan saat ini bukan terletak pada keterbatasan sumber daya manusia. Indonesia memiliki banyak peneliti, akademisi, guru besar, dan inovator dengan kapasitas keilmuan yang sangat baik. Tantangan sesungguhnya adalah membangun ekosistem yang mampu menghubungkan hasil penelitian dengan kebutuhan industri, sehingga inovasi dapat berkembang menjadi produk yang bernilai ekonomi dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat.
“Saya berharap peneliti-peneliti muda mengambil peran yang lebih besar dalam mengembangkan hilirisasi rumput laut Indonesia. Jangan biarkan kekayaan laut kita terus dipasarkan hanya sebagai bahan mentah. Sudah saatnya kita menghasilkan produk bernilai tambah, memperkuat industri nasional, sekaligus menghadirkan produk-produk sehat karya anak bangsa yang mampu bersaing di pasar global,” ujar Ratnasari.
Bagi Zulung Zach Walyandra, pertemuan tersebut menjadi kesempatan berharga untuk memperdalam pemahaman mengenai dinamika hilirisasi rumput laut dari perspektif praktisi yang telah membuktikan bahwa inovasi dapat diwujudkan hingga menjadi produk yang digunakan masyarakat. Pengalaman tersebut memperkaya proses penelitian yang sedang dilakukannya sekaligus membuka peluang kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga penelitian, pemerintah, dan pelaku inovasi.
Keduanya sepakat bahwa masa depan industri rumput laut Indonesia tidak dapat dibangun hanya melalui penelitian di laboratorium ataupun aktivitas produksi di lapangan secara terpisah.
Diperlukan sinergi yang kuat antara riset, inovasi, kebijakan, dunia usaha, dan pemberdayaan masyarakat agar kekayaan hayati laut Indonesia mampu memberikan nilai tambah yang optimal serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Pertemuan sederhana itu menjadi bukti bahwa ruang diskusi tidak selalu harus berlangsung dalam forum resmi atau ruang seminar. Dalam suasana yang hangat dan penuh keterbukaan, secangkir kopi mampu menjadi penghubung lahirnya dialog yang mempertemukan ilmu pengetahuan, pengalaman, dan semangat kolaborasi.
Dari percakapan seperti inilah sering kali tumbuh gagasan-gagasan besar yang berpotensi memperkuat daya saing industri rumput laut Indonesia sekaligus mempercepat terwujudnya ekonomi biru yang berkelanjutan. (*)

Tinggalkan Balasan