MAROS – Di balik kepakan sayap sekitar 250 ekor bebek di Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, tersimpan cerita tentang ketekunan, pemberdayaan perempuan, dan harapan yang tumbuh dari sesuatu yang kerap dianggap tidak bernilai.

 

Bagi Mariyama, beternak bebek bukan sekadar rutinitas memberi makan ternak dan mengumpulkan telur. Usaha yang telah dijalankan bersama Kelompok Usaha Peternakan Bebek Laleng Kessie selama sekitar lima tahun itu menjadi bagian penting dari upaya membangun penghidupan yang lebih baik.

 

Kini, kelompok usaha tersebut mencatat produksi rata-rata sekitar 120 butir telur per hari dengan omzet penjualan berkisar Rp5 juta per bulan.

“Telur yang dihasilkan tidak hanya dipasarkan dalam bentuk mentah, tetapi juga diolah menjadi telur asin dengan dua pilihan, yakni panggang dan rebus,” ujar Mariyama.

 

Namun, ada cerita lain yang membuat perjalanan peternakan ini lebih dari sekadar kisah usaha kecil.

 

Di tengah kebutuhan pakan yang harus dipenuhi setiap hari, Mariyama dan kelompoknya memanfaatkan sisa makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berasal dari dua lokasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

“Sisa makanan tersebut diambil dan diantarkan menggunakan kurir Pertamina untuk dimanfaatkan sebagai bagian dari kebutuhan pakan ternak,” tuturnya.

 

Sesuatu yang berpotensi menjadi sampah kini memperoleh kesempatan untuk dimanfaatkan kembali. Pada saat yang sama, kelompok peternak mendapatkan peluang untuk mengelola sumber daya secara lebih efisien.

 

Di sinilah kisah Laleng Kessie menemukan maknanya. Ada pertemuan antara pemberdayaan ekonomi masyarakat, pengelolaan limbah makanan, dan upaya membangun praktik usaha yang lebih berkelanjutan.

 

Dukungan Pertamina melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), yang diterima kelompok usaha pada akhir 2023, turut menjadi bagian dari perjalanan pengembangan peternakan tersebut.

“Kami dapat bantuan dari Pertamina itu sekitar akhir tahun 2023, jadi sudah berjalan lima tahunan,” jelasnya.

 

Bagi Mariyama, bantuan itu bukan sekadar dukungan untuk usaha yang sedang dijalankan.

Ia menjadi bagian dari kesempatan untuk menjaga produktivitas, memperkuat kegiatan ekonomi, dan terus mengembangkan usaha yang telah dirintis bersama kelompoknya.

 

Dari kandang sederhana di Kabupaten Maros, cerita ini menunjukkan bahwa keberlanjutan dapat tumbuh melalui langkah-langkah yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Dari ternak yang dipelihara, telur yang diolah, hingga sisa makanan yang dimanfaatkan, setiap bagian memiliki potensi untuk menciptakan nilai.

Program TJSL Pertamina
Budidaya bebek petelur

Lima Tahun Menjaga Asa

 

Kelompok Usaha Peternakan Bebek Laleng Kessie telah melewati sekitar lima tahun perjalanan. Waktu yang cukup panjang untuk memahami bahwa beternak membutuhkan lebih dari sekadar kemauan.

 

Ada pekerjaan yang harus dilakukan setiap hari. Ketersediaan pakan perlu dijaga, kandang harus dirawat, kesehatan ternak diperhatikan, dan hasil produksi dipastikan dapat dipasarkan.

“Bukan cuma itu, tim Pertamina juga memberikan arahan agar bebek-bebek itu juga di vaksin, di cek kesehatannya,” terang Mariyama sembari tersenyum seakan nampak rasa bangga dan percaya diri terhadap ternaknya yang terjamin kesehatannya.

 

Saat ini, jumlah ternak yang dipelihara kelompok tersebut mencapai sekitar 250 ekor bebek. Populasi itu menjadi bagian dari usaha yang terus dikembangkan untuk menghasilkan telur dan menopang kegiatan ekonomi kelompok.

 

Dalam peternakan, produktivitas tidak selalu berjalan stabil. Ada masa ketika bebek menghasilkan telur secara rutin, tetapi ada pula periode jeda bertelur yang dapat berlangsung sekitar satu bulan.

 

Pada masa tersebut, kebutuhan pemeliharaan tetap berjalan meskipun hasil yang bisa dijual berkurang. Kondisi ini menuntut peternak untuk mengelola biaya dengan cermat agar usaha tetap bertahan.

 

Kelompok usaha Laleng Kessie juga melakukan peremajaan ternak secara berkala, sekitar dua tahun sekali, sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan produksi.

 

Semua itu menunjukkan bahwa usaha peternakan memiliki tantangan yang tidak selalu terlihat dari luar. Di balik telur yang tersusun rapi untuk dijual, ada proses pemeliharaan, pengelolaan biaya, dan keputusan usaha yang harus diambil secara berkelanjutan.

 

Bagi Mariyama, setiap hasil produksi memiliki arti. Telur yang terkumpul menjadi produk yang dapat dipasarkan, sedangkan penjualannya membantu menjaga perputaran usaha.

 

Kelompok tersebut tidak berhenti pada penjualan telur mentah. Sebagian hasil peternakan diolah menjadi telur asin dengan dua pilihan penyajian, yakni panggang dan rebus.

 

Pengolahan ini memberikan nilai tambah terhadap hasil ternak. Konsumen memperoleh pilihan produk, sementara kelompok usaha memiliki peluang untuk mengembangkan pemasaran melalui produk olahan.

 

Dalam usaha kecil, nilai tambah menjadi salah satu cara untuk memperkuat daya saing. Pengembangan usaha tidak selalu harus dilakukan dengan menambah jumlah ternak, tetapi juga dapat melalui peningkatan kualitas produk, pengolahan, pengemasan, dan perluasan pasar.

 

Produk peternakan Laleng Kessie dipasarkan ke sejumlah wilayah, termasuk Makassar, Maros, dan Gowa. Jangkauan pemasaran tersebut memperlihatkan bahwa usaha yang berawal dari lingkungan masyarakat memiliki peluang untuk menjangkau konsumen di wilayah yang lebih luas.

 

Dengan harga sekitar Rp3.000 per butir untuk telur yang dijual, kegiatan pemasaran menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan usaha.

 

Di balik aktivitas tersebut, Mariyama dan kelompoknya terus berupaya mempertahankan produksi agar dapat memenuhi permintaan pasar sekaligus menjaga perputaran pendapatan.

 

Bantuan yang Membuka Peluang

 

Perjalanan kelompok usaha Laleng Kessie memperoleh dukungan baru pada akhir 2023, ketika menerima bantuan dari Pertamina melalui program TJSL.

 

Dukungan tersebut menjadi salah satu bagian dari proses pengembangan peternakan yang telah dijalankan selama beberapa tahun.

 

Bagi kelompok usaha masyarakat, bantuan dapat membuka peluang untuk memperkuat kapasitas produksi. Namun, keberlanjutan usaha tetap bergantung pada kemampuan penerima manfaat dalam mengelola sumber daya, menjaga kualitas, dan mempertahankan pasar.

 

Dalam perjalanan peternakan Laleng Kessie, produksi telur yang sebelumnya sekitar 50 butir per hari dilaporkan meningkat hingga rata-rata sekitar 120 butir per hari.

 

Peningkatan tersebut memperlihatkan perkembangan kapasitas produksi yang berarti bagi kelompok usaha. Jumlah telur yang lebih banyak memberikan peluang untuk memenuhi kebutuhan konsumen sekaligus menyediakan bahan baku bagi pengolahan telur asin.

 

Meski demikian, produktivitas tetap dipengaruhi kondisi ternak dan siklus bertelur. Perencanaan pakan, pemeliharaan kesehatan, dan pengelolaan biaya menjadi bagian penting untuk mempertahankan hasil produksi.

 

Di sisi pemasaran, kelompok usaha perlu memastikan bahwa telur yang dihasilkan dapat terserap pasar. Produksi yang meningkat akan memberikan manfaat optimal ketika diikuti pengelolaan penjualan yang baik.

 

Bagi Mariyama, perkembangan usaha tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang untuk menjaga sumber penghidupan melalui peternakan.

 

Dari usaha itu, kelompok memperoleh omzet sekitar Rp5 juta per bulan. Angka tersebut merupakan omzet penjualan yang dikumpulkan, bukan laba bersih yang diterima setelah seluruh biaya operasional dikurangi.

 

Pembedaan ini penting karena usaha peternakan tetap membutuhkan pengeluaran untuk pakan, pemeliharaan, pengolahan telur, dan kebutuhan operasional lainnya.

 

Meski demikian, omzet tersebut menggambarkan adanya aktivitas ekonomi yang terus bergerak. Hasil produksi dikumpulkan, dipasarkan, dan menghasilkan penerimaan yang digunakan untuk menopang kelangsungan usaha.

 

Mariyama menyampaikan terima kasih kepada Pertamina atas bantuan yang diberikan. Dukungan itu menjadi bagian dari perjalanan kelompok dalam menjaga dan mengembangkan usaha peternakan.

 

Pada akhirnya, keberhasilan pemberdayaan bukan hanya ditentukan oleh bantuan yang diberikan, melainkan juga oleh kemampuan masyarakat memanfaatkan dukungan tersebut untuk membangun kemandirian.

 

Dua SPPG, Satu Peluang Baru

 

Salah satu bagian paling menarik dari perjalanan peternakan Laleng Kessie adalah pemanfaatan sisa makanan dari dua lokasi SPPG yang melayani program MBG.

 

Sisa makanan dari kedua lokasi tersebut diambil dan diantarkan oleh kurir Pertamina untuk dimanfaatkan sebagai bagian dari kebutuhan pakan bebek.

 

Pola pengumpulan dan pengantaran ini menjadi bagian penting dalam cerita pemanfaatan limbah. Sisa makanan tidak hanya tersedia di lokasi asalnya, tetapi juga memerlukan proses pengambilan dan pengangkutan agar dapat dimanfaatkan oleh kelompok peternak.

 

Dengan adanya pengantaran tersebut, kelompok usaha memperoleh akses terhadap sisa makanan dari dua sumber. Pemanfaatannya kemudian menjadi bagian dari upaya memenuhi kebutuhan pakan ternak yang dipelihara.

 

Dalam kegiatan peternakan, pakan merupakan salah satu kebutuhan operasional yang harus diperhitungkan secara berkelanjutan. Ketersediaannya berpengaruh terhadap kesehatan ternak dan produktivitas telur.

 

Karena itu, upaya mencari alternatif bahan pakan dapat menjadi bagian dari strategi pengelolaan usaha, selama bahan yang digunakan memenuhi persyaratan keamanan dan kebutuhan nutrisi ternak.

 

Di sisi lain, pengelolaan sisa makanan merupakan tantangan yang membutuhkan perhatian. Sisa pangan yang tidak dikelola dengan baik dapat menambah beban sampah, menimbulkan bau, dan mengundang hama.

 

Pemanfaatan kembali bahan yang masih layak membuka peluang untuk mengurangi pemborosan sumber daya. Dalam konteks ini, sisa makanan dari dua SPPG memperoleh kemungkinan penggunaan baru melalui kegiatan peternakan.

 

Pendekatan tersebut sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular, yakni mempertahankan nilai suatu sumber daya melalui pemanfaatan kembali dan pengurangan bahan yang terbuang.

 

Namun, tidak semua sisa makanan otomatis layak dijadikan pakan. Bahan yang dikumpulkan harus melalui pemilahan dan pemeriksaan untuk memastikan tidak tercampur benda asing, bahan berbahaya, atau makanan yang telah rusak.

 

Penggunaannya juga perlu memperhatikan keseimbangan nutrisi. Sisa makanan tidak dapat serta-merta menggantikan seluruh kebutuhan pakan bebek, sehingga pengelolaannya harus disesuaikan dengan kebutuhan ternak dan praktik peternakan yang aman.

 

Prinsip tersebut penting agar upaya mengurangi limbah tidak menimbulkan persoalan baru terhadap kesehatan hewan maupun keamanan produk telur.

 

Dengan tata kelola yang baik, pemanfaatan sisa makanan berpotensi memberikan manfaat ganda. Bahan yang memenuhi persyaratan memperoleh kegunaan baru, sementara kelompok peternak mendapatkan alternatif untuk membantu memenuhi kebutuhan pakan.

 

Keberadaan kurir yang mengantarkan sisa makanan dari dua lokasi SPPG juga memperlihatkan bahwa pemanfaatan limbah membutuhkan rangkaian kegiatan yang terorganisasi. Pengumpulan, pengangkutan, pemeriksaan, dan pemanfaatan merupakan bagian dari proses yang perlu dikelola secara konsisten.

 

Ke depan, manfaat lingkungan dari kegiatan tersebut dapat diperkuat melalui pencatatan jumlah sisa makanan yang dikumpulkan dan dimanfaatkan. Data itu dapat membantu menunjukkan seberapa banyak bahan yang berhasil dialihkan dari jalur pembuangan.

 

Dampak ekonominya juga dapat dievaluasi melalui pencatatan biaya pakan sebelum dan sesudah pemanfaatan sisa makanan, termasuk biaya pengumpulan dan penanganan.

 

Dengan demikian, inovasi tidak hanya memiliki nilai cerita, tetapi juga dapat dinilai berdasarkan manfaat nyata bagi usaha dan lingkungan.

 

Ketika Sampah Menjadi Sumber Daya

 

Bagi masyarakat, sisa makanan sering kali dianggap sebagai sesuatu yang tidak lagi memiliki nilai. Setelah kebutuhan konsumsi terpenuhi, bahan yang tersisa kerap berakhir sebagai sampah.

 

Padahal, sebagian sisa pangan masih berpotensi dimanfaatkan apabila dikelola sesuai jenis, kondisi, dan peruntukannya.

 

Cerita Laleng Kessie memperlihatkan bagaimana persoalan limbah dapat dihubungkan dengan kebutuhan ekonomi masyarakat. Sisa makanan dari dua SPPG dikumpulkan dan diantarkan kepada kelompok peternak untuk dimanfaatkan sebagai bagian dari pakan bebek.

 

Pendekatan ini membuka ruang bagi pemanfaatan sumber daya secara lebih efisien. Namun, keberhasilannya tidak cukup dinilai hanya dari adanya sisa makanan yang digunakan kembali.

 

Aspek keamanan, konsistensi pasokan, kesesuaian nutrisi, dan dampak terhadap biaya usaha perlu menjadi perhatian.

 

Pengelolaan yang baik juga memerlukan komunikasi antara sumber sisa makanan, petugas pengangkutan, dan penerima manfaat. Setiap pihak perlu memahami standar pemilahan dan penanganan agar bahan yang sampai kepada peternak tetap layak dimanfaatkan.

 

Jika sistem tersebut berjalan secara konsisten, kegiatan ini berpotensi menjadi pembelajaran bagi pengembangan program pengelolaan limbah berbasis masyarakat.

 

Bagi kelompok usaha Laleng Kessie, manfaat yang paling dekat adalah peluang untuk mengoptimalkan sumber daya yang tersedia. Bagi lingkungan, manfaat potensialnya terletak pada pengurangan sisa pangan yang terbuang.

 

Kedua manfaat tersebut perlu terus dievaluasi agar program dapat dikembangkan berdasarkan data dan kebutuhan lapangan.

 

Inilah esensi inovasi yang berkelanjutan: bukan hanya menemukan cara baru untuk memanfaatkan sesuatu, melainkan memastikan cara tersebut aman, efektif, dan memberikan manfaat yang dapat dipertahankan.

 

TJSL dan Jalan Menuju Kemandirian

 

Program TJSL memiliki peran penting dalam menghubungkan dukungan perusahaan dengan kebutuhan masyarakat. Dalam pelaksanaannya, program dapat diarahkan untuk memperkuat ekonomi, meningkatkan kapasitas usaha, dan mendorong praktik pengelolaan lingkungan yang lebih bertanggung jawab.

 

Dalam perjalanan peternakan Laleng Kessie, bantuan Pertamina pada akhir 2023 menjadi salah satu bagian dari upaya pengembangan usaha masyarakat.

 

Namun, keberhasilan program perlu dilihat secara lebih luas daripada jumlah bantuan yang disalurkan. Perubahan kapasitas produksi, omzet, kemampuan mempertahankan pasar, serta pengelolaan sumber daya merupakan bagian yang penting untuk dievaluasi.

 

Bantuan menjadi awal dari proses. Setelah itu, penerima manfaat perlu memiliki kemampuan untuk mengelola usaha, mengembangkan produk, memperhitungkan biaya, dan menghadapi tantangan produksi.

 

Pada usaha peternakan, penguatan kapasitas dapat mencakup pengelolaan kesehatan ternak, kualitas pakan, kebersihan kandang, pengolahan telur, dan pemasaran.

 

Sementara itu, pemanfaatan sisa makanan membutuhkan tata kelola yang memperhatikan keselamatan ternak, kualitas bahan, serta pencatatan jumlah limbah yang digunakan.

 

Penguatan tersebut akan membantu kelompok usaha melihat perkembangan secara lebih terukur. Catatan produksi harian, omzet bulanan, biaya operasional, dan jumlah sisa makanan yang dimanfaatkan dapat menjadi dasar evaluasi.

 

Data juga dapat membantu membedakan hasil yang berasal dari peningkatan produksi, pengembangan pasar, atau efisiensi biaya.

 

Dengan pendekatan ini, cerita pemberdayaan tidak berhenti pada pengalaman penerima bantuan, tetapi dapat menunjukkan perubahan yang lebih jelas dari waktu ke waktu.

 

Bagi Mariyama, perjalanan peternakan yang telah berlangsung sekitar lima tahun merupakan bukti bahwa usaha membutuhkan ketekunan dan kemampuan beradaptasi. Dukungan yang diterima menjadi salah satu bagian dari perjalanan tersebut, sementara pengelolaan sehari-hari tetap menjadi tanggung jawab kelompok usaha.

 

Di situlah makna kemandirian tumbuh. Masyarakat memperoleh kesempatan untuk mengembangkan usaha, kemudian membangun kemampuan agar manfaatnya terus berjalan.

Mengolah telur bebek
Proses pembuatan telur asin

Harapan dari Kecamatan Mandai

 

Di Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros, aktivitas peternakan Laleng Kessie berlangsung melalui pekerjaan yang sederhana tetapi membutuhkan konsistensi.

 

Sekitar 250 ekor bebek dipelihara. Produksi telur mencapai rata-rata sekitar 120 butir per hari. Telur dipasarkan dalam bentuk mentah maupun diolah menjadi telur asin panggang dan rebus. Dari kegiatan penjualan tersebut, omzet usaha berkisar Rp5 juta per bulan.

 

Pada saat yang sama, sisa makanan dari dua lokasi SPPG yang diantarkan oleh kurir Pertamina dimanfaatkan sebagai bagian dari kebutuhan pakan ternak.

 

Rangkaian aktivitas itu memperlihatkan hubungan antara ekonomi masyarakat dan pengelolaan sumber daya. Hasil peternakan memberikan peluang pendapatan, sementara pemanfaatan sisa makanan membuka ruang untuk mengurangi pemborosan.

 

Tantangan tentu masih ada. Produktivitas bebek dapat berubah, biaya pemeliharaan harus dikendalikan, dan pemasaran perlu dijaga. Pemanfaatan sisa makanan pun membutuhkan tata kelola yang aman agar tidak mengganggu kesehatan ternak.

 

Namun, perjalanan tersebut memberikan pelajaran bahwa keberlanjutan tidak selalu dimulai dari teknologi yang rumit atau investasi besar. Ia juga dapat tumbuh dari kemampuan masyarakat membaca peluang di lingkungan sekitarnya.

 

Bagi Mariyama, peternakan merupakan usaha yang terus dirawat agar dapat memberikan manfaat. Setiap telur yang dikumpulkan menjadi bagian dari hasil kerja sehari-hari, sedangkan setiap upaya mengelola pakan menjadi bagian dari ikhtiar mempertahankan usaha.

 

Bantuan Pertamina melalui program TJSL menjadi salah satu bagian dari cerita tersebut. Dukungan itu memperoleh makna ketika diikuti upaya masyarakat untuk menjaga produktivitas dan mengembangkan usaha secara berkelanjutan.

 

Pada akhirnya, kisah Laleng Kessie bukan hanya tentang bebek, telur, atau sisa makanan. Ini adalah cerita tentang bagaimana peluang dapat ditemukan ketika masyarakat memperoleh dukungan dan memiliki ruang untuk mengembangkan kemampuannya.

 

Sisa makanan yang semula berpotensi terbuang memperoleh kemungkinan penggunaan baru. Hasil peternakan diolah menjadi produk bernilai tambah. Usaha kecil terus dijaga agar mampu menghasilkan omzet dan mempertahankan penghidupan.

 

Dari Kecamatan Mandai, harapan itu tumbuh melalui langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten.

 

Sebab, keberlanjutan bukan sekadar tentang mengurangi sampah atau meningkatkan produksi. Ia juga tentang menjaga agar sumber daya tidak terbuang percuma, usaha masyarakat tetap memiliki kesempatan berkembang, dan manfaat program dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Dari limbah, tumbuh harapan. Dari usaha kecil, terbuka peluang. Dan dari kerja yang dilakukan bersama, perubahan memiliki kesempatan untuk bertahan lebih lama.