Oleh: Jurnalisme Warga (Citizen Journalism)

JENEPONTO, matasulsel – Ahad pagi di Taman Turatea Simpang Lima, Kelurahan Empoang, selalu punya cerita tersendiri. Di bawah langit cerah akhir Juni 2026, kawasan ini menjelma menjadi ruang publik yang luar biasa hidup.

Ratusan pasang kaki bergerak lincah mengikuti ritme senam sehat dari instruktur IOC di bawah naungan KORMI Kabupaten Jeneponto. Di sisi lain taman, gemerisik dedaunan mengiringi langkah para pelari di jogging track, sementara tawa anak-anak pecah saat mencoba sensasi berkuda dan memanah yang dihadirkan oleh komunitas Turatea Horseback Archery.

Tidak hanya itu, Car Free Day (CFD) Jeneponto kini telah berkembang melampaui tempat olahraga. Di sudut-sudut strategis, tampak layanan jemput bola seperti Samsat Keliling, hingga lapak-lapak baca dari Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang konsisten menggerakkan literasi di tengah hiruk-pikuk warga.

Di sepanjang koridor, puluhan pelaku UMKM menata jajanan mereka dengan rapi dan higienis.
Di balik harmoni ini, ada komitmen kolektif dari masyarakat yang tergabung dalam Paguyuban CFD Jeneponto.

Berikut adalah obrolan mendalam namun santai bersama Wawan Sentul dan kawan-kawan, penggerak yang memilih berpeluh demi menjaga konsistensi ruang publik ini agar tetap inklusif dan berkelanjutan.

Bagaimana sebenarnya awal mula inisiatif ini terbentuk, hingga kita melihat CFD hari ini tumbuh menjadi ruang publik yang begitu dinamis

Wawan Sentul:
“Semua ini berawal dari pengamatan sederhana di lapangan. Kami melihat CFD di Jeneponto punya potensi besar, bukan sekadar tempat berkumpul pasca-olahraga, melainkan ruang inklusif yang mempertemukan semua lapisan masyarakat secara setara.

Ada silaturahmi yang hidup di sini. Namun, agar kenyamanan itu terjaga dan pelaku UMKM bisa berdaya dengan tertib, perlu ada wadah koordinasi. Itulah mengapa kami bersama teman-teman membentuk paguyuban ini.

Tujuannya satu : menjaga agar ruang publik ini tetap tertata, aman, dan terus memberikan dampak positif.”

Menjaga konsistensi kegiatan mingguan seperti ini tentu tidak mudah. Apa bahan bakar utama yang membuat Anda dan kawan-kawan di Paguyuban tetap bersemanga

Wawan Sentul:
“Bahan bakar utamanya adalah kepedulian dan rasa kepemilikan bersama (sense of belonging). Kami melihat langsung bagaimana CFD ini menjadi tumpuan harapan baru.

Banyak pelaku UMKM kecil yang mengandalkan perputaran modal dan tambahan penghasilan akhir pekan mereka di sini. Ketika melihat senyum para pedagang yang dagangannya laku, anak-anak yang ceria belajar literasi, hingga warga yang bugar selepas senam, ada kepuasan batin yang tidak bisa dinilai dengan uang.

Semangat gotong royong warga Jeneponto inilah yang ingin kami rawat agar CFD menjadi ikon kebanggaan kita bersama.”

Sinergi Lintas Sektor: Apresiasi untuk Para Penjaga Konsistensi
Keberhasilan CFD menjaga kenyamanan dan ketertiban ini tentu tidak lepas dari peran pihak-pihak di balik layar. Siapa saja yang ingin Anda apresiasi secara khusus?

Wawan Sentul: “Betul sekali, CFD ini adalah kerja besar multisektoral. Kami ingin menghaturkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Jeneponto, khususnya Bapak Bupati beserta seluruh jajaran OPD. Secara khusus, apresiasi mendalam kami sampaikan kepada Dinas Lingkungan Hidup yang terintegrasi dengan Dinas Kebersihan. Berkat kesigapan petugas mereka, Taman Turatea ini tetap asri, teduh, dan yang paling penting, bebas dari sampah pasca-kegiatan.

Lingkungan yang nyaman ini membuat warga betah. Kami juga sangat berterima kasih kepada Dinas Perhubungan Kabupaten Jeneponto. Teman-teman Dishub begitu konsisten menjaga barikade jalur, memastikan kawasan Simpang Lima ini benar-benar steril dari kendaraan bermotor selama pelaksanaan CFD, sehingga memberikan rasa aman mutlak bagi pejalan kaki dan anak-anak yang bermain.”

Ekosistem Multi-Manfaat : Dari Ekonomi, Layanan Publik, hingga Literasi

Menarik melihat CFD hari ini tidak lagi sekadar urusan olahraga dan kuliner. Ada Samsat, ada kegiatan berkuda, bahkan ada lapak baca. Bagaimana Anda memandang perkembangan ini?

Wawan Sentul: “Inilah esensi dari ruang publik yang adaptif dan edukatif. CFD Jeneponto kini bertransformasi menjadi pusat layanan dan edukasi yang ringan namun berdampak besar. Kehadiran layanan seperti Samsat sangat membantu warga mengurus keperluan administrasi sambil berolahraga.
Dari sisi pelestarian olahraga sunnah dan minat bakat, teman-teman dari Turatea Horseback Archery dan KORMI memberikan warna yang luar biasa.

Yang paling menyentuh adalah hadirnya gerakan literasi dari teman-teman Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Mereka menyediakan buku bacaan gratis di ruang terbuka. Ini edukasi yang sangat alami; anak-anak bermain, lalu mereka tertarik membaca. Jadi, di CFD ini, fisik kita sehat karena olahraga, ekonomi berputar karena UMKM, dan wawasan bertambah lewat ruang edukasi dan literasi.”

Jika kita berbicara tentang keberlanjutan (sustainability) jangka panjang, baik dari segi perputaran ekonomi daerah maupun potensi wisata (weekend tourism), bagaimana paguyuban memandangnya? Dan siapa yang idealnya mengelola ke depan?

Wawan Sentul: “Kami melihat CFD ini sudah menjadi embrio weekend tourism atau wisata akhir pekan yang potensial di Jeneponto. Perputaran ekonominya sangat riil dan dirasakan langsung oleh masyarakat bawah. Namun, untuk melangkah ke tahap yang lebih sustain dan berdampak pada pendapatan daerah, pengelolaannya memang harus naik kelas menjadi lebih profesional.

Ke depan, kami sangat berharap ada kolaborasi strategis antara Dinas Koperasi dan UMKM, Dinas Pariwisata, serta Dinas Kepemudaan dan Olahraga. Jika ketiga sektor ini duduk bersama membuat regulasi atau badan pengelola terpadu—dengan tetap menggandeng paguyuban sebagai pelaksana di lapangan—maka penataan UMKM akan lebih terarah, promosi wisata daerah berbasis kuliner dan budaya berkuda akan lebih masif, dan agenda olahraga akan lebih terjadwal dengan baik.”

Sebagai penutup obrolan jurnalisme warga kita pagi ini, apa pesan kunci yang ingin Anda sampaikan kepada seluruh masyarakat dan pemangku kebijakan

Wawan Sentul: “Kembali kami tegaskan, kami di Paguyuban CFD bergerak secara swadaya tanpa mencari keuntungan pribadi. Harapan kami murni: ingin melihat ruang publik ini tetap hidup, tertata, dan menjadi berkah seluas-luasnya bagi warga Jeneponto. Sinergi antara pemerintah daerah yang suportif, komunitas yang aktif, dan pelaku UMKM yang tertib adalah kunci.

Mari kita jaga bersama keasrian Taman Turatea dan konsistensi CFD ini demi kemajuan daerah yang kita cintai.” (*)