MAKASSAR – Langit malam Sulawesi Selatan menjadi saksi operasi pemindahan besar-besaran yang dilakukan dengan pengamanan super ketat. Sebanyak 79 narapidana kategori risiko tinggi dari berbagai lembaga pemasyarakatan di Sulsel, digiring secara diam-diam menuju “Alcatraz-nya Indonesia” Pulau Nusakambangan.

Mereka bukan napi biasa. Sebagian besar tercatat sebagai bandar narkoba kelas kakap, pembunuh sadis, hingga residivis yang kerap membuat onar di dalam bui. Kini, seluruhnya harus pasrah diboyong ke penjara paling ekstrem di Tanah Air.

Jumat malam (17/7/2026), pukul 21.00 WITA, rombongan bertolak dari Lapas Kelas IIB Maros. Dalam pengawalan 25 personel Satbrimob Gegana yang bersenjata lengkap, serta 32 petugas khusus dari Ditjenpas, para napi dikawal bagaikan mengangkut barang berbahaya.

Rute yang ditempuh pun penuh intrik: dari Pelabuhan Soekarno Hatta Makassar menuju Tanjung Perak Surabaya, transit di Lapas Kelas I Surabaya, lalu kembali melanjutkan perjalanan laut menuju “Pulau Penjara” yang ditakuti.

Brigjen Pol. Tatan Dirsan Atmaja, Direktur Pengamanan dan Intelijen Ditjenpas, langsung memimpin pengawalan selama perjalanan laut. Ia memastikan setiap sudut kapal disterilkan, napi ditempatkan di titik-titik aman, dan pengawasan dilakukan secara berlapis.

“Ini operasi zero tolerance. Tidak ada celah untuk kabur atau membuat kericuhan. Kami buktikan bahwa negara hadir dengan tangan besi,” tegasnya.

Setibanya di Nusakambangan, para napi langsung menjalani proses “sambutan” super ketat. Pemeriksaan administrasi, tes kesehatan, dan penggeledahan total dilakukan sebelum mereka dijebloskan ke sel-sel baru:

– Lapas Karanganyar — 15 napi
– Lapas Pasir Putih — 26 napi
– Lapas Batu — 4 napi
– Lapas Gladakan — 10 napi
– Lapas Ngaseman — 6 napi
– Lapas Narkotika Nusakambangan — 8 napi
– Lapas Besi — 10 napi

Kepala Kanwil Ditjenpas Sulsel, Mulyadi, menegaskan bahwa pemindahan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan bagian dari strategi perang total melawan kejahatan di dalam lapas.

“Kami tidak main-main. Napi-napi ini adalah ancaman serius. Dengan ditempatkan sesuai risiko, pembinaan bisa lebih efektif, dan masyarakat bisa lebih tenang karena para ‘monster’ sudah kami kunci di tempat paling aman,” ujarnya dengan nada tegas.

Hingga berita ini diturunkan, seluruh proses pemindahan dinyatakan aman, tertib, dan sukses. Tidak ada satu pun napi yang melawan, tidak ada insiden yang mencoreng keamanan.

Nusakambangan kembali membuktikan diri sebagai benteng terakhir pemasyarakatan Indonesia.

Apakah ini akhir dari karier kriminal mereka? Atau justru awal dari babak baru pembinaan? Yang jelas, negara tidak akan memberi ruang bagi para napi risiko tinggi untuk bermain-main lagi. (*)