MAKASSAR – Di sebuah kampung di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, ada anggapan yang telah lama melekat bahwa perempuan yang lulus SMA pada akhirnya hanya akan berujung di pelaminan. Kalimat, “ijazah SMA ujung-ujungnya di KUA,” menjadi pandangan yang dianggap lumrah.
Namun, anggapan itu perlahan mulai berubah berkat perjalanan hidup Nuraenun atau yang akrab disapa Ainun, seorang Account Officer (AO) PT Permodalan Nasional Madani (PNM) Mekaar.
Ainun merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara yang tumbuh dalam keluarga sederhana.
Di tengah kondisi ekonomi yang sulit dan ayah yang tengah berjuang melawan penyakit hingga harus menjalani kemoterapi rutin, ia memilih jalan berbeda dari kebanyakan perempuan di kampungnya.
Alih-alih segera menikah setelah lulus SMA, Ainun bertekad bekerja agar dapat mandiri sekaligus membantu keluarganya.
Kesempatan itu datang pada awal 2023 ketika Ainun melihat informasi rekrutmen PNM Mekaar yang dibagikan melalui grup WhatsApp alumni sekolahnya.
Meski tanpa ekspektasi besar, ia memberanikan diri mendaftar hingga akhirnya dipanggil mengikuti pelatihan. Perjalanan menuju titik itu pun penuh perjuangan.
Karena belum memiliki kendaraan, sang ibu bahkan harus meminjam sepeda motor milik tetangga untuk mengantarkannya mengikuti pelatihan.
Di sepanjang perjalanan, Ainun mendengar ibunya berpesan kepada sang tante agar menjaga dirinya baik-baik, sebab keluarga sebenarnya telah menyiapkan rencana pernikahan untuknya.
Pesan sederhana itu justru menjadi penyemangat bagi Ainun untuk membuktikan bahwa pilihannya bekerja bukanlah sebuah kesalahan.
Sejak resmi bergabung sebagai Account Officer PNM pada 23 Maret 2023, Ainun merasakan perubahan besar dalam hidupnya.
PNM tidak hanya memberinya pekerjaan, tetapi juga ruang untuk berkembang, belajar menghadapi tantangan, sekaligus mengasah kemampuan mendampingi para perempuan pelaku usaha ultra mikro yang menjadi nasabah PNM Mekaar.
Setiap hari ia bertemu kelompok-kelompok usaha, mendampingi para ibu mengembangkan usahanya, dan menyaksikan langsung semangat mereka dalam memperbaiki taraf hidup keluarga.
Tiga tahun menjalani profesi tersebut, Ainun kini mampu membantu biaya pengobatan ayahnya.
Namun, menurutnya, pencapaian terbesar bukanlah penghasilan yang diperoleh, melainkan perubahan cara pandang masyarakat di kampung halamannya.
Ijazah SMA yang dahulu dianggap hanya akan bermuara di Kantor Urusan Agama (KUA), kini menjadi simbol bahwa perempuan juga mampu berkarya, mandiri, dan memberikan manfaat bagi keluarga maupun lingkungan sekitarnya.
“Dari nasabah saya belajar, sedikit atau banyak rezeki harus tetap disyukuri karena semua sudah diatur sesuai porsinya,” ujar Ainun.
Kisah Ainun merupakan satu dari lebih dari 43 ribu Account Officer PNM yang setiap hari mendampingi jutaan perempuan prasejahtera di berbagai daerah di Indonesia.
Peran mereka tidak hanya memastikan akses pembiayaan bagi pelaku usaha ultra mikro, tetapi juga menjadi pendamping yang membantu membangun kepercayaan diri, semangat berusaha, dan harapan baru bagi para perempuan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarganya.
Melalui perjalanan Ainun, PNM menunjukkan bahwa pemberdayaan tidak hanya dirasakan oleh para nasabah, tetapi juga oleh para pendampingnya.
Kesempatan bekerja, berkembang, dan mengabdi telah melahirkan perubahan nyata, sekaligus membuktikan bahwa mimpi perempuan tidak harus berhenti setelah lulus sekolah.
Sebaliknya, pendidikan dapat menjadi langkah awal menuju kehidupan yang lebih mandiri, produktif, dan penuh manfaat bagi banyak orang.

Tinggalkan Balasan