JENEPONTO, matasulsel.id – Riuh rendah suara geseran 29 kursi langsung memecah keheningan pagi di kelas 3A SD IT Ulul Albab Wahdah Islamiyah Kabupaten Jeneponto.

Bagi sebagian orang, menghadapi 29 anak laki-laki dalam satu ruangan mungkin adalah sebuah ujian nyali, namun bagi Ustadzah Tri Handayani, itu adalah awal dari petualangan cinta yang tak akan pernah dilupakannya.
Sebagai satu-satunya perempuan di kelas itu, Ustadzah Tri sering berseloroh bahwa dialah yang “paling cantik” di sana. “Kalau mereka sudah ramai, ramenya kuadrat. Kalau sudah heboh, sekampung bisa dengar,” kenangnya sambil tersenyum.

Namun di balik telinga yang berdenging dan teriakan khas anak-anak, ada ikatan batin yang begitu dalam.

Mengajar dengan Hati, Mendengar dengan Jiwa. Ustadzah Tri punya rumus sendiri dalam mendidik. Ketika kelas mulai tidak terkendali, alih-alih berteriak “Diam!”, ia memilih mengetuk hati mereka dengan lembut.
“Pagi anak-anak Ustadzah. Hari ini kita mau jadi anak hebat apa anak berisik?” tanya Ustadzah Tri setiap pagi.
“Anak hebat, Ustadzah!” jawab mereka kompak, meski lima menit kemudian ruangan kembali dipenuhi goyangan kursi dan bisikan cerita.

Ustadzah Tri tidak marah, ia ikut tertawa bersama mereka, lalu mengingatkan kembali dengan pelan.
Di kelas 3A, pelajaran Matematika bisa mendadak berubah menjadi debat seru antara kubu pencinta cilok vs permen. Pelajaran IPA pun tak jarang bertransformasi menjadi sidang pleno formal hanya untuk membahas “kenapa katak bisa meloncat”.

Ustadzah Tri menikmati setiap detiknya. Jika ada murid yang menjawab melenceng, kalimat “Kamu salah” pantang keluar dari lisannya. Ia memilih mengapresiasi, “Wah, idenya keren! Sekarang, kita cek bareng di buku yuk.”
Ada juga si “Paling Heboh” yang hobinya berteriak.

Namun, Ustadzah Tri tahu betul bahwa di balik energi meluap itu, tersimpan jiwa penolong yang tinggi. Cukup dengan bisikan lembut, “Nak, tenaganya dipakai buat nolongin temen aja ya, sayang,” anak tersebut berubah menjadi garda terdepan yang paling sigap menolong dan melapor jika ada temannya yang terjatuh di lapangan bola.

Di lapangan itu pula, tanpa wasit resmi, 29 anak laki-laki ini belajar tentang keadilan sejati. Ketika ada yang curang, mereka sendiri yang membela kebenaran dengan berteriak, “3A nggak gitu caranya!” Sementara Ustadzah Tri setia duduk di pinggir lapangan, bersiap dengan obat merah untuk lutut-lutut yang lecet.

Air Mata di Hari Pembagian Rapor. Waktu setahun berjalan begitu cepat, bak satu hari yang tak ingin diselesaikan, hari perpisahan dan penerimaan rapor pendidikan pun tiba. Suasana kelas yang biasanya bergemuruh mendadak hening berganti haru.

Sambil menahan air mata yang tetap saja lolos membasahi pipi, Ustadzah Tri menyampaikan untaian terima kasih yang mendalam kepada anak-anak walinya:

“Makasih ya sudah selalu bagiin Ustadzah makanan. Makasih kalian paling perhatian sama Ustadzah, terima kasih sudah menjadi murid yang patuh, sopan, cerdas, humoris, dan kompak. Ustadzah bangga kalian sekarang sudah berani maju ke depan tanpa rasa malu.”

Mendengar kalimat itu, 29 anak laki-laki yang biasanya tak bisa diam, seketika tertunduk dengan wajah sedih. Si anak paling heboh berjalan mendekat, mencium tangan Ustadzah Tri dengan takzim dan lama, lalu berbisik, “Ustadzah, 3A nggak akan lupa Ustadzah.”*

Momen penyerahan rapor pun berlangsung sangat emosional dan komprehensif. Setiap orang tua dan murid dipanggil satu per satu, duduk bersama Ustadzah Tri selama minimal 10 menit. Di sanalah terjadi akumulasi “curhatan indah”. Ustadzah Tri mengupas tuntas perkembangan setiap anak secara personal—mulai dari prestasinya, kelebihannya, tantangannya, hingga kedekatan emosional mereka. Ada anak yang jago matematika tapi PR-nya suka “kabur”, ada pula yang tulisannya mirip cakar ayam namun bakat gambarnya juara satu. Semua dihargai sebagai bintang yang unik.

Apresiasi dan Doa dari Orang Tua Murid. Ketulusan Ustadzah Tri menembus relung hati para orang tua murid. Melalui ruang-ruang diskusi dan pesan digital, untaian doa dan rasa terima kasih mengalir deras untuk sang guru yang kerap disapa Ibu Tri ini.

“Kami menyaksikan sendiri bagaimana Ibu Tri membimbing anak-anak kami dengan kasih sayang yang utuh selama satu tahun ini. Menghadapi 29 anak laki-laki bukanlah hal mudah, tapi ia melakukannya dengan sabar level dewa,” ungkap salah satu perwakilan orang tua murid dengan penuh haru.

Orang tua lainnya menambahkan, “Terima kasih telah membersamai anak kami setahun ke belakang dengan kasih sayang dan kesabaran, Ustadzah. Jazakumullahu khairan atas ilmu yang bermanfaat. Semoga Allah membalas kebaikan, kesabaran, dan keikhlasan Ustadzah dengan pahala yang berlipat ganda.”

Pesan untuk Sang Bintang 3A. Meski melangkah ke kelas 4, Ustadzah Tri berharap esensi dari kelas 3A tidak akan pernah luntur.

“Walaupun kalian sudah kelas 4, tetap seperti ini ya ke Ustadzah. Tetap ada ramahnya, perhatiannya, manjanya, dan kehebohannya. Kalian akan selalu menjadi anak-anak wali tersayang Ustadzah,” pesannya penuh harap.

Dari kelas 3A, Ustadzah Tri belajar sebuah hakikat penting dalam dunia pendidikan, bahwa sabar itu tidak harus diam, dan tegas itu tidak harus dengan amarah. Cukup dengan menyayangi, mendengar, dan percaya, maka anak-anak akan tumbuh menjadi jiwa yang hebat.

Kelas 3A mungkin telah usai, namun langit hati Ustadzah Tri akan selalu terang oleh cahaya dari 29 bintangnya. (*)