JENEPONTO, matasulsel.id – Suasana sejuk yang biasanya menyelimuti lingkungan Lembang Loe, Kelurahan Balang, kini berubah menjadi pemandangan yang memilukan. Puluhan pohon peneduh yang telah berdiri kokoh selama puluhan tahun, kini rata dengan tanah. Fenomena ini memicu gelombang protes keras dari berbagai lapisan masyarakat, mulai dari petani, pelajar, hingga aktivis lingkungan yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Sipil untuk Ekologi.

Aksi penebangan ini disinyalir berawal dari upaya pembersihan jaringan listrik. Namun, apa yang terjadi di lapangan justru jauh dari sekadar “pemangkasan”.

“Kami sudah menyaksikan pohon ini puluhan tahun. Di bawah rindangnya, anak-anak sekolah berteduh, dan petani beristirahat setelah membajak sawah. Sekarang, semuanya hilang hanya dalam hitungan jam,” ujar salah seorang warga yang sempat menegur petugas di lapangan.

Penebangan permanen ini dianggap sangat kontradiktif dengan visi Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development) Alih-alih merawat aset ekologis, tindakan ini justru mencederai keseimbangan alam di sepanjang poros Jeneponto yang membentang dari perbatasan Takalar hingga Bantaeng.

Melihat eskalasi penebangan yang terus meluas sejak awal tahun 2026, Koalisi Masyarakat Sipil untuk Ekologi, secara resmi merilis tagar #DaruratPenebanganPohonPeneduh

Pesan ini bukan sekadar luapan emosi, melainkan peringatan serius kepada semua pihak termasuk Pemerintah Daerah untuk segera mengaudit izin dan prosedur penebangan pohon di ruang publik.

Pihak PLN dan Rekanan, agar melakukan koordinasi yang transparan sebelum melakukan tindakan teknis di lapangan.

Salah satu Kepala Desa yang enggan disebutkan namanya menekankan pentingnya etika birokrasi.

“Jika masuk ke wilayah desa tanpa koordinasi, apalagi melakukan penebangan total tanpa alasan yang masuk akal, ini sangat fatal. Koordinasi bukan sekadar formalitas, tapi bentuk penghormatan terhadap lingkungan warga,” tegasnya.

Penebangan pohon di pinggir jalan bukan sekadar masalah estetika. Ada dampak nyata yang akan dirasakan masyarakat Jeneponto:

Suhu udara di jalan raya akan meningkat drastis tanpa adanya kanopi alami dari pohon puluhan tahun.

Pohon berfungsi sebagai filter alami terhadap polusi kendaraan bermotor di sepanjang jalan poros.

Gangguan Resapan Air, akar pohon yang telah dewasa berfungsi mengikat tanah dan membantu resapan air saat hujan deras melanda.
Menuju Solusi Berkelanjutan, masyarakat tidak menolak upaya keamanan jaringan listrik, namun mereka menuntut solusi cerdas. Pemangkasan dahan yang bersentuhan dengan kabel adalah hal lumrah, namun penebangan permanen adalah kemunduran.

Kini, bola panas ada di tangan Pemerintah. Akankah suara dari Lembang Loe didengar, ataukah kita harus menunggu hingga jalan poros benar-benar gundul dan gersang?. (*)