BONE – Pengembangan sektor pertanian berbasis teknologi di Kabupaten Bone terus mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi. Melalui Program Mannennungeng: Smart Hydro Loop, Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) UKM Keilmuan dan Penalaran Ilmiah (KPI) Universitas Hasanuddin menghadirkan inovasi yang mengintegrasikan teknologi, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan kelembagaan petani di Desa Kajaolaliddong. Program tersebut dinilai mampu menjawab berbagai tantangan yang dihadapi petani, mulai dari efisiensi pengelolaan lahan hingga peningkatan produktivitas pertanian. Inovasi yang diterapkan juga sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam mewujudkan pertanian yang modern dan berkelanjutan, jum’at(10/07/2026).

Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M., menilai Smart Hydro Loop menjadi contoh kolaborasi nyata antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam menghadirkan solusi bagi sektor pertanian. Menurutnya, pendekatan yang diterapkan tidak hanya berfokus pada penggunaan teknologi, tetapi juga membangun kemampuan petani untuk mengelola inovasi secara mandiri. Hal tersebut menjadi modal penting dalam meningkatkan daya saing pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah. Atas kontribusi tersebut, Bupati Bone menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Tim PPK Ormawa UKM KPI Unhas.

“Kami sangat berterima kasih dan bangga atas dedikasi luar biasa dari mahasiswa Unhas di Desa Kajaolaliddong. Inovasi Smart Hydro Loop ini bukan sekadar simulasi ilmiah di atas kertas, melainkan solusi nyata yang langsung menyentuh akar rumput demi menjaga stabilitas ketahanan pangan kita,” ujar Bupati Bone.

Program Mannennungeng dikembangkan berdasarkan hasil identifikasi kebutuhan masyarakat bersama pemerintah desa dan kelompok tani. Mengusung filosofi Bugis yang berarti “berkelanjutan”, program ini memadukan digitalisasi irigasi, pengolahan limbah pertanian dan peternakan, mitigasi risiko usaha tani, serta penguatan kelembagaan petani dalam satu ekosistem terpadu. Seluruh inovasi tersebut dirancang agar dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh masyarakat setelah masa pendampingan selesai. Dengan demikian, manfaat program diharapkan terus berkembang dalam jangka panjang.

Ketua Tim PPK Ormawa UKM KPI Unhas 2026, Fadel Muhammad S., menyampaikan bahwa dukungan dari Pemerintah Kabupaten Bone menjadi motivasi bagi tim untuk terus menghadirkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Menurutnya, Smart Hydro Loop lahir dari proses diskusi bersama petani sehingga setiap program yang dijalankan berorientasi pada penyelesaian persoalan nyata di lapangan. Pendampingan akan terus dilakukan agar masyarakat mampu mengembangkan inovasi secara mandiri. Tim berharap model ini dapat direplikasi di berbagai desa lain di Kabupaten Bone.

“Apresiasi dari Pak Bupati menjadi penyemangat bagi kami semua. Ini menunjukkan bahwa program yang kami jalankan, yang lahir dari diskusi bersama masyarakat, benar-benar dibutuhkan dan diperhatikan oleh pemerintah. Kami berharap Smart Hydro Loop tidak hanya berhenti di Desa Kajaolaliddong, tetapi bisa menjadi model bagi desa-desa lain di Bone dalam membangun pertanian yang mandiri dan berkelanjutan,” ujarnya.

Ketua Umum UKM KPI Unhas, Aydil Fitra Mulya, mengatakan bahwa dukungan pemerintah daerah menjadi bukti bahwa program pengabdian mahasiswa mampu memberikan dampak yang dirasakan masyarakat. UKM KPI Unhas akan terus memperkuat pendampingan pascaprogram agar inovasi yang telah diterapkan tetap berkembang. Komitmen tersebut menjadi bagian dari upaya organisasi dalam membangun pengabdian yang berorientasi pada keberlanjutan. Kolaborasi lintas sektor diharapkan semakin memperkuat pembangunan pertanian di Kabupaten Bone.

“Kami sangat bersyukur atas kepercayaan dan apresiasi yang diberikan oleh Pak Bupati. Ini membuktikan bahwa program pengabdian mahasiswa tidak hanya berjalan di atas kertas, tetapi benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat dan mendapat tempat di hati pemerintah daerah. UKM KPI berkomitmen untuk terus mendampingi masyarakat, tidak hanya selama program berlangsung, tetapi juga pasca-program, sehingga manfaatnya benar-benar terasa jangka panjang,” ujarnya.

Dosen Pendamping Program, Muh. Adnan Kasogi, S.Sos., M.Si., menegaskan bahwa keberhasilan Smart Hydro Loop bergantung pada kemampuan masyarakat dalam mengelola inovasi secara mandiri. Oleh sebab itu, setiap kegiatan dilaksanakan melalui pendekatan partisipatif yang menempatkan masyarakat sebagai aktor utama pembangunan. Ia optimistis model ini dapat direplikasi di berbagai wilayah lain sebagai bagian dari penguatan pertanian berbasis inovasi. Pendampingan yang berkelanjutan menjadi fondasi utama agar manfaat program terus berkembang.

“Mahasiswa hadir untuk mendampingi dan mentransfer pengetahuan, namun pilar utamanya tetap berada pada kesiapan dan kemandirian warga Desa Kajaolaliddong. Kami memproyeksikan sistem Smart Hydro Loop ini sebagai model pertanian cerdas yang bisa direplikasi di desa-desa lain,” pungkas Muh. Adnan Kasogi.