MAKASSAR – Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian dan IPB Training terus memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) perkebunan kelapa sawit melalui program pelatihan bagi petani.

 

Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit melalui Pelatihan Panen dan Pascapanen Angkatan I, II, III, dan IV Tahun 2026 tersebut berlangsung di Hotel Aryaduta Makassar, mulai Selasa (3/11) hingga Sabtu (7/11), yang diikuti sebanyak 116 petani kelapa sawit asal Kabupaten Luwu utara.

 

Pelatihan ini difokuskan pada peningkatan kompetensi petani dalam menerapkan teknik panen dan penanganan pascapanen yang tepat. Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas tandan buah segar (TBS), produktivitas perkebunan rakyat, serta nilai ekonomi hasil panen.

 

Kepala Pusat Pelatihan Pertanian, M. Apuk Ismane, menyampaikan bahwa peningkatan kapasitas petani menjadi bagian penting dalam membangun masa depan perkebunan kelapa sawit yang produktif dan berkelanjutan.

 

Menurutnya, petani harus ditempatkan sebagai mitra strategis dalam pengembangan sektor perkebunan. Peningkatan pengetahuan dan keterampilan diharapkan mampu melahirkan berbagai gagasan serta inovasi untuk menjawab tantangan industri kelapa sawit.

 

“Petani harus menjadi mitra strategis dalam pengembangan perkebunan kelapa sawit. Melalui peningkatan kapasitas dan pengetahuan, kita berharap lahir gagasan serta inovasi untuk mendukung keberlanjutan pertanian kelapa sawit di masa depan,” ujarnya. Selasa, 3 November 2026.

 

Ia juga mendorong para petani agar terus mengikuti perkembangan teknologi dan memanfaatkan informasi digital sebagai sarana memperluas wawasan mengenai pengelolaan perkebunan.

 

“Petani harus terus belajar dan memanfaatkan informasi digital untuk meningkatkan pengetahuan. Dengan begitu, mereka dapat mengikuti perkembangan teknologi dan menerapkannya dalam pengelolaan perkebunan,” tambahnya.

 

Upaya peningkatan kapasitas SDM perkebunan tersebut diharapkan turut mendukung agenda pembangunan nasional, khususnya penguatan sektor pertanian dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

 

Sementara itu, perwakilan Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Provinsi Sulawesi Selatan, Nurchaeryah, mengapresiasi pelaksanaan pelatihan tersebut.

 

Ia berharap kegiatan ini menjadi kesempatan bagi petani untuk terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sehingga pengelolaan perkebunan kelapa sawit semakin produktif dan berkelanjutan.

 

“Kami mengapresiasi pelaksanaan pelatihan ini. Kami berharap para petani terus belajar dan meningkatkan kemampuan agar produktivitas perkebunan kelapa sawit semakin baik dan berkelanjutan,” katanya.

 

Menurutnya, salah satu aspek penting yang perlu menjadi perhatian adalah peningkatan teknik panen. Ketepatan proses pemanenan sangat menentukan kualitas TBS yang dihasilkan petani.

 

“Kami berharap melalui pelatihan ini, teknik panen petani semakin baik sehingga tandan buah segar yang dihasilkan memenuhi standar dan dapat dibeli pabrik dengan harga yang layak,” ujarnya.

 

Ia juga berharap peningkatan kualitas hasil panen mampu memberikan nilai tambah bagi petani sekaligus mendorong mereka menjadi agen perubahan di lingkungan perkebunan masing-masing.

 

“Harapan kami, para peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga mampu menerapkannya di lapangan dan menjadi agen perubahan dalam meningkatkan kualitas perkebunan kelapa sawit,” tambahnya.

 

Bupati Luwu Utara Dorong Peningkatan Produktivitas dan Hilirisasi

 

Bupati Luwu Utara, Andi Abdullah Rahim, menegaskan bahwa peningkatan kompetensi petani menjadi salah satu kunci untuk mengoptimalkan potensi perkebunan kelapa sawit di daerahnya.

 

Sebagai salah satu daerah penghasil kelapa sawit terbesar di Sulawesi Selatan, Luwu Utara memiliki potensi perkebunan yang perlu terus dikembangkan agar memberikan kontribusi lebih besar terhadap perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.

 

“Harapan kita, melalui pelatihan ini para petani bisa berproduksi lebih baik. Dengan begitu, mereka juga bisa semakin sejahtera dari sektor pertanian yang dikelola,” kata Andi Abdullah Rahim.

 

Ia mengungkapkan, pengembangan perkebunan kelapa sawit di Luwu Utara masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya, perkebunan rakyat yang sebagian besar pembiayaannya masih mengandalkan kemampuan masyarakat sendiri.

 

Kondisi tersebut membuat pertumbuhan perkebunan rakyat belum sepenuhnya mampu mengikuti perkembangan industri kelapa sawit.

 

Selain persoalan pembiayaan, keterbatasan kapasitas industri pengolahan juga menjadi tantangan. Saat ini terdapat tiga pabrik kelapa sawit di Luwu Utara. Namun, kapasitas pengolahan yang tersedia belum mampu menampung seluruh produksi sawit daerah.

 

Akibatnya, sebagian hasil perkebunan harus dibawa keluar daerah untuk mendapatkan pengolahan.

 

“Potensi sawit kita sangat besar, tetapi pertumbuhan perkebunan rakyat belum sepenuhnya bisa mengikuti perkembangan industri. Bahkan, dengan tiga pabrik yang ada, kapasitas pengolahannya masih belum mampu menampung seluruh produksi sehingga sebagian hasil sawit harus keluar daerah,” jelasnya.

 

Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah daerah terus mendorong pengembangan industri pengolahan kelapa sawit, termasuk rencana penambahan pabrik baru.

 

Pada 2026, pengembangan industri tersebut terus berproses dengan target pembangunan pabrik baru yang diharapkan mulai beroperasi pada tahun depan dan memiliki kapasitas pengolahan mencapai 1.000 ton per hari.

 

“Target kita tahun depan ada pabrik baru dengan kapasitas pengolahan 1.000 ton per hari. Ini diharapkan menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan kemampuan pengolahan hasil perkebunan kelapa sawit di Luwu Utara,” ungkapnya.

 

Selain kapasitas pabrik, persoalan transportasi dan pengangkutan hasil perkebunan juga perlu mendapatkan perhatian. Kelancaran distribusi menjadi faktor penting agar hasil panen petani dapat sampai ke pabrik pengolahan secara tepat waktu.

 

Andi Abdullah Rahim menilai pengembangan industri sawit harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas produksi petani, perbaikan sistem transportasi, serta penguatan sektor hilirisasi.

 

“Hilirisasi harus terus kita kembangkan. Jangan sampai kita hanya menghasilkan bahan baku, tetapi belum mampu mengoptimalkan nilai tambahnya. Dengan penguatan industri pengolahan, potensi sawit daerah diharapkan bisa memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat,” tegasnya.

 

Melalui program pelatihan yang didukung BPDP dan Ditjen Perkebunan serta dilaksanakan IPB Training ini, sebanyak 116 petani diharapkan mampu menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh untuk meningkatkan kualitas TBS dan produktivitas perkebunan.

 

Peningkatan kualitas SDM petani, penguatan kapasitas industri pengolahan, serta pengembangan hilirisasi menjadi bagian penting dalam mendorong perkebunan kelapa sawit rakyat yang lebih produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan.