BONE – Pelatihan Pabbura Mannennungeng yang diselenggarakan oleh Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Unit Kegiatan Mahasiswa Keilmuan dan Penalaran Ilmiah (UKM KPI) Universitas Hasanuddin menjadi langkah nyata dalam meningkatkan kapasitas petani dan peternak di Desa Kajaolaliddong, Kabupaten Bone.

Kegiatan yang berlangsung di Aula P4S Lamellong pada Selasa (7/7/2026) ini diikuti oleh kelompok tani dan kelompok peternak binaan Program Mannennungeng. Melalui pelatihan tersebut, peserta memperoleh pengetahuan sekaligus keterampilan dalam mengolah limbah pertanian dan peternakan menjadi produk yang lebih bernilai. Penyuluh Pertanian Ahli Madya Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Abrahan, S.ST., M.Si., hadir sebagai pemateri utama, rabu(08/07/2026).

Pelatihan ini merupakan bagian dari Program Pabbura Mannennungeng yang dikembangkan melalui inovasi Smart Hydro Loop. Program tersebut mengintegrasikan sektor pertanian dan peternakan dengan menerapkan konsep Integrated Crop-Livestock Systems (ICLS). Limbah jerami dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan ternak fermentasi atau silase, sedangkan kotoran ternak diolah menjadi pupuk organik menggunakan teknologi sederhana. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menciptakan sistem pertanian yang lebih efisien, produktif, dan berkelanjutan.

Selama pelatihan berlangsung, peserta mendapatkan materi mengenai prinsip dasar pengelolaan limbah hingga teknik pengolahannya. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan praktik penggunaan Tumbling Composter untuk membuat pupuk organik, pembuatan kompos bokasi, serta fermentasi jerami menjadi silase. Demonstrasi tersebut memberikan pengalaman langsung kepada peserta sehingga mereka dapat memahami setiap tahapan proses dengan lebih mudah. Interaksi aktif antara narasumber dan peserta juga membuat suasana pelatihan berlangsung dinamis.

Abrahan merupakan penyuluh pertanian yang telah lama berkecimpung dalam pengembangan sektor pertanian dan peternakan. Selain bertugas sebagai Penyuluh Pertanian Ahli Madya Kementerian Pertanian Republik Indonesia, ia juga berperan sebagai Asesor Kompetensi Bidang Penyuluhan Pertanian LSP Pertanian Kementerian Pertanian, Instruktur Ternak Organik, serta dosen luar biasa di POLBANGTAN Gowa. Pengalaman tersebut menjadikannya memiliki pemahaman yang kuat terhadap kondisi pertanian di Kabupaten Bone. Hal itu menjadi bekal penting dalam memberikan materi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

“Limbah pertanian dan peternakan bukanlah masalah jika kita tahu cara mengelolanya. Dengan teknologi sederhana seperti Tumbling Composter dan fermentasi, limbah bisa menjadi sumber pendapatan baru bagi petani dan peternak. Saya sangat mengapresiasi inisiasi Tim Mannennungeng yang menghadirkan program Pabbura ini di Bone,” ujar Abrahan dalam sambutannya.

Ketua Tim PPK Ormawa UKM KPI Unhas 2026, Fadel Muhammad S., menilai pelatihan ini menjadi salah satu tahapan penting dalam pemberdayaan masyarakat desa. Menurutnya, peningkatan kapasitas petani harus dilakukan melalui pembelajaran yang aplikatif dan mudah diterapkan di lapangan. Oleh karena itu, tim menghadirkan narasumber yang memiliki pengalaman akademik sekaligus praktik di bidang penyuluhan pertanian. Pendekatan tersebut diharapkan mampu mempercepat adopsi teknologi oleh kelompok sasaran.

“Kami sengaja menghadirkan pemateri yang tidak hanya ahli secara akademis, tetapi juga memahami kondisi lapangan di Bone. Pak Abrahan adalah sosok yang tepat untuk membimbing petani dan peternak binaan kami dalam mengolah limbah menjadi produk bernilai guna,” ujarnya.

Pelatihan ini disambut positif oleh para peserta yang merasakan manfaat langsung dari materi yang diberikan. Burhanuddin selaku Ketua P4S Lamellong menyebutkan bahwa teknologi yang diperkenalkan mampu menjawab persoalan limbah yang selama ini dihadapi petani dan peternak. Pengetahuan baru tersebut diharapkan dapat diterapkan secara berkelanjutan sehingga memberikan dampak terhadap peningkatan produktivitas usaha tani. Selain itu, pemanfaatan limbah juga dinilai dapat mengurangi biaya produksi di tingkat petani.

“Kami sangat terbantu dengan pelatihan Pabbura ini. Selama ini limbah ternak dan jerami hanya kami buang. Sekarang kami tahu cara mengolahnya menjadi pupuk dan pakan yang bermanfaat,” katanya.

Melalui Pelatihan Pabbura Mannennungeng, Tim PPK Ormawa UKM KPI Unhas terus memperkuat upaya pemberdayaan masyarakat berbasis inovasi dan teknologi tepat guna. Program ini tidak hanya mendorong pemanfaatan limbah secara optimal, tetapi juga membangun kesadaran petani mengenai pentingnya sistem pertanian terpadu. Dengan pendampingan yang berkelanjutan, Program Mannennungeng diharapkan mampu melahirkan kelompok tani yang lebih mandiri, produktif, dan berdaya saing.