BONE – Produktivitas pertanian di lahan demplot Program Mannennungeng, Desa Kajaolaliddong, Kabupaten Bone, menunjukkan peningkatan signifikan. Dalam panen perdana yang dilakukan Tim PPK Ormawa UKM KPI Universitas Hasanuddin, hasil produksi mencapai 5,3 ton gabah kering panen (GKP) per hektare. Capaian ini melampaui target 5 ton per hektare sekaligus meningkat dari produktivitas sebelumnya yang hanya sekitar 3 ton per hektare, senin(07/09/2026).

Peningkatan produksi tersebut menjadi hasil dari penerapan sistem pertanian terintegrasi melalui empat pilar Mannennungeng. Uwai Tuo diterapkan sebagai sistem irigasi presisi berbasis IoT yang mampu menekan penggunaan air hingga 25 persen. Kemudian Pabbura dimanfaatkan untuk mengolah limbah pertanian dan peternakan menjadi pupuk organik yang mendukung perbaikan kondisi tanah dan kesuburan lahan.

Selain itu, Warani menjadi bagian dari strategi pengendalian hama dengan pendekatan ramah lingkungan. Sementara Garisi’ diterapkan melalui pengaturan pola tanam dan rotasi varietas unggul agar pertumbuhan tanaman lebih optimal. Integrasi keempat pilar tersebut menjadi pendekatan utama dalam meningkatkan efisiensi dan produktivitas lahan.

Untuk memastikan hasil produksi, BPS Kabupaten Bone melakukan pengukuran melalui ubinan di lokasi panen. Hasil pengukuran menunjukkan produktivitas lahan demplot Program Mannennungeng mencapai 5,3 ton GKP per hektare.

Ketua Tim PPK Ormawa UKM KPI Unhas 2026, Fadel Muhammad S. , mengaku bersyukur atas hasil yang diraih. “Alhamdulillah, panen perdana ini membuktikan bahwa pendekatan holistik melalui Uwai Tuo, Pabbura, Warani, dan Garisi’ benar-benar efektif. Kami tidak hanya menghemat air dan memperbaiki tanah, tetapi juga menekan risiko hama dan mengoptimalkan pola tanam. Ini adalah bukti bahwa pertanian cerdas dan berkelanjutan bisa diwujudkan di tingkat desa. Kami berterima kasih kepada BPS Bone yang telah memverifikasi capaian ini,” ujarnya.

Ketua Umum UKM KPI Unhas, Aydil Fitra Mulya, turut menyampaikan kebanggaannya. “Ini adalah momen bersejarah bagi UKM KPI Unhas. Kami telah membuktikan bahwa inovasi mahasiswa di bidang irigasi, pengolahan limbah, pengendalian hama, dan pola tanam mampu memberikan solusi nyata bagi permasalahan pertanian di Indonesia. Capaian 5,3 ton per hektare ini bukan sekadar angka, tetapi bukti bahwa petani bisa sejahtera dengan pendekatan yang terintegrasi dan berkelanjutan,” tegasnya.

Salah satu petani binaan, Burhanuddin, S.P. , Ketua Kelompok Tani Mabbiri’ sekaligus Ketua P4S Lamellong, mengaku tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. “Kami tidak pernah membayangkan hasil panen bisa sebesar ini. Selama bertahun-tahun kami hanya mendapat 3 ton per hektare. Sekarang, dengan bantuan adik-adik mahasiswa dan teknologi Mannennungeng, kami bisa mendapat 5,3 ton. Ini benar-benar mengubah hidup kami,” katanya.

Hasil panen perdana tersebut menjadi bukti awal keberhasilan penerapan Mannennungeng dalam mendukung peningkatan produktivitas pertanian. Melalui kolaborasi antara mahasiswa, masyarakat, dan pemerintah, inovasi yang diterapkan di lahan demplot diharapkan dapat terus dikembangkan dan direplikasi di wilayah lain di Kabupaten Bone maupun daerah lainnya.