Jeneponto, matasulsel.id — Pagi yang cerah menyapa hamparan sawah di Kampung Lembangloe, Kelurahan Balang, Kecamatan Binamu.

Di tengah lahan yang baru saja selesai panen padi dan jagung, suasana terlihat sangat hidup para petani sedang sibuk menyiapkan lahan dan menanam bibit ubi jalar, Rabu 19 Agustus 2026 mengubah wajah sawah menjadi lahan harapan baru.

Ini bukan sekadar kegiatan tani biasa — ini adalah tradisi dan strategi cerdas para petani Lembang Loe dalam memanfaatkan jeda musim tanam.

Saat ini, proses penanaman sedang berjalan bertahap, sebagian lahan sudah tersusun rapi menjadi bedeng-bedengp gundukan tanah sejajar yang rapi dan teratur, menjadi ciri khas penanaman ubi jalar di sini. Sebagian petani sudah mulai menanam, sementara yang lain masih menyelesaikan pembuatan bedeng dengan teliti.

Langkah berikutnya adalah penyiraman dan pengairan air dialirkan dari sungai melalui sistem pompanisasi, memenuhi setiap petak sawah hingga basah merata.

Setelah tanah cukup basah, barulah dilakukan penanaman batang ubi jalar dipotong sekitar 30 sentimeter, lalu dengan hati-hati ditancapkan ke bedeng-bedeng yang sudah berair. Proses ini dilakukan dengan sabar dan teliti, satu per satu, demi pertumbuhan yang optimal.

Setelah panen padi dan jagung, dan sembari menunggu musim tanam padi berikutnya, para petani di Lembang Loe secara serentak memanfaatkan lahan sawah mereka untuk penanaman ubi jalar.

Di seluruh Kecamatan Binamu, Lembangloe dikenal sebagai satu-satunya wilayah pertanian yang petaninya secara serentak menanam ubi jalar pada musim ini, menjadikannya kampung penanam ubi jalar yang paling konsisten dan teratur di wilayah tersebut.

Pengairan melalui sistem pompanisasi dari sungai memastikan setiap bibit mendapat air yang cukup di tengah musim kemarau. Langkah ini menunjukkan ketangkasan dan kearifan lokal petani dalam beradaptasi dengan kondisi alam tidak membiarkan lahan kosong, melainkan mengisinya dengan tanaman yang bermanfaat dan bernilai ekonomi.

“Kami menanam ubi jalar bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga untuk menambah pendapatan keluarga di sela-sela musim tanam padi. Dalam 50 hingga 60 hari ke depan, insya Allah siap panen dan harga diharapkan bersaing di pasar.” ungkap Dg Ngawing salah satu petani Lembang Loe.

Lembangloe memang telah lama dikenal masyarakat luas sebagai kampung penanam ubi jalar. Setiap tahun, terutama menjelang musim penghujan, lahan-lahan di sini berubah menjadi hamparan tanaman ubi jalar yang hijau dan subur.

Umur tanaman yang relatif singkat cukup sekitar 50–60 hari membuatnya menjadi alternatif tanaman yang sangat menguntungkan dan cepat menghasilkan.

Dengan perawatan yang sederhana namun teliti, para petani berharap hasil panen tahun ini dapat memberikan keuntungan yang layak, bersaing di pasar lokal maupun daerah sekitarnya, serta menjadi bukti bahwa ketekunan dan kreativitas petani adalah kunci ketahanan pangan dan kesejahteraan keluarga.

Kegiatan penanaman ubi jalar di Lembangloe bukan sekadar aktivitas pertanian ia adalah simbol semangat, ketangguhan, dan kearifan lokal masyarakat Jeneponto. (*)