MAKASSAR – Makanan Bergizi Gratis atau MBG merupakan salah satu program unggulan Bapak Presiden Prabowo Subianto yang bertujuan untuk meningkatkan pemenuhan gizi anak. Program ini sangat strategis jika dikaitkan dengan bonus demografi yang akan diraih bangsa Indonesia pada tahun 2030 – 2040, pemenuhan makanan yang aman, bermutu dan bergizi tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik anak, namun juga akan berdampak pada kemampuan intelektualnya sehingga memiliki daya saing global.

Dalam rangka mendukung program strategis MBG, pada 14 Agustus 2026 BBPOM di Makassar melakukan pelatihan penggunaan rapid test kit bagi petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Kegiatan ini diikuti oleh 138 para Kepala SPPG dan Ahli Gizi dari 69 perwakilan SPPG di wilayah Kota Makassar, Kabupaten Maros, dan Kabupaten Gowa, bertempat di Aula Baji Minasa BBPOM di Makassar.

“Kegiatan ini sekaligus tindaklanjut instruksi Bapak Kepala BPOM RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D bahwa BPOM harus memberikan dukungan terhadap program – program prioritas Presiden dan Wakil Presiden, termasuk MBG,” ujar Yosef.

“Program MBG bukan hanya bertujuan untuk meningkatkan gizi anak dan penerima manfaat lain seperti ibu hamil, ibu menyusi dan balita, namun juga berdampak dalam membuka lapangan pekerjaan serta menggerakan ekonomi kerakyatan,” lanjutnya.

“Tentunya program yang sangat baik ini, perlu dikawal dengan baik oleh seluruh pihak agar dampaknya dirasakan langsung oleh rakyat. Salah satunya wajib dipastikan keamanan pangannya mulai dari hulu sampai hilir, sejak pemilihan bahan baku, proses masaknya, pemorsian hingga didistribusikan pada penerima manfaat. Harus diminimalkan potensi terjadinya kontaminasi baik fisik, kimia dan biologi yang dapat beresiko terjadinya keracunan pangan,” ungkap Yosef.

Dalam pelatihan ini, narasumber dari Laboratorium BBPOM di Makassar memberikan pembekalan mengenai prinsip dan tata cara penggunaan rapid test kit, mulai dari teknik pengambilan dan penanganan sampel, prosedur pengujian, hingga interpretasi hasil. Peserta juga dibekali pemahaman mengenai berbagai faktor yang perlu diperhatikan untuk memastikan proses pengujian dilakukan secara tepat dan hasil yang diperoleh dapat menjadi dasar deteksi dini dalam menjamin keamanan bahan pangan.

Tidak hanya melalui penyampaian materi, peserta juga melakukan praktik langsung penggunaan rapid test kit terhadap sejumlah parameter keamanan dan mutu pangan. Pengujian meliputi deteksi formalin, boraks, nitrit, residu pestisida, kesegaran ayam, serta histamin sebagai indikator kesegaran ikan. Melalui praktik ini, diharapkan para petugas SPPG memiliki keterampilan yang lebih baik dalam melakukan pemeriksaan awal terhadap bahan baku pangan sebelum digunakan dalam proses penyediaan Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Pelatihan penggunaan rapid test (uji cepat), merupakan salah satu upaya deteksi dini cemaran bahan kimia berbahaya dalam bahan baku yang akan digunakan seperti ayam, ikan, sayur, buah, termasuk produk olahannya seperti kornet, sosis, dll,” ujar Yosef.

“Untuk uji mikrobiologi memang membutuhkan alat inkubasi bakteri, dan ini memang belum tersedia di setiap SPPG, namun perlu waspada pada bahan baku DUIT (Daging, Unggas, Ikan dan Telur). Kempat bahan ini sangat tinggi protein yang baik untuk metabolisme tubuh, namun pada sisi lain merupakan media yang sangat baik untuk pertumbuhan bakteri,” ungkap Yosef.

“Salah satu deteksi sederhana adanya cemaran mikroba adalah melaui organoleptis, jika ada perubahan atau penyimpangan yang tidak normal seperti bau, warna dan rasa maka jangan digunakan atau dikonsumsi, baik pada bahan baku ataupun makanan yang sudah siap saji,” jelas Yosef.

“Semoga melalui pelatihan ini, keamanan dan kualitas MBG semakin baik dan mampu mencegah terjadinya kasus keracunan, oleh karenanya ilmu yang diperoleh harus diimplementasikan dengan baik,” lanjutnya.

“BPOM senantiasa siap untuk memberikan dukungan dalam peningkatan kapasitas dan pengetahuan baik bagi Kepala SPPG, Ahli Gizi ataupun para penjamah pangannya. Program baik harus mampu dieksekusi dengan baik pula, sehingga dampak positifnya dapat dirasakan,” pungkas Yosef

Kepala KPPG Makassar, Handayani, menyampaikan apresiasi kepada BBPOM di Makassar atas pelaksanaan kegiatan yang dinilai memberikan manfaat langsung bagi petugas SPPG.

“Pelatihan ini sangat penting bagi kami karena memberikan bekal praktis kepada petugas SPPG untuk melakukan pemeriksaan awal keamanan pangan. Kami berharap pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dapat diterapkan secara optimal di masing-masing SPPG,” ungkap Handayani.

Handayani berharap kolaborasi antara KPPG Makassar dan BBPOM di Makassar dapat terus diperkuat untuk memastikan proses penyediaan pangan berjalan dengan memperhatikan prinsip keamanan pangan.

“Peningkatan kapasitas petugas menjadi salah satu langkah strategis untuk mendukung pelaksanaan pelayanan MBG yang aman, bermutu, dan sesuai ketentuan,” lanjutnya.

Program revolusioner Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berbicara tentang seberapa banyak makanan yang dapat disalurkan kepada penerima manfaat, tetapi juga tentang bagaimana memastikan setiap makanan yang disajikan memenuhi standar mutu, keamanan, dan kecukupan gizi. Jaminan keamanan pangan menjadi fondasi penting agar manfaat MBG benar-benar memberikan dampak positif bagi kesehatan, tumbuh kembang, dan kualitas sumber daya manusia.

Dengan demikian, MBG bukan sekadar program pemenuhan gizi hari ini, melainkan investasi strategis untuk mencetak generasi yang sehat, cerdas, produktif, dan berdaya saing untuk Indonesia Emas 2045.