MAKASSAR – Program SAPA Kampus Berdampak merupakan terobosan Badan POM yang mengolaborasikan kompetensi Fasilitator Keamanan Pangan dengan pembelajaran di kampus yang dapat dikonversi dalam Satuan Kredit Semester (SKS). Program yang telah digulirkan sejak 2021 ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kapasitas mahasiswa, namun juga menghadirkan pendampingan nyata bagi pelaku Usaha Mikro Kecil (UMK) pangan olahan. Melalui program ini, mahasiswa didorong untuk menjadi bagian dari solusi. Mereka dipersiapkan menjadi Fasilitator Keamanan Pangan yang kompeten, yang mampu mendampingi UMK dalam memenuhi standar keamanan pangan hingga memperoleh izin edar, sabtu(13/06/2026).
Universitas Hasanudin merupakan salah satu mitra strategis BPOM dalam pelaksanaan program SAPA Kampus Berdampak, di mana pada batch 8 ini melibatkan 14 mahasiswa Unhas. Mereka ditugaskan menjadi fasilitator pendamping bagi 14 UMK pangan olahan dengan berbagai produk, antara lain: frozen food, sambal. sirup, bawang goreng, minyak kelapa, minuman botanical, dll. Guna memetakan kendala dan mengetahui progres pendampingan UMK oleh mahasiswa, pada tanggal 11 Juni 2026 bertempat di aula Baji Minasa BBPOM Makassar dilakukan monev SAPA Kampus Berdampak.
Dalam sambutannya Kepala BBPOM di Makassar sangat mengapresiasi dan puas dengan kinerja pendampingan UMK yang dilakukan oleh para Mahasiswa Unhas.
“Pendampingan yang dilakukan terbukti mampu meningkatkan kepatuhan UMK, jika sebelumnya nilai pemenuhan Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB) masih Kurang namun setelah pendampingan intensif oleh mahasiwa menjadi Baik bahkan ada yang Sangat Baik. Ini tentunya akan meningkatkan mutu dan keamanan dari produk pangan olahan yang akan dihasilkan nantinya,” ujar Yosef.
“Dalam kurun waktu kurang dari 3 bulan, pendampingan yang dilakukan oleh para mahasiswa berhasil mendorong sebagian besar UMK memperoleh Sertifikat Izin Penerapan Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (IP CPPOB). Bahkan ada yang sampai mendapatkan Nomor Izin Edar (NIE) BPOM, ini sangat luar biasa,” lanjut Yosef.
“Sebagai pilar ekonomi sekaligus aset bangsa, UMK harus mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah. Perizinan di Badan POM sejatinya telah dilakukan secara elektronik / online, hal ini merupakan wujud komitmen percepatan, transparansi dan akuntabilitas dalam proses perizinan. Namun keterbatasan literasi digital UMK dan terbatasnya jumlah personil yang kami miliki, masih menjadi tantangan dalam pelaksanaanya. Program SAPA Kampus Berdampak, menjadi solusi yang tepat untuk mengatasi tantangan ini,” ungkap Yosef.
Yosef mengungkapkan bahwa kompetensi dan pengalaman sebagai fasilitator pendamping UMK dalam program SAPA Kampus Berdampak akan menjadi nilai tambah kedepannya, baik saat di dunia kerja bahkan untuk menjadi seorang enterpreuner atau wirausaha.
“Jangan berhenti sampai titik ini, teruslah belajar, terlebih adek-adek sudah mengetahui bagaimana proses perizinan di BPOM yang Mudah, Terjangkau dan Terukur. Jadilah wirausaha kedepannya, pintu rezeki lebih terbuka, mendapatkan kebebasan finasial dengan berdikari dan tentunya mampu membuka lapangan pekerjaan,” pungkasnya.
Sementara Prof. Makkarennu, S.Hut., M.Si., Ph.D., selaku Kepala Subdirektorat Pembelajaran Mandiri Universitas Hasanudin menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas pelibatan mahaswa Unhas dalam program SAPA Kampus Berdampak.
“Program SAPA Kampus Berdampak sangat bagus karena menjadi pembelajaran nyata bagi para mahasiswa dalam menghadapi dunia kerja,” ujarnya.
“Terlebih respon dari Bapak Kepala Balai dan para mentor yang positif terhadap kinerja pendampingan mahasiswa kami, tentu ini menjadi kebanggaan bagi kami, dan kami berharap proram SAPA Kampus Berdampak dapat terus berkelanjutan karena peminatnya sangat banyak, bahkan kami harus melakukan seleksi terlebih dahulu,” lanjut Prof. Makkarennu.
“Kami membutuhkan saran dan masukan dari setiap mitra Unhas, sekaitan dengan program koloborasi yang dilakukan. Kami akan terus melakukan perbaikan berkelanjutan untuk memastikan bahwa Mahasiswa yang kami tugaskan sesuai dengan ekpektasi dari para mitra, termasuk BBPOM di Makassar,” ungkapnya.
“Unhas senantiasa siap berkolaborasi dengan BPOM, terlebih program-program yang sejalan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam upaya meningkatkan kapasitas, kualitas dan daya saing Mahasiswa,” pungkas Prof. Makkarennu.
Program SAPA Kampus Berdampak menjadi bukti nyata bahwa ketika Kampus, Pemerintah, dan dunia usaha berjalan bersama, lahir dampak yang nyata dan berkelanjutan. Dari ruang kuliah hingga pelaku usaha, dari proses pendampingan hingga terbitnya sertifikat IP CPPOB dan izin edar. Program ini menghadirkan manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat khusunya UMK. Melalui sinergi yang terus diperkuat, SAPA Kampus Berdampak diharapkan tidak hanya mencetak mahasiswa yang unggul dan adaptif, tetapi juga melahirkan UMK pangan olahan yang semakin aman, bermutu, dan mampu bersaing di pasar global.

Tinggalkan Balasan