(Sebuah Catatan Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2026)

Oleh: Haerullah Lodji

Peringatan Hari Pendidikan Nasional yang baru saja kita laksanakan pada tanggal 2 Mei lalu, kembali mengingatkan kita semua akan makna mendalam dari kata “mengajar” dan “mengabdi”.

Hari yang penuh makna ini bukan hanya sekadar peringatan sejarah, melainkan momentum bagi kita untuk merenungkan, menghargai, dan meneladani sosok-sosok pendidik yang telah dengan tulus hati mencurahkan pikiran, tenaga, dan waktu demi mencerdaskan kehidupan bangsa.

Di tengah semangat memperingati hari besar tersebut, sebuah kisah mengharukan sekaligus membangkitkan semangat hadir dalam sebuah kegiatan Bimbingan Teknis Literasi Informasi bagi guru yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Jeneponto. Di antara sekian banyak peserta yang hadir, berkumpul dari berbagai latar belakang dan usia, ada satu sosok yang menarik perhatian dan menyentuh hati setiap orang yang mendengar ceritanya. Ia adalah Hj. Mi, S.Pd., MM, seorang pendidik yang bertugas di UPT SDN 4 Taruang.

Ketika sesi berbagi pengalaman dimulai, Emmy membuka kisah perjalanannya dengan nada bicara yang sederhana namun penuh keteguhan.

“Saya mulai mengabdi sebagai guru tepat pada tanggal 1 Juni 1991. Saat ini, masa pengabdian saya kurang satu bulan lagi akan genap 35 tahun,” ucapnya sambil tersenyum.

Kalimat sederhana itu membuat ruangan seketika hening, lalu disusul dengan decak kagum. Tiga puluh lima tahun bukanlah waktu yang singkat. Angka tersebut bukan sekadar catatan masa kerja, melainkan bukti kesetiaan yang luar biasa.

Yang menjadikan kisah ini semakin istimewa adalah kontras usia pengabdiannya dengan para peserta lain yang hadir. Ada peserta muda yang baru berusia 23 tahun, yang berarti saat Hj . Emmy baru saja mengenakan seragam pengabdiannya dan berdiri di depan kelas, peserta tersebut bahkan belum lahir ke dunia.

Ada pula peserta lain yang dengan bangga menyampaikan, “Dulu Hj. Emmy adalah guru saya, dan hari ini kita duduk sejajar, sama-sama memikul amanah mendidik anak-anak.”

Momen ini menjadi gambaran nyata bahwa pengabdian seorang guru melintasi batas waktu dan generasi. Ilmu yang ditanamkan hari ini akan terus tumbuh dan berkembang, bahkan kembali menyapa pendidiknya dalam bentuk kebersamaan yang bermakna di masa mendatang.

Perjalanan panjang 35 tahun yang dijalani Ibu Hj. Mi tentu tidak lepas dari berbagai tantangan, suka, dan duka. Namun, di balik semua itu, tersimpan semangat belajar yang tak pernah padam dan deretan prestasi yang menjadi bukti bahwa ketekunan akan selalu berbuah manis. Ada lima fakta menarik yang beliau bagikan, yang dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita semua tentang bagaimana seharusnya seorang pendidik melangkah.

Pertama, ilmu adalah bekal yang tak ada habisnya. Meskipun telah puluhan tahun mengajar, Ibu Hj. Mi tidak pernah berhenti untuk menuntut ilmu. Beliau berhasil menyelesaikan pendidikannya hingga jenjang Strata 2 (S2), membuktikan bahwa keinginan untuk berkembang tidak pernah mengenal batas usia. Bagi beliau, menjadi guru berarti menjadi pembelajar seumur hidup; kita tidak dapat memberikan air kepada orang lain jika kendi kita sendiri kering.

Kedua, dedikasi yang nyata akan selalu diakui. Pada tahun 2008, kerja keras dan kemampuannya diakui dengan diraihnya predikat Guru Teladan Terbaik I tingkat Kabupaten Jeneponto, bahkan mampu bersaing dan menduduki peringkat 5 besar terbaik di tingkat Provinsi Sulawesi Selatan. Penghargaan ini bukan sekadar piala atau piagam, melainkan pengakuan atas ketulusan hati dalam mendidik dan membimbing peserta didiknya.

Ketiga, kepercayaan adalah tanggung jawab yang harus diemban dengan baik. Berkat kompetensi dan integritas yang dimiliki, pada tahun 2010 beliau dipercaya untuk menjabat sebagai Kepala Sekolah di SD Inpres Kanang-Kanang. Jabatan ini tidak membuatnya berpuas diri, justru menjadi pendorong untuk bekerja lebih giat. Hasilnya, pada tahun 2019 beliau meraih Juara I Lomba Kepala Sekolah Berprestasi tingkat kabupaten dan Juara III tingkat provinsi. pengabdiannya kembali bersinar pada tahun 2023, di mana beliau dinobatkan sebagai Kepala Sekolah Berprestasi Terbaik I tingkat Kabupaten Jeneponto, dan kembali mewakili daerahnya serta meraih peringkat 5 terbaik di tingkat provinsi.

Keempat, berbagi adalah bentuk pengabdian yang lebih mulia. Kesuksesan yang diraih tidak membuatnya berhenti di titik itu saja. Kemampuan dan pengalamannya menjadikan beliau sosok yang dipercaya untuk memegang berbagai peran strategis. Beliau dipercaya memimpin Kelompok Kerja Guru (KKG), Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S), hingga menjabat sebagai Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Melalui peran-peran ini, beliau terus berusaha memajukan kualitas pendidikan dan mendampingi rekan-rekan pendidik lainnya untuk terus berkembang.

Kelima, membaca adalah jembatan menuju kemajuan. Kecintaannya terhadap buku dan informasi membuatnya selalu mengikuti perkembangan dunia pendidikan terkini. Hal ini menjadikan beliau sosok yang kaya akan wawasan, sehingga sering diundang menjadi narasumber dalam berbagai kegiatan pelatihan dan pertemuan pendidikan.

Bahkan, pengalaman dan praktik baik yang beliau lakukan diakui secara nasional, sehingga pada tahun 2021 beliau dipercaya menjadi narasumber tingkat nasional yang diakui oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Ketika ditanya tentang kunci kesuksesannya, Ibu Hj. Emmy hanya menjawab dengan rendah hati, “Semua ini saya jalani dengan ketulusan hati. Mengajar bukan sekadar pekerjaan yang mencari nafkah, melainkan panggilan jiwa yang harus dijalani dengan sepenuh hati.”

Kisah hidup dan pengabdian Ibu Hj. Mi ini membawa kita pada sebuah pandangan baru tentang makna menjadi guru. Selama ini, mungkin kita sering memandang tugas guru hanya sebatas mengajar di depan kelas, memberikan tugas, dan menilai hasil belajar. Namun, kisah ini mengajarkan kita bahwa menjadi guru jauh lebih dari itu.

Seorang guru adalah pelita yang tak pernah padam, yang terus menerangi jalan bagi anak-anak bangsa untuk menuju masa depan yang cerah. Seorang guru adalah pembelajar abadi, yang sadar bahwa untuk mendidik generasi yang terus berkembang, ia pun harus terus memperbarui ilmunya. Seorang guru adalah contoh nyata, yang menunjukkan bahwa kesabaran, ketekunan, dan kesetiaan akan selalu membawa hasil yang membanggakan, baik bagi diri sendiri maupun bagi lingkungan sekitar.

Bagi para siswa, kisah ini mengajarkan bahwa kesuksesan tidak diraih dalam semalam, melainkan melalui proses panjang yang dijalani dengan ketekunan dan semangat untuk terus menjadi lebih baik. Bagi para tenaga pendidik, kisah ini menjadi penyemangat bahwa pengabdian yang kita lakukan hari ini, sekecil apa pun itu, akan menjadi bagian dari sejarah yang berharga dan manfaatnya akan dirasakan oleh banyak orang, bahkan oleh generasi-generasi yang akan datang.

Di momen peringatan Hari Pendidikan Nasional ini, marilah kita bersama-sama menghormati dan menghargai setiap tetes keringat dan pengorbanan para pendidik seperti Ibu Hj. Mi. Semoga jejak langkah beliau menjadi inspirasi tak henti-hentinya, dan semoga semangat mencerdaskan kehidupan bangsa terus menyala di dada setiap insan pendidik di seluruh penjuru negeri.

Selamat Hari Pendidikan Nasional. Teruslah mengabdi, teruslah berkarya, dan teruslah menebar manfaat. (*)