BONE – Regenerasi petani menjadi salah satu tantangan yang dihadapi sektor pertanian saat ini. Di Desa Kajaolaliddong, Kecamatan Barebbo, Kabupaten Bone, Burhanuddin, S.P., mencoba menjawab tantangan tersebut dengan terjun langsung ke sektor pertanian sekaligus mendorong keterlibatan generasi muda, minggu(06/09/2026).
Pria yang akrab disapa Kak Handy itu merupakan putra asli Kajaolaliddong. Lahir di Bakke pada 7 Juni 1998, Burhanuddin memilih kembali ke desa setelah menyelesaikan pendidikan Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin pada 2021.
Kini, ia dipercaya memimpin Kelompok Tani Mabbiring dan Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Lamellong. Bagi Burhanuddin, pertanian memiliki peluang besar sekaligus membutuhkan regenerasi.
“Sektor pertanian sangat menjanjikan dan peluangnya besar. Selain itu, ada panggilan untuk hidup slow living ada pada sektor pertanian, serta perlu adanya regenerasi petani. Kami butuh petani muda,” ujarnya.
Upaya membangun ruang belajar bagi petani diwujudkannya melalui pembentukan P4S Lamellong pada 2023. Wadah tersebut menjadi tempat bagi petani untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sekaligus menjadi ruang pengembangan diri bagi generasi muda yang ingin terjun ke sektor pertanian.
Pada 2025, Burhanuddin dipercaya menjadi Ketua Kelompok Tani Mabbiring, menggantikan ketua sebelumnya yang telah lanjut usia. Posisi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena ia harus memimpin petani yang lebih senior dengan tetap membangun komunikasi dan kepercayaan.
Keterlibatannya dalam Program Mannennungeng: Smart Hydro Loop yang diinisiasi Tim PPK Ormawa UKM KPI Universitas Hasanuddin kemudian memperkuat upaya tersebut. Burhanuddin menjadi penghubung antara mahasiswa dan masyarakat dalam penerapan teknologi pertanian cerdas, termasuk smart farming menggunakan AWD IoT.
“Selain didampingi secara teknis, terutama smart farming menggunakan AWD IoT, kami juga dihubungkan dengan instansi terkait yang dapat mendukung usaha tani di desa kami. Respons petani sangat antusias, terutama karena ada wawasan baru tentang teknologi berbasis IoT,” jelasnya.
Menurutnya, pengenalan teknologi turut membuka wawasan petani mengenai pola pertanian yang lebih modern dan terintegrasi. Petani muda juga mendapat pelatihan perakitan alat smart AWD IoT yang diharapkan dapat menumbuhkan minat mereka terhadap pertanian berbasis teknologi.
Sebagai Ketua P4S Lamellong, Burhanuddin berkomitmen melanjutkan pengetahuan yang diperoleh selama program kepada petani di sekitarnya.
“Tugas kami sebagai P4S adalah memberikan pelatihan kepada petani. Apa yang ditinggalkan tim Mannennungeng akan kami ajarkan juga kepada petani di sekitar, sehingga program ini bisa terus berjalan dan bahkan direplikasi di tingkat nasional,” tegasnya.
Ia melihat kesadaran masyarakat terhadap pertanian modern mulai tumbuh. Menurutnya, peningkatan kapasitas petani dan pemanfaatan teknologi juga dapat membuka peluang bagi peningkatan kesejahteraan.
Kolaborasi bersama mahasiswa turut memberikan pengalaman baru bagi masyarakat. Tidak hanya dalam kegiatan di lahan, mahasiswa juga terlibat dalam gotong royong dan pertukaran pengetahuan dengan warga.
Ke depan, Burhanuddin ingin menjadikan Kelompok Tani Mabbiring sebagai kelompok tani yang kuat secara kelembagaan dan P4S Lamellong sebagai pusat pembelajaran serta inovasi pertanian.
“Keterlibatan seluruh elemen menjadi poin penting dalam keberlanjutan program,” tambahnya.
Ia berharap semakin banyak generasi muda yang bersedia terlibat dalam sektor pertanian.
“Pertanian adalah sektor yang menjadikan kita kuat. Tanpa pangan, kita tidak akan bertahan. Kita butuh regenerasi, karena rata-rata petani kita sudah tua. Sudah saatnya anak muda turun ke sawah dan menjadi bagian dari perubahan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan