JENEPONTO – Tidak sekadar diam di belakang meja. Di tengah hiruk-pikuk upaya menekan angka stunting, Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Jeneponto, Dr. Mustaufiq, memilih turun langsung ke jantung masalah. Rabu (17/6) pagi, ia memimpin sendiri pemantauan pengukuran ulang balita stunting di Kelurahan Togo-Togo, Kecamatan Batang.
Langkah ini menjadi bukti nyata bahwa “perang” melawan stunting bukanlah monopoli satu dinas saja. Di bawah komando Bupati Paris Yasir, seluruh perangkat daerah diinstruksikan untuk bergerak bersama. Disdukcapil pun merespons dengan sigap bukan hanya sebagai pendukung data, tetapi sebagai garda terdepan akurasi informasi.
Untuk memastikan tidak ada celah kesalahan data, Dr. Mustaufiq membagi personelnya ke dalam tiga tim pemantau yang disebar di tiga lokasi strategis: Kelurahan Togo-Togo, Kelurahan Bontoraya, dan Desa Bungeng. Setiap tim bertugas memverifikasi langsung data kependudukan anak balita yang menjalani pengukuran ulang.
“Tanpa data yang presisi, intervensi hanya akan menjadi tembakan buta. Kami di Disdukcapil bertanggung jawab memastikan setiap balita yang terdata adalah benar-benar warga yang membutuhkan,” tegas Dr. Mustaufiq di sela kegiatan.
Pantauan di lapangan menunjukkan kolaborasi yang solid. Hadir mendampingi Kepala Puskesmas setempat, Lurah, aparat kecamatan, hingga Babinsa dan Bhabinkamtibmas. Tak ada sekat sektoral semua larut dalam satu misi: menekan angka stunting hingga ke titik nadir.
Warga pun menyambut antusias. Para orang tua balita berbondong-bondong membawa buah hati mereka ke pos pelayanan. Keramahan petugas dan kehadiran langsung pejabat Disdukcapil menjadi daya tarik tersendiri sehingga warga merasa diperhatikan secara langsung.
Data yang dihimpun dari Kelurahan Togo-Togo menunjukkan masih ada 27 balita yang terindikasi stunting dan 126 keluarga yang masuk kategori berisiko stunting. Angka yang tidak bisa diabaikan.
Melalui program Gesit Data Presisi, pemerintah daerah berharap setiap bantuan gizi, makanan tambahan, dan intervensi kesehatan tidak lagi salah sasaran. Dan di sinilah Disdukcapil memainkan peran krusial memastikan nama, alamat, dan status gizi setiap balita tercatat valid.
“Kami tidak ingin ada anak yang terlewat dari bantuan, tapi juga tidak ingin ada yang justru menerima bantuan ganda,” tegas Dr. Mustaufiq.
Di balik setiap data yang diverifikasi, ada masa depan anak-anak Jeneponto yang dipertaruhkan. Dengan langkah konkret seperti ini, Disdukcapil membuktikan bahwa birokrasi tidak harus kaku ia bisa bergerak, menyapa, dan menyentuh langsung kehidupan warga.
Gesit Data Presisi bukan lagi slogan. Di Jeneponto, ia telah menjadi gerakan nyata yang dimulai dari lorong-lorong kecil, dari sentuhan tangan petugas, dan dari komitmen seorang kepala dinas yang rela turun ke lapangan demi satu tujuan Jeneponto bebas stunting. (*)

Tinggalkan Balasan