MAKASSAR – Kemudahan akses layanan keuangan digital menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda.
Di tengah maraknya pinjaman online (pinjol), judi online (judol), dan penggunaan paylater, mahasiswa dituntut tidak hanya melek finansial, tetapi juga mampu memahami risiko sebelum mengambil keputusan keuangan.
Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Literasi Keuangan Indonesia Terdepan (LIKE IT!) 2026 yang digelar Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) di Baruga A.P. Pettarani, Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, Selasa (20/10/2026).
Mengusung tema “Membangun Generasi Aman, Paham dan Terlindungi”, kegiatan ini melibatkan empat lembaga anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), yakni Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI), dan LPS.
Ratusan mahasiswa tampak antusias mengikuti kuliah umum serta mengunjungi pameran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dan berbagai booth lembaga keuangan.
Selain memperoleh edukasi finansial, peserta juga berkesempatan mengikuti permainan interaktif berhadiah suvenir dan berbelanja produk kuliner UMKM.
Executive Director Secretariat and Institutional Relations Directorate LPS, KM Nuruddin, mengatakan Makassar dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan LIKE IT! karena memiliki posisi strategis sebagai salah satu pintu gerbang kawasan Indonesia Timur.
Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan seri kesembilan LIKE IT! sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antarlembaga dalam meningkatkan pemahaman keuangan masyarakat.
“Kita pilih Kota Makassar karena memang kita lihat Makassar ini adalah salah satu pintu di daerah Indonesia Timur. Jadi, kita harapkan dengan menyelenggarakan kegiatan Literasi Keuangan Indonesia Terdepan ini, kolaborasi antara empat lembaga anggota KSSK, yakni Kementerian Keuangan, OJK, BI, dan LPS, dapat terjalin lebih baik,” ungkap Nuruddin.
Ia menjelaskan, peningkatan literasi keuangan menjadi langkah penting untuk mendorong masyarakat memiliki kemandirian dalam mengelola keuangan, termasuk ketika menentukan pilihan produk dan layanan keuangan yang sesuai dengan kebutuhan serta kemampuan masing-masing.
“Kita berharap dengan memperluas kegiatan ini ke beberapa daerah, literasi keuangan yang masih berada pada level rendah dibandingkan inklusi dapat terus meningkat dari tahun ke tahun,” ujarnya.
Akses Keuangan Makin Mudah, Literasi Harus Mengimbangi
Nuruddin menyoroti perkembangan akses keuangan digital yang semakin cepat, terutama di kalangan generasi muda. Melalui telepon seluler, masyarakat kini dapat mengakses berbagai produk dan layanan keuangan hanya dalam beberapa langkah.
Namun, kemudahan tersebut belum selalu diikuti pemahaman yang memadai mengenai manfaat, risiko, serta konsekuensi finansial dari setiap produk yang digunakan.
“Artinya, masyarakat sekarang memiliki akses yang sangat luas terhadap produk atau jasa keuangan. Dengan sekali klik melalui mobile banking, masyarakat, khususnya generasi muda, sangat cepat mengakses jasa atau produk keuangan tersebut. Tapi, kekurangan kita adalah bagaimana memberikan edukasi mengenai manfaat dan risikonya,” jelasnya.
Menurut Nuruddin, pemahaman keuangan tidak cukup hanya sebatas mengetahui cara membuka rekening, menggunakan aplikasi perbankan, atau melakukan transaksi digital.
Masyarakat juga perlu memahami ketentuan penggunaan produk, biaya yang timbul, kewajiban pembayaran, hingga mekanisme pencairan dana ketika membutuhkan likuiditas.
Ia menilai, pengetahuan tersebut penting agar masyarakat tidak mudah tergiur oleh tawaran produk keuangan tanpa mempertimbangkan konsekuensi yang mungkin muncul di kemudian hari.
“Masyarakat juga kadang-kadang tidak tahu cara pencairan produk investasi atau produk lainnya, termasuk bagaimana memperoleh likuiditas ketika membutuhkan dana dengan cepat. Mekanisme ini perlu kita pahami mulai sekarang,” tuturnya.
Nuruddin berharap edukasi keuangan dapat membantu generasi muda lebih selektif dalam memilih layanan finansial, terutama ketika menghadapi tawaran pinjaman online dan fasilitas pembayaran yang berpotensi tidak sesuai dengan kemampuan ekonomi mereka.
Mahasiswa Diingatkan Jangan Terjebak Cicilan Paylater
Salah satu perhatian LPS dalam kegiatan LIKE IT! 2026 adalah kebiasaan menggunakan layanan paylater tanpa memperhitungkan kemampuan membayar cicilan.
Fasilitas pembayaran tunda memang menawarkan kemudahan untuk bertransaksi. Namun, tanpa perencanaan yang baik, kewajiban pembayaran dapat menumpuk dan mengganggu kebutuhan keuangan lainnya.
Nuruddin menegaskan, mahasiswa perlu memahami kemampuan finansial pribadi sebelum memutuskan menggunakan layanan tersebut.
Keinginan membeli barang atau mengikuti tren tidak seharusnya mengalahkan pertimbangan mengenai pendapatan dan kewajiban pembayaran.
“Kadang-kadang mahasiswa tertarik atau tergiur menggunakan paylater, tetapi kemampuan untuk melunasi atau melakukan cicilan setiap bulannya tidak terjangkau. Itu yang kita harapkan sekarang, masyarakat teredukasi. Minimal mereka tahu cara mengelola keuangannya karena ini juga untuk masa depan,” tandasnya.
Ia mengingatkan, pengelolaan keuangan yang baik perlu dimulai sejak masa kuliah. Mahasiswa harus mampu membedakan kebutuhan dan keinginan, menyusun anggaran, memperhitungkan kewajiban cicilan, serta menyisihkan dana untuk kebutuhan mendesak.
Pemahaman tersebut diharapkan dapat membentuk kebiasaan finansial yang sehat ketika mahasiswa memasuki dunia kerja dan mulai mengelola penghasilan secara mandiri.
LIKE IT! Dorong Generasi Muda Lebih Aman Bertransaksi
Melalui LIKE IT! 2026 di Universitas Hasanuddin, LPS bersama Kementerian Keuangan, OJK, dan BI berupaya memperluas jangkauan edukasi keuangan kepada generasi muda.
Kehadiran kuliah umum, pameran UMKM, dan booth lembaga keuangan menjadi bagian dari pendekatan edukasi yang menggabungkan penyampaian materi dengan pengalaman interaktif.
Kegiatan ini juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengenal berbagai layanan keuangan sekaligus memahami pentingnya mengambil keputusan secara bijak sebelum menggunakan produk finansial.
Di tengah pesatnya digitalisasi, kemampuan mengelola uang menjadi bekal penting agar generasi muda tidak hanya menikmati kemudahan transaksi, tetapi juga mampu melindungi diri dari risiko keuangan.
Pesan yang ditekankan LPS cukup jelas: akses keuangan yang luas harus diimbangi literasi yang kuat.
Dengan memahami manfaat, risiko, dan kemampuan membayar, mahasiswa diharapkan dapat membangun kemandirian finansial serta menghindari keputusan yang berpotensi membebani masa depan mereka.

Tinggalkan Balasan