MATASULSEL.ID, MAKASSAR – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia dan kebakaran hutan Amazon di Brasil kerap disamakan dalam pemberitaan global sebagai ancaman lingkungan dunia.

Padahal, keduanya memiliki akar masalah, karakter api, dan cara penanganan yang berbeda.

Perbedaan paling mendasar ada pada material yang terbakar.

Karhutla di Indonesia, terutama di Sumatra dan Kalimantan, banyak terjadi di lahan gambut, yakni timbunan material organik setengah membusuk selama ribuan tahun yang menyimpan cadangan karbon besar. Ketika dikeringkan untuk perkebunan, gambut mudah terbakar hingga ke kedalaman tanah. Sementara itu, hutan Amazon secara alami lembap dan sulit terbakar sendiri.

Kebakaran di sana hampir selalu diawali deforestasi: pohon ditebang, dibiarkan mengering, lalu dibakar untuk lahan pertanian atau peternakan sapi.

Karakter api pun berbeda

Api di lahan gambut merambat di bawah permukaan. Meski bagian atas tampak padam, bara di dalam tanah masih menyala sehingga pemadaman memakan waktu lama dan sering memerlukan pembasahan masif atau hujan buatan.

Di Amazon, api membakar biomassa permukaan seperti kayu, ranting, dan daun kering. Tantangannya adalah wilayah yang luas, terisolasi, dan minim akses pemadaman.

Dari sisi dampak, kabut asap karhutla Indonesia kerap terbawa angin musiman melintasi batas negara hingga ke Malaysia dan Singapura, sehingga memicu persoalan kesehatan dan diplomasi regional.

Adapun kebakaran Amazon berdampak pada hilangnya keanekaragaman hayati dan berkurangnya kemampuan hutan menyerap karbon. Amazon dikenal sebagai “paru-paru dunia”, dan hilangnya hutan secara permanen dikhawatirkan mendorong ekosistemnya menuju degradasi menjadi savana.

Pemicunya juga tidak sama. Di Indonesia, kemarau panjang akibat El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) dimanfaatkan oknum tertentu untuk membuka lahan dengan cara membakar karena murah.

Di Brasil, selain musim kering yang makin panjang, kebakaran berkaitan erat dengan kebijakan politik domestik, lemahnya penegakan hukum terhadap pembalakan liar, dan insentif ekspansi agribisnis.

Perbedaan ini menegaskan bahwa penanganan krisis iklim tidak bisa disamaratakan. Di Indonesia, fokus utamanya adalah restorasi hidrologi dan perlindungan ekosistem gambut. Di Brasil, kuncinya menghentikan deforestasi ilegal dan menegakkan hukum tata guna lahan.

Penulis : Januari Golorem, SH