MAKASSAR — Ekonomi Sulawesi Selatan mulai kehilangan momentum pertumbuhan setelah ekspansi pada triwulan I 2026 yang didorong lonjakan konsumsi selama periode Ramadan dan Idulfitri.
Pada triwulan II 2026, ekonomi Sulsel tumbuh 5,59% secara tahunan (year-on-year/yoy), melambat cukup signifikan dibandingkan pertumbuhan 6,88% pada triwulan sebelumnya.
Meski melambat, kinerja ekonomi Sulsel masih mencatat pertumbuhan positif dan menempatkan provinsi tersebut pada peringkat ke-12 secara nasional.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan Rizki Ernadi Miwanda mengatakan perlambatan tersebut tidak terlepas dari normalisasi konsumsi masyarakat setelah periode long festive season Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idulfitri pada triwulan I 2026.
“Normalisasi konsumsi rumah tangga setelah periode HBKN pada triwulan I menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perlambatan pertumbuhan ekonomi Sulsel,” kata Rizki.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian Sulsel pada triwulan II 2026 mencapai Rp206,70 triliun berdasarkan PDRB atas dasar harga berlaku dan Rp110,41 triliun berdasarkan harga konstan 2010. Secara kuartalan, ekonomi Sulsel sebenarnya masih tumbuh 6,09%.
Konsumsi Mulai Normal, Ekspor Tertekan
Dari sisi pengeluaran, perlambatan terutama bersumber dari normalisasi konsumsi rumah tangga dan kontraksi ekspor barang dan jasa.
Konsumsi rumah tangga sebelumnya memperoleh dorongan kuat dari peningkatan aktivitas masyarakat selama Ramadan dan Idulfitri.
Setelah momentum tersebut berakhir, pola konsumsi kembali menuju kondisi yang lebih normal sehingga tidak lagi memberikan dorongan sebesar pada triwulan I.
Tekanan juga datang dari sektor eksternal. Kontraksi ekspor barang dan jasa menjadi salah satu faktor yang menahan laju ekonomi Sulsel pada triwulan II.
Kondisi tersebut membuat struktur pertumbuhan ekonomi Sulsel mulai bergeser. Ketika konsumsi rumah tangga dan ekspor melemah, investasi serta belanja pemerintah justru tampil sebagai penyangga pertumbuhan.
Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tetap menguat, didukung peningkatan investasi pemerintah maupun swasta. Pada saat yang sama, konsumsi pemerintah berada pada level tinggi seiring akselerasi belanja modal melalui APBN dan APBD.
Kondisi ini menunjukkan bahwa mesin pertumbuhan Sulsel pada triwulan II tidak sepenuhnya kehilangan tenaga. Momentum pertumbuhan bergeser dari konsumsi masyarakat menuju investasi dan belanja pemerintah.
Pertanian dan Nikel Jadi Beban
Tekanan pertumbuhan juga terlihat dari sisi lapangan usaha. Sektor pertanian mengalami kontraksi akibat penurunan produksi padi.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena pertanian merupakan salah satu sektor utama dalam struktur ekonomi Sulsel sekaligus memiliki keterkaitan kuat dengan pendapatan masyarakat dan konsumsi domestik.
Selain pertanian, sektor pertambangan juga mengalami kontraksi seiring dengan turunnya produksi nikel.
Penurunan kedua sektor tersebut menjadi kombinasi yang cukup berat bagi perekonomian daerah. Pertanian menghadapi persoalan produksi, sementara pertambangan berhadapan dengan pelemahan output komoditas nikel.
Perlambatan juga terjadi pada lapangan usaha perdagangan dan industri pengolahan. Namun, tekanan tersebut masih dapat diredam oleh akselerasi sektor konstruksi.
Konstruksi Jadi Penahan Perlambatan
Sektor konstruksi menjadi salah satu penopang penting ekonomi Sulsel pada triwulan II 2026.
Akselerasi konstruksi ditopang oleh percepatan realisasi belanja modal pemerintah serta penyelesaian sejumlah proyek multiyears, terutama pembangunan jalan dan jembatan.
Kinerja tersebut memperlihatkan semakin pentingnya investasi dan belanja pemerintah sebagai bantalan ketika konsumsi rumah tangga mulai kembali normal dan sektor eksternal menghadapi tekanan.
Data BPS juga menunjukkan konstruksi menjadi lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi secara kuartalan pada triwulan II 2026, yakni 18,08%. Dari sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah mencatat pertumbuhan tertinggi secara kuartalan sebesar 29,08%.
Momentum Pertumbuhan Bergeser
“Perlambatan dari 6,88% menjadi 5,59% tidak serta-merta menunjukkan ekonomi Sulsel kehilangan seluruh daya dorongnya. Justru, komposisi pertumbuhan menunjukkan adanya perubahan sumber tenaga ekonomi,” beber Rizki.
Pada triwulan I, konsumsi rumah tangga menjadi salah satu motor utama seiring momentum Ramadan dan Idulfitri. Memasuki triwulan II, mesin tersebut mulai normal, sementara investasi dan belanja pemerintah mengambil peran lebih besar.
BI sebelumnya memproyeksikan ekonomi Sulsel sepanjang 2026 masih dapat tumbuh dalam kisaran 5,4%–6,2%, dengan dukungan konsumsi rumah tangga, peningkatan belanja pemerintah, serta penguatan PMTB.
Dengan demikian, tantangan Sulsel pada paruh kedua 2026 bukan hanya menjaga laju pertumbuhan, tetapi memastikan investasi dan belanja pemerintah mampu mengompensasi normalisasi konsumsi serta menjaga sektor-sektor produktif seperti pertanian, pertambangan, perdagangan, dan industri pengolahan tetap bergerak.
Pertumbuhan 5,59% masih menunjukkan ekonomi Sulsel tumbuh solid. Namun, perlambatan hampir 1,3 poin persentase dalam satu triwulan menjadi sinyal bahwa mesin pertumbuhan perlu segera mencari sumber tenaga baru.

Tinggalkan Balasan