BALI — Perekonomian kawasan Sulawesi mencatat pertumbuhan 5,53 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada triwulan II 2026.

Capaian tersebut menjadikan Sulawesi sebagai salah satu kawasan dengan pertumbuhan ekonomi yang tetap kuat di tengah dinamika perekonomian nasional.

Berdasarkan paparan Bank Indonesia, pertumbuhan ekonomi Sulawesi pada periode tersebut memberikan kontribusi sekitar 7,28 persen terhadap perekonomian nasional.

Kinerja tersebut ditopang oleh pertumbuhan di sejumlah provinsi, dengan Sulawesi Selatan menjadi salah satu kontributor terbesar.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan Rizki Ernadi Wimanda  dalam pemaparan perkembangan ekonomi regional di Capacity Building Bank Indonesia yang dilaksanakan di Pulau Dewata, Bali.

Data Bank Indonesia menunjukkan, ekonomi Sulawesi Selatan tumbuh sekitar 5,59 persen yoy, dengan kontribusi sekitar 2,47 persen terhadap perekonomian nasional.

Rizki Ernadi Wimanda mengatakan kinerja ekonomi Sulsel masih menunjukkan ketahanan di tengah berbagai dinamika perekonomian nasional dan global.

Pertumbuhan ekonomi Sulsel tetap terjaga di tengah dinamika perekonomian nasional, kata Rizki, Kamis, 27 Agustus 2026 di Bali.

Ia menilai, capaian tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi Sulsel masih bergerak positif.

Pertumbuhan ekonomi daerah ditopang oleh sejumlah sektor utama, termasuk perdagangan, industri pengolahan, pertanian, serta aktivitas investasi.

Berdasarkan data pada paparan Bank Indonesia, ekonomi Sulsel pada triwulan II 2026 tumbuh 5,59 persen secara tahunan (yoy).

Angka tersebut menempatkan Sulsel sebagai salah satu daerah dengan pertumbuhan ekonomi yang tetap kuat di kawasan Sulawesi.

Secara keseluruhan, ekonomi kawasan Sulawesi tumbuh 5,53 persen (yoy) pada periode yang sama. Sulsel juga memberikan kontribusi sekitar 2,47 persen terhadap perekonomian nasional.

Menurut Rizki, menjaga momentum pertumbuhan menjadi penting di tengah ketidakpastian ekonomi.

Sinergi antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, perbankan, dan dunia usaha diperlukan untuk memperkuat daya tahan ekonomi sekaligus mendorong sumber-sumber pertumbuhan baru.

Di kawasan Sulawesi, pertumbuhan tertinggi tercatat di Gorontalo sebesar 6,20 persen, disusul Sulawesi Tenggara 6,19 persen, Sulawesi Selatan 5,59 persen, Sulawesi Utara 5,42 persen, Sulawesi Barat 5,20 persen, dan Sulawesi Tengah 5,06 persen.

Kinerja Sulawesi Selatan menjadi penting karena struktur ekonomi provinsi ini memiliki peran besar sebagai pusat perdagangan, jasa, industri, dan distribusi di kawasan timur Indonesia.

Sebelumnya, Bank Indonesia mencatat ekonomi Sulawesi Selatan pada triwulan I 2026 tumbuh 6,88 persen yoy, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,61 persen.

Pertumbuhan tersebut terutama ditopang industri pengolahan, perdagangan, pertanian, dan konstruksi.

Secara spasial, pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2026 tertinggi berada di kawasan Bali dan Nusa Tenggara sebesar 6,10 persen, kemudian Jawa sebesar 5,65 persen dan Sulawesi sebesar 5,53 persen.

Sementara itu, Sumatera tumbuh 5,04 persen, Kalimantan 4,16 persen, serta Maluku dan Papua 1,36 persen.

Pertumbuhan Masih Terjaga

Capaian Sulawesi tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi regional masih berada dalam jalur ekspansi.

Investasi, konsumsi domestik, perdagangan, serta aktivitas produksi menjadi faktor penting dalam menjaga momentum pertumbuhan.

Untuk Sulawesi Selatan, Bank Indonesia memproyeksikan perekonomian 2026 tetap tumbuh kuat pada kisaran 5,4–6,2 persen.

Pertumbuhan diperkirakan ditopang konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, investasi, serta penguatan sejumlah sektor utama.

Di sisi lain, tantangan tetap berasal dari ketidakpastian ekonomi global dan dinamika harga komoditas.

Karena itu, penguatan sektor produktif dan hilirisasi menjadi penting agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya tinggi, tetapi juga mampu menciptakan nilai tambah dan lapangan kerja yang lebih besar.

Bank Indonesia sendiri menempatkan penguatan sinergi kebijakan dengan pemerintah daerah sebagai bagian penting dalam menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan.