MAKASSAR – Ketegangan geopolitik global yang semakin memanas ternyata tidak selalu membuat harga emas bergerak naik. Di tengah gejolak konflik dan ketidakpastian pasar, emas justru sempat mengalami koreksi bersama sejumlah aset lainnya, mulai dari saham, perak hingga aset kripto.

Fenomena tersebut menjadi paradoks tersendiri bagi pasar keuangan. Selama ini emas dikenal sebagai aset safe haven yang banyak diburu investor ketika risiko geopolitik meningkat.

Pemimpin Wilayah PT Pegadaian Kanwil VI Sulselbara & Maluku, Pratikno, menjelaskan koreksi harga emas tidak serta-merta menunjukkan berkurangnya nilai intrinsik logam mulia tersebut.

Menurutnya, pergerakan tersebut lebih berkaitan dengan mekanisme likuiditas global yang tengah mengalami tekanan. Ketika kebutuhan terhadap likuiditas dolar Amerika Serikat (USD) meningkat tajam, berbagai aset yang mudah dicairkan dapat ikut mengalami tekanan jual.

“Tekanan jual pada emas bukanlah bentuk mosi tidak percaya terhadap logam mulia tersebut. Sebaliknya, emas dilepas justru karena posisinya sebagai aset yang sangat likuid, diakui secara universal, dan dapat dicairkan menjadi tunai dalam waktu singkat,” jelas Pratikno dalam kajiannya.

Ia menyebut terdapat dua kekuatan makroekonomi yang secara bersamaan dapat menyerap likuiditas dolar dari sistem keuangan global, yakni dinamika perdagangan energi dan penyesuaian kebijakan moneter Jepang.

Dalam perdagangan energi global, sebagian besar transaksi minyak menggunakan dolar AS. Ketika konflik geopolitik mengancam stabilitas pasokan energi, kebutuhan negara-negara untuk mengamankan pasokan minyak dan energi ikut meningkat.

Kondisi itu kemudian mendorong kebutuhan terhadap dolar AS dalam jumlah besar. Cadangan dolar yang likuid di pasar global pun dapat mengalami tekanan.

Di sisi lain, perubahan kebijakan moneter Jepang juga memiliki pengaruh terhadap arus modal global. Selama bertahun-tahun, suku bunga Jepang yang sangat rendah membuat yen menjadi salah satu sumber pendanaan murah bagi investor global melalui praktik Yen Carry Trade.

Ketika biaya pinjaman di Jepang meningkat akibat perubahan kebijakan moneter, investor dapat menghadapi kebutuhan likuiditas secara mendadak. Dalam kondisi tersebut, aksi jual terhadap berbagai aset global dapat terjadi untuk memperoleh dolar AS dan memenuhi kewajiban keuangan.

“Ketika institusi keuangan global memerlukan Dolar AS secara cepat untuk mengamankan kebutuhan modal atau menyelesaikan kewajiban likuiditas, mereka terpaksa melakukan pelepasan aset,” kata Pratikno.

Menurut dia, karakter emas sebagai aset yang sangat likuid justru membuatnya menjadi salah satu aset yang dapat dijual ketika pelaku pasar membutuhkan dana tunai dalam waktu cepat.

Fenomena tersebut juga perlu dipahami secara lebih luas. Harga emas yang terlihat di pasar pada dasarnya merupakan nilai emas yang diukur terhadap dolar AS. Karena itu, penguatan dolar secara signifikan dalam periode tertentu dapat membuat harga emas terlihat terkoreksi.

“Koreksi harga emas lebih menggambarkan penguatan nilai Dolar AS yang signifikan terhadap mata uang lain secara singkat, bukan penurunan nilai intrinsik emas itu sendiri,” ujarnya.

Pratikno menilai dinamika tersebut penting dipahami masyarakat dan pelaku usaha, khususnya di wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara hingga Maluku yang memiliki aktivitas perdagangan komoditas, sektor maritim dan hasil bumi yang cukup dinamis.

Menurutnya, memahami hubungan antara geopolitik, likuiditas dolar dan harga aset menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan arus kas sekaligus melindungi nilai kekayaan.

Ia mengingatkan agar masyarakat tidak mengambil keputusan investasi semata-mata berdasarkan gejolak pasar jangka pendek. Diversifikasi aset, pengelolaan risiko dan perencanaan keuangan jangka panjang tetap menjadi fondasi penting menghadapi ketidakpastian global.

Dengan demikian, koreksi emas di tengah ketegangan geopolitik tidak semestinya langsung dimaknai sebagai hilangnya daya tarik emas. Pergerakan tersebut perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas, terutama perubahan likuiditas global dan kebutuhan pasar terhadap dolar AS.