Jeneponto– Mahasiswa KKN-T 116 Digitalisasi Desa Universitas Hasanuddin di bawah bimbingan Dosen Pendamping KKN (DPK) Pak Dr. Hasan Basri, SKM, melaksanakan program kerja “Pembentukan UMKM Percontohan Desa Lentu” di Desa Lentu pada Minggu, 2 Agustus 2026, Kecamatan Bontoramba, Kabupaten Jeneponto. Program ini bertujuan membentuk satu UMKM percontohan yang memiliki identitas usaha yang kuat, tampilan produk yang lebih menarik, serta mampu memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana promosi dan pengembangan usaha, rabu(05/08/2026).

Program pembentukan UMKM percontohan dilaksanakan melalui pendampingan secara intensif terhadap satu pelaku usaha lokal yang dipilih sebagai model pengembangan usaha berbasis digital di Desa Lentu. Mahasiswa terlebih dahulu melakukan identifikasi potensi usaha, kemudian melakukan pendampingan dalam menentukan nama usaha yang sesuai dengan karakteristik produk dan potensi yang dimiliki oleh pelaku UMKM. Proses pencarian nama usaha dilakukan melalui diskusi bersama pelaku usaha dengan mempertimbangkan jenis produk, nilai lokal, serta kemudahan nama tersebut untuk dikenali oleh konsumen. Dari hasil pendampingan tersebut, diperoleh nama usaha “Madurasa Ubi Jalar”, yang mengangkat produk unggulan Kareppe (Keripik Ubi Jalar Gula Merah) sebagai salah satu makanan khas yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk unggulan desa.

Sebelum dilakukan pembuatan logo usaha, mahasiswa terlebih dahulu memastikan bahwa identitas merek yang dibangun telah sesuai dengan karakter produk dan nilai yang ingin ditampilkan. Setelah nama usaha ditetapkan, mahasiswa kemudian merancang logo yang mencerminkan karakter produk sekaligus meningkatkan nilai jual. Pendampingan dilanjutkan dengan pembuatan desain kemasan yang lebih menarik dan informatif, serta merealisasikan kemasan tersebut agar dapat langsung digunakan dalam pemasaran produk. Selain itu, mahasiswa juga membuat desain spanduk usaha sebagai media promosi, mendaftarkan titik lokasi usaha pada Google Maps agar lebih mudah ditemukan oleh konsumen, melakukan aktivasi QRIS sebagai metode pembayaran digital, serta membuat akun Instagram sebagai sarana promosi dan komunikasi dengan pelanggan.

Tidak hanya membantu pembuatan akun, mahasiswa juga memberikan pendampingan mengenai cara mengelola Instagram secara efektif, mulai dari menyusun profil usaha yang profesional, membuat jadwal unggahan yang konsisten, menyusun caption yang menarik, memanfaatkan hashtag yang relevan, hingga membangun interaksi dengan pelanggan. Untuk mendukung kemampuan tersebut, mahasiswa turut memberikan pelatihan pembuatan konten digital menggunakan aplikasi Canva dan CapCut sehingga pelaku UMKM mampu menghasilkan desain promosi, foto produk, dan video pemasaran yang menarik serta dapat mengelola media sosial usahanya secara mandiri. Diharapkan keterampilan ini dapat terus dimanfaatkan setelah program KKN berakhir sehingga promosi produk dapat dilakukan secara berkelanjutan.

Melalui rangkaian pendampingan tersebut, UMKM percontohan diharapkan menjadi contoh nyata bagi pelaku usaha lainnya di Desa Lentu dalam membangun identitas usaha, meningkatkan kualitas pemasaran, serta memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan daya saing produk lokal.

Pelaku UMKM, Ibu Nadia, menyampaikan rasa antusias dan apresiasinya terhadap program yang dilaksanakan oleh mahasiswa KKN-T 116 Digitalisasi Desa Universitas Hasanuddin.

“Saya sangat terbantu dengan adanya program ini. Sekarang usaha kami sudah memiliki nama merek Madurasa Ubi Jalar, logo, kemasan yang lebih menarik, media promosi digital, serta akun Instagram untuk memasarkan produk. Saya juga mendapatkan pengetahuan tentang cara mengelola media sosial sehingga dapat mempromosikan produk secara mandiri. Saya berharap pendampingan ini dapat membantu usaha kami semakin dikenal dan berkembang,” ujar Ibu Nadia.

Kepala Desa Lentu turut mengapresiasi pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, pembentukan UMKM percontohan merupakan langkah yang tepat dalam memberikan contoh kepada pelaku usaha lain mengenai pentingnya membangun identitas usaha dan memanfaatkan teknologi digital sebagai strategi pengembangan bisnis.

“Program ini memberikan contoh nyata pemanfaatan teknologi digital dalam pengembangan UMKM. Kami berharap program seperti ini dapat memotivasi pelaku usaha lain di Desa Lentu untuk terus berkembang,” ujarnya.

Melalui program Pembentukan UMKM Percontohan Desa Lentu, mahasiswa KKN-T 116 Digitalisasi Desa Universitas Hasanuddin berharap lahirnya UMKM yang tidak hanya memiliki produk berkualitas, tetapi juga identitas usaha yang profesional, sistem pemasaran digital yang lebih efektif, serta kemampuan untuk mengelola promosi secara mandiri. Program ini diharapkan menjadi inspirasi bagi pelaku UMKM lainnya dalam mengembangkan usaha berbasis teknologi, sekaligus menjadi wujud nyata implementasi SDGs Universitas Hasanuddin, khususnya SDG 1 (Tanpa Kemiskinan) dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui pemberdayaan ekonomi masyarakat dan kolaborasi dalam membangun desa yang lebih maju, inovatif, dan berkelanjutan.