Untuk Ananda Tersayang, Istriku Tercinta, dan Anak-Anakku yang Luar Biasa. Pagi ini, dada Ayah masih bergetar. Air mata yang jatuh sejak semalam belum sepenuhnya kering, dan jujur, Ayah tidak ingin menghentikannya. Karena setiap tetesnya adalah rasa syukur, rasa haru, dan rasa cinta yang terlalu besar untuk disimpan sendiri di dalam dada.

Untukmu, Anak Sulungku… Malam itu, di antara riuk-pikuk meja kafe dan aroma kopi yang membumbung, Ayah duduk menatapmu dari kejauhan.

Waktu serasa berhenti. Dalam balutan pakaian hitam yang kamu kenakan, Ayah tidak hanya melihat seorang pelayan kafe yang tangkas mengantarkan pesanan. Ayah melihat anak bayi yang dulu Ayah timang, anak kecil yang dulu belajar mengeja ayat-ayat Allah, anak muda yang dengan santun menuntaskan hafalan Al-Qur’an dan menjaga kesalehannya.

Saat jemarimu meletakkan cangkir kopi di meja Ayah, dan bibirmu mengukir senyum tulus itu… runtuh sudah seluruh pertahanan hati Ayah.

Semalam, dalam perjalanan pulang di atas motor, tangis Ayah pecah. Ayah menangis bukan karena merasa gagal memberimu kenyamanan. Ayah menangis karena Ayah sangat bangga dan terharu melihat keberanianmu.

Ketahuilah, Nak… jika langkah ini kamu ambil bukan karena pelarian, melainkan bentuk ikhtiarmu untuk belajar berdiri di atas kaki sendiri, melatih mentalmu menembus kerasnya dunia, dan menempa kerendahan hatimu—maka ketahuilah bahwa *Ayah dan Ibu merestuimu sepenuh jiwa.*

Kamu tidak pernah menurunkan martabat keluarga ini, justru kamu sedang meninggikannya dengan akhlak, kerja keras, dan kemandirianmu.
Tetaplah menjadi dirimu yang saleh. Jadikan setiap tetes keringatmu di sela-sela kuliah sebagai ibadah, dan jadikan kerendahan hatimu sebagai perisai.

Langkahmu hari ini adalah pelajaran hidup termewah yang sedang kamu ukir untuk masa depanmu sendiri.

Untuk Istriku Tercinta, Ibu dari Anak-Anakku…
Terima kasih telah menemani perjalanan panjang ini sejak 2005. Jika hari ini kita melihat anak-anak kita bertumbuh begitu cepat dan berani mengambil keputusan hidupnya, ini adalah ijabah dari doa-doa panjangmu di sepertiga malam.
Jangan pernah ragu, kita tidak gagal. Kita sedang memetik buah dari didikan, keikhlasan, dan air mata yang kita siramkan sejak mereka kecil.

Dan Untuk Anak-Anakku Semua… Waktu berjalan terlalu cepat. Hari ini kakakmu memberi kita semua pelajaran tentang arti bertumbuh dan bertanggung jawab. Kalian bertiga adalah harta terindah, kado paling sempurna dalam hidup Ayah dan Ibu.

Apa pun impian kalian, ke mana pun arah yang kalian pilih kelak, ingatlah satu hal : Rumah ini, dan hati Ayah-Ibu, akan selalu menjadi pelabuhan paling aman untuk kalian pulang.

Dari Ayah yang mencintai kalian tanpa batas.