MAKASSAR – Di tengah gelombang ketidakpastian ekonomi global yang datang silih berganti seperti ombak tak kenal lelah, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hadir sebagai jangkar kokoh bagi perekonomian Sulawesi Selatan.

Hingga akhir Maret 2026, kinerja APBN di provinsi ini menunjukkan peran strategisnya dalam menjaga stabilitas sekaligus menggerakkan roda ekonomi daerah.

Realisasi belanja negara tercatat mencapai Rp12,76 triliun atau tumbuh 9,92 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Angka ini setara 24,72 persen dari total pagu, mencerminkan akselerasi belanja pemerintah yang tetap terjaga di tengah dinamika global.

Belanja tersebut mengalir ke berbagai sektor penting, mulai dari belanja pegawai, barang, hingga bantuan sosial.

Pemerintah memastikan belanja tetap produktif, menjaga daya beli masyarakat, sekaligus menjamin keberlanjutan layanan publik di seluruh wilayah Sulsel.

Di sisi lain, pendapatan negara telah mencapai Rp3,35 triliun atau sekitar 18,20 persen dari target, dengan kontribusi terbesar berasal dari penerimaan perpajakan sebesar Rp2,34 triliun.

Pajak penghasilan (PPh) dan pajak pertambahan nilai (PPN) menjadi tulang punggung penerimaan tersebut.

Tak hanya itu, Transfer ke Daerah (TKD) juga menunjukkan performa solid dengan realisasi mencapai Rp8,05 triliun atau 30,07 persen dari pagu.

Dana ini didominasi oleh Dana Alokasi Umum (DAU) sebesar Rp5,81 triliun, yang memberikan ruang fiskal bagi pemerintah daerah untuk tetap menjalankan program pembangunan dan pelayanan publik.

APBN juga menjadi motor penggerak berbagai program strategis yang langsung menyentuh masyarakat.

Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) misalnya, telah tersalurkan sebesar Rp4,22 triliun kepada lebih dari 61 ribu debitur, dengan dominasi sektor pertanian dan perdagangan.

Subsidi bunga sebesar Rp371,71 miliar turut memperkuat daya tahan pelaku usaha.

Selain itu, berbagai program sosial dan pembangunan terus berjalan, seperti:

  • Program Makan Bergizi Gratis yang telah menjangkau hampir 2 juta penerima manfaat
  • Pendirian 1.289 Gerai Koperasi Merah Putih
  • Penyaluran pembiayaan perumahan (FLPP) sebanyak 3.198 unit rumah senilai Rp399,55 miliar
  • Produksi padi mencapai 5,39 juta ton dalam mendukung ketahanan pangan
  • Pembangunan 16 Sekolah Rakyat yang melampaui target awal

Secara keseluruhan, APBN terbukti bukan sekadar instrumen fiskal, melainkan mesin penggerak yang menjaga denyut ekonomi tetap stabil.

Ia bekerja seperti “jaringan akar” yang tak terlihat namun menopang kehidupan, memastikan ekonomi Sulawesi Selatan tetap tumbuh dan tangguh menghadapi tekanan global.

Dengan kinerja yang terjaga dan penyaluran yang semakin tepat sasaran, APBN 2026 diproyeksikan akan terus menjadi fondasi utama dalam memperkuat ketahanan ekonomi daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.