By. Rudianto Aidid

Pemerintah dan Masyarakat Kabupaten Jeneponto semalam menggelar acara Maulid Nabi Besar Muhammad SAW. Tahun kemarin acara ini dilaksanakan di halaman Kantor Bupati yang kemudian waktu itu sempat viral, tahun ini dilaksanakan di Stadion Mini Turatea. Sejak diresmikan oleh Bapak Gubernur telah banyak iven yang dilakukan ditempat ini yang kini menjadi salah satu ikonik Kabupaten Jeneponto. Seperti saat ini sedang berlangsung juga kegiatan Provinsi yakni turnamen sepakbola Piala Gubernur Sulawesi Selatan yang diikuti oleh semua Kabupaten wilayah Selatan. Namun disela turnamen itu Pemerintah Kabupaten Jeneponto menjalankan agenda lainnya yang juga sangat meriah tapi tetap hikmad seperti Maulid Nabi SAW yang setiap tahunnya dilaksanakan. Yang menariknya lagi karena salah satu ustaz viral yang biasa disebut Ustaz Das’ad menjadi penceramah dan memberikan hikmah peringatan Maulid. Jadi meskipun acara ini setiap tahun dilaksanakan tapi selalu ada pembeda.

Dalam tausiyah yang disampaikan semalam, Ustaz Das’ad Latif banyak memberikan hikmah dari peringatan Maulid Nabi. Inti dari setiap memperingati Maulid ini adalah mengambil nilai-nilai dari apa yang telah dicontohkan Nabi dan menjadikan Rasulullah Muhammad SAW sebagai satu-satunya role model dalam berbagai gerak aspek kehidupan untuk meraih kebahagiaan dunia akhirat. Untuk itu sebagai ummat dapat melihat dan membaca berbagai perspektif tentangnya. Sepanjang keinginan untuk mencari tahu, maka akan ditemukan ummat yang termotivasi untuk edukasi bahkan riset tentang Nabi Muhammad SAW. Ini hal yang amat penting karena zaman ini telah menelan diskusi, pembahasan atau kajian tentang seseorang yang menjadi – Rahmatan Lil alamin – inilah sang pembaharu kosmik yang sesungguhnya. Bagi Gen Z apatahlagi Gen Alpha sudah jarang menemukan atau membicarakan Tokoh ini (Nabi Muhammad SAW) pada ruang-ruang inklusif, mungkin sedikit berada pada ruang eksklusif.

Peringatan Maulid Nabi seyogyanya adalah rutinitas yang dapat menjadi perhentian sejenak kita – all Gen – untuk menengok kembali cermin kehidupan manusia. Mengenali (untuk Gen Z, Alp) dan menelusuri (untuk Gen X,Y) ensiklopedia peradaban 14 abad silam. Mengingatkan kembali pada sejarah perjalanan hidup seorang manusia yang paling mulia. Membuka biografi dan melihat track record seseorang yang sejak kanak beranjak remaja digelari Al-Amin oleh masyarakatnya, hingga dewasa dan menjadi pemimpin yang sangat agung. Pemimpin yang sangat sederhana kehidupannya namun dibalik itu sukses membawa orang banyak, pengikutnya, bahkan ummat manusia kepada cahaya dalam segala aspek kehidupan. Ini bukan romantisme atau kultus individu namun telah banyak dicatat dan diakui oleh para peneliti dan penulis, bukan hanya dari orang muslim tapi justru sejarawan ataupun peneliti non muslim. Akhir zaman ini oleh karena berbagai macam propaganda sehingga kadang mereduksi urgensi nilai yang seharusnya digali dan kemudian harus dipertahankan. Ini penting agar diantara ummat tidak ada keraguan menyentuh perkara ini dan semakin banyak membaca bahkan menulis dan meneliti biografi Rasulnya. Seperti pada sebagian orang non muslim yang sangat tertarik untuk membaca, meniliti dan menulis tentang Muhammad Rasul Allah. Jika membaca teksnya saja, Alquran banyak memuji memuliakan Nabi Muhammad SAW. Salah satunya memberi gelar *Uswatun Hasanah* atau teks *Allah dan MalaikatNya Bershalawat Kepada Nabi* . Mungkin ini salah satu bentuk pengkultusan Allah kepada Nabi Muhammad SAW. karena tidak ada selainnya yang disebut seperti itu, untuk menggambarkan bagaimana mulianya dan mengikutinya adalah kebenaran. Maka hal inilah yang dapat menjadi dasar manusia – sejak manusia pertama sampai akhir – untuk mengikutinya, memuliakan dan mengagungkannya melebihi hanya sekedar pengkultusan yang sifatnya duniawi.

Ada beberapa sejarawan non muslim yang juga memujinya setelah meneliti, salah satu diantaranya Sejarawan dari Skotlandia bernama Thomas Carlyle. Beliau menulis The Hero as Prophet yang secara tegas membela Nabi Muhammad dari tuduhan orientalis barat abad pertengahan. Hasil penelitiannya memuji Nabi Muhammad SAW sebagai pahlawan para Nabi, berjiwa besar, tulus dan sukses membawa cahaya kebenaran bagi bangsa Arab. Pada titik ini kita berhenti sejenak untuk mengkalkulasi kira-kira apa yang diperoleh pemimpin pada kesuksesannya. Apakah itu semua membuat Nabi Muhammad SAW hidup dalam kemewahan, kenikmatan dengan memanfaatkan segala kemudahan atau fasilitas yang diinginkan? Jika kita melihat kehidupannya justru jauh dari semua itu karena Nabi Muhammad SAW tidak memanfaatkan semua privilege untuk mendapatkan keuntungan dalam mengemban tugasnya bahkan dimasa kepemimpinannya. Perhatikan kehidupannya, pakaian yang digunakan masih ditambal. Tidurnyapun di atas pelepah atau daun kurma. Makannya terbiasa perutnya diikat, terlihat ada tali dipinggang pertanda berhari-hari belum makan. Padahal banyak tawaran dari lawan politiknya – para pemimpin qurais – untuk memberikan harta, jabatan dan wanita supaya tidak menjalankan tugas dakwahnya namun Nabi malah memilih jalan lain dengan konsekwensi ancaman jiwa dan keluarga, fitnah, boikot dan pengusiran. Hal itulah yang menampakkan ketulusan yang diakui oleh sejarawan yang obyektif dan berkesimpulan bahwa – meski tidak mengakui kenabiannya – dia mengakui Muhammad adalah pemimpin dunia paling sukses akan tetapi setelah itu Dia tidak ingin meninggalkan kemewahan, kekuasaan pada diri, keluarganya. Anomali dari realitas dunia saat ini adakah pemimpin yang tidak berpikir untuk pribadi dan keluarganya, kelanggengannya, partainya bahkan generasi setelahnya juga dipikirkan. Ironis jika pola politik saat ini parpolnya seperti mesin yang butuh perawatan, energi untuk keberlangsungannya sehingga menghasilkan pejabat yang patuh semata untuk memberi perawatan dan energi bagi partainya dulu, rakyat belakangan.

Sejarawan lain sebelum Carlyle seperti William Montgomery Watt menulis biografi Nabi Muhammad SAW dengan sangat objektif. Analisisnya dengan pendekatan sosio-ekonomi menyimpulkan kesuksesan Nabi Muhammad. William MW menegaskan bahwa Nabi Muhammad adalah pemimpin yang tulus, jenius politik dan berintegritas moral sangat tinggi, bukan seorang penipu seperti tuduhan para sosialis barat. Jika Muhammad Penipu maka dia penipu paling bodoh karena dia tidak menikmati hasil penipuannya, maka omong kosong jika Muhammad penipu karena Dia pemimpin yang tidak punya apa-apa. Bahkan harta keluarganyapun habis digunakan untuk perjuangannya. Tapi kehidupan bersama keluarganya yang kekurangan itu tidak mendesak/memaksa Dia mengambil yang bukan haknya. Dalam pembagian harta rampasan perang maupun lainnya, Nabi SAW tidak memikirkan pribadinya dan keluarganya. Ini adalah aturan yang diucapkannya dan Dia yang pertama melakukannya. Yang Dia lakukan sesuai yang Dia ajarkan. Bukan membangun Citra pada dirinya, Dia tidak mencari validasi dan loyalitas dengan membangun kesan dirinya pada dunia namun Dunia terkesan kepadanya oleh karena Dirinya adalah hukum atau aturan itu sendiri sehingga perilakunya adalah manifestasi nyata dari seluruh hukum/ajaran yang ditetapkannya. Perilakunyalah yang dilihat ummatnya dan menjadi catatan hukum – Hadis – fiqhi (mahdhah/ghairu mahdhah). Semua catatan itu sebagai tuntunan untuk manusia menuju kebahagiaan. Ini semua menjadi dasar pengakuan non muslim yang obyektif. Pengakuan Watt bahwa Muhammad adalah pemimpin yang berinteritas sangat tinggi. Karakternya kuat menyatu dengan perilakunya. Ada juga pemimpin karakter ganda, diranah publik jauh berbeda dengan perilakunya. Kadang juga yang diungkapkan tidak sesuai dengan perilakunya. Dalam forum, depan umum sangat ideal bahasanya menjaga perdamaian dunia namun perilakunya menyerang negara yang berdaulat. Penuh dengan pencitraan dan tipuan.

Kemudian Mickel Hart mengatakan Muhammad adalah pemimpin Politik/Pemerintahan dan agama tersukses tapi tidak meninggalkan materi dan keglamoran duniawi. Ini pemimpin dunia yang anomali karena sejarah juga yang menjelaskan bahwa setiap ada pemimpin dunia, semua meninggalkan berbagai macam kekayaan dan kemewahan dunia dan lain sebagainya. Makanya semua sejarawan yang meneliti track record Muhammad SAW akan sampai pada suatu kesimpulan tentang pemimpin yang anomali jika melihat pola kepemimpinan dunia sepanjang sejarah peradaban manusia sampai saat ini.

Dalam komparasi konteks kekinian, apa urgensi dari kajian sejarawan non muslim tersebut. Apakah hanya menjadi ensiklopedia tanpa makna. Sekedar pengetahuan yang tidak memberi jalan atau petunjuk kehidupan. Sejatinya Universalitas pengetahuan adalah menjadi ilmu yang menuntun manusia pada kebenaran. Realitas manusia saat ini terlebih sebagai ummat sangat membutuhkan informasi sejarah dan menjadi renungan untuk mengambil tahapan pelakasanaannya dalam kontek realitas kehidupan tiap pribadi. Bukan semata histori yang dibanggakan namun menjadi nilai yang harus dipegang dan diikuti sebagai karakter ummat. Apatah lagi saat ini dunia dengan berbagai fenomena volatility yang membawa manusia moderen dalam kebingungan. Maka satu-satunya jalan kembali adalah pada sosok _Uswatun Hasanah_ . Manusia yang mengikutinya adalah pasti mendapati keuntungan hakiki. Semoga peringatan Maulid Nabi selalu menjadi pengingat manusia tentang track record nya masing-masing. Sebagai momentum untuk merefleksikan sekaligus menakar kualitas kepemimpinan masa kini. Shollu ‘Alaihi Wasallam untuk Kehidupan yang lebih bahagia. (*)