BONE — Setelah memanfaatkan limbah pertanian dan peternakan menjadi kompos, Tim PPK Ormawa UKM KPI Unhas 2026 melanjutkan pengelolaan lahan percontohan Mannennungeng dengan memantau kondisi tanah. Pengambilan sampel dilakukan pada 19 Agustus 2026 di Desa Kajaolaliddong, Kecamatan Barebbo, Kabupaten Bone, senin(24/08/2026).

Kegiatan tersebut dilakukan setelah kompos dari program Pabbura Mannennungeng diberikan pada lahan percontohan Program Mannennungeng: Smart Hydro Loop. Sampel tanah yang dikumpulkan akan dianalisis di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Proses pengambilan dilakukan oleh Nur Ichsan dan Nyoman Adimas Saputra, anggota Tim PPK Ormawa UKM KPI Unhas yang memiliki latar belakang pendidikan Agroteknologi.

Pemantauan kondisi tanah menjadi bagian penting dalam pengelolaan lahan karena tanah merupakan media utama bagi akar untuk memperoleh air dan unsur hara. Ketika kandungan bahan organik rendah, tanah dapat menjadi lebih mudah padat dan kurang mampu menyediakan air bagi tanaman.

Ketersediaan unsur hara juga menjadi perhatian dalam mendukung pertumbuhan tanaman. Nitrogen, fosfor, dan kalium merupakan unsur penting yang dibutuhkan tanaman untuk mendukung pertumbuhan vegetatif, perkembangan akar, serta pembentukan hasil.

Salah satu upaya yang dilakukan tim adalah memanfaatkan bahan organik yang berasal dari lingkungan sekitar. Jerami dan kotoran hewan diolah melalui Tumbling Composter dalam program Pabbura Mannennungeng hingga menjadi kompos yang kemudian digunakan pada lahan.

Ketua Tim PPK Ormawa UKM KPI Unhas 2026, Fadel Muhammad S., mengatakan pengambilan sampel dilakukan untuk memperoleh data sebagai dasar evaluasi kondisi tanah setelah pemberian kompos.

“Kami mengambil sampel tanah setelah pemberian kompos untuk mendapatkan gambaran kondisi tanah pada lahan percontohan. Hasil analisis nantinya akan menjadi bahan evaluasi bagi tim dalam melihat perkembangan kondisi tanah dan menentukan pengelolaan lahan pada tahap berikutnya,” ungkapnya.

Fadel menjelaskan, Pabbura Mannennungeng tidak hanya berfokus pada pengolahan limbah, tetapi juga mendorong pemanfaatan kembali bahan organik yang tersedia di desa untuk mendukung kegiatan pertanian.

“Melalui Pabbura, kami ingin mendorong agar potensi limbah yang ada di desa dapat dimanfaatkan kembali. Ketika diolah menjadi pupuk organik dan digunakan pada lahan, limbah tersebut dapat menjadi bagian dari upaya memperbaiki kondisi tanah dan mendukung kebutuhan tanaman,” jelasnya.

Sampel tanah yang telah dikumpulkan selanjutnya akan dianalisis untuk memperoleh gambaran kondisi lahan. Hasilnya akan digunakan sebagai bahan evaluasi dalam menentukan pengelolaan tanah pada tahap berikutnya.

Rangkaian tersebut memperlihatkan keterkaitan antara pengelolaan limbah dan pengelolaan lahan dalam Program Mannennungeng. Limbah diolah menjadi kompos, dimanfaatkan pada tanah, kemudian kondisi lahan dipantau untuk menjadi dasar pengelolaan selanjutnya.