BULUKUMBA – Upaya pencegahan diabetes tidak hanya dilakukan melalui edukasi pola hidup sehat, tetapi juga dengan menghadirkan inovasi pangan berbasis potensi lokal.
Inilah yang dilakukan tim pengabdian masyarakat Universitas Hasanuddin (Unhas) Fakultas Keperawatan (FKep) dengan memberdayakan ibu-ibu PKK Desa Garuntungan, Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba, melalui pelatihan pembuatan cookies fungsional berbahan tanaman sirih merah (Piper crocatum).
Kegiatan yang digelar pada Sabtu, 11 Juli 2026 tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan literasi kesehatan masyarakat sekaligus membuka peluang usaha bagi perempuan desa.
Program ini dipimpin oleh Dr. Andina Setyawati, S.Kep., Ns., M.Kep., bersama Dr. Nuurhidayat Jafar, S.Kep., Ns., M.Kep., serta Insany Fitri Nurqamar, SE., MM, yang menghadirkan pendekatan lintas disiplin mulai dari kesehatan hingga manajemen usaha.
Dr. Andina menjelaskan, pelatihan tersebut merupakan hilirisasi hasil penelitian yang telah dikembangkan Unhas mengenai pemanfaatan Golden Rice Cookies yang diperkaya ekstrak sirih merah.
Tanaman lokal tersebut memiliki kandungan antiinflamasi dan berpotensi membantu menjaga kestabilan kadar gula darah, sehingga dapat menjadi alternatif pangan fungsional untuk mendukung pencegahan diabetes.
Menurutnya, tujuan utama kegiatan adalah membekali ibu-ibu PKK dengan pengetahuan dan keterampilan mengolah pangan sehat secara mandiri.
Dengan memanfaatkan bahan baku lokal menjadi produk bernilai tambah, masyarakat diharapkan memiliki pilihan camilan yang lebih sehat sekaligus berpotensi menjadi sumber pendapatan keluarga.
Pemerintah Desa Garuntungan menyambut baik program tersebut.
Selain dinilai mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya diabetes, pelatihan ini juga diyakini dapat mendorong lahirnya usaha rumahan berbasis pangan sehat yang memperkuat ekonomi masyarakat desa.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pre-test untuk mengukur pemahaman peserta mengenai pencegahan penyakit tidak menular.
Selanjutnya, peserta mendapatkan edukasi tentang pola hidup sehat, bahaya konsumsi gula berlebih, hingga manfaat pangan fungsional dalam menjaga kesehatan.
Materi kemudian dilanjutkan dengan praktik langsung membuat cookies sehat, mulai dari pemilihan bahan baku, proses produksi sesuai standar higienis, hingga teknik pemanggangan yang tepat agar kandungan aktif tetap terjaga.
Tak berhenti pada aspek kesehatan, peserta juga memperoleh pelatihan kewirausahaan.
Insany Fitri Nurqamar memberikan materi mengenai pengelolaan usaha mikro, penyusunan harga pokok produksi, strategi penentuan harga jual, pengemasan dan pelabelan produk, pembukuan sederhana, hingga pemasaran digital melalui berbagai platform media sosial dan aplikasi daring.
Hasil evaluasi melalui post-test menunjukkan peningkatan pemahaman peserta setelah mengikuti seluruh rangkaian pelatihan.
Ke depan, Unhas bersama pemerintah desa akan melanjutkan pendampingan melalui pelatihan pengembangan produk pangan lainnya, penyediaan bahan penunjang, serta penguatan pemasaran digital agar usaha pangan fungsional yang dirintis ibu-ibu PKK dapat berkembang secara berkelanjutan.
Program ini juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya di bidang kesehatan, pendidikan berkualitas, pertumbuhan ekonomi, inovasi industri, konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta penguatan kemitraan untuk pembangunan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan