(Bagian kedua)
Di sebuah pagi yang tenang, percakapan tentang Jeneponto kembali bergulir. Awalnya sederhana. Hanya sebuah diskusi mengenai pariwisata, ekonomi kreatif, dan berbagai potensi yang mulai tumbuh di Kabupaten Jeneponto. Namun semakin jauh percakapan berlangsung, semakin terlihat bahwa yang sedang dibicarakan bukan sekadar destinasi wisata, melainkan masa depan sebuah daerah.
Percakapan tersebut berangkat dari sebuah gagasan yang tengah dirumuskan oleh komunitas lembaga masyarakat sipil yang selama ini aktif dalam bidang penelitian, pemberdayaan masyarakat, tata kelola pemerintahan, serta pengembangan komunitas di Kabupaten Jeneponto.
Gagasan itu diberi nama, SENGKAKI RI JENEPONTO. Sebuah kalimat sederhana yang sangat akrab di telinga masyarakat Turatea, kalimat yang selama ini hidup sebagai ungkapan keseharian untuk mengajak seseorang singgah, mampir, atau berkunjung.
Namun bagi masyarakat Jeneponto ungkapan tersebut menyimpan makna yang jauh lebih dalam.
Dalam sebuah wawancara dan diskusi reflektif mengenai pengembangan pariwisata berbasis budaya dan masyarakat, muncul pertanyaan mendasar. Apakah SENGKAKI RI JENEPONTO hanya sebuah slogan?
Ataukah ia dapat berkembang menjadi sebuah gerakan sosial yang mampu menyatukan budaya, komunitas, ekonomi kreatif, dan kebanggaan daerah?
Pertanyaan itulah yang kemudian membuka ruang diskusi yang lebih luas.
Menurut narasumber, kekuatan terbesar Jeneponto sesungguhnya bukan terletak pada jumlah destinasi yang dimiliki.
“Kita sering berpikir bahwa wisata dibangun dari objek wisata. Padahal wisata yang berkelanjutan justru dibangun dari pengalaman manusia,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa gunung, pantai, kafe, taman kota, maupun ruang publik dapat ditemukan di banyak daerah. Namun tidak semua daerah memiliki karakter sosial yang mampu membuat orang merasa diterima ketika datang berkunjung.
“Kalau orang datang ke Jeneponto lalu pulang dengan membawa kesan bahwa masyarakatnya ramah, terbuka, dan membuat mereka merasa seperti di rumah sendiri, maka sesungguhnya kita telah menciptakan pengalaman yang jauh lebih berharga daripada sekadar destinasi.”
Pandangan tersebut kemudian mengantar diskusi pada satu pertanyaan yang lebih filosofis.
Jika SENGKAKI RI JENEPONTO ingin berkembang menjadi sebuah gerakan, dari mana perjalanan itu harus dimulai?
Menjawab pertanyaan tersebut, narasumber justru memberikan jawaban yang tidak biasa.
“Terminal keberangkatan gerakan ini bukan kantor pemerintah, bukan pula proyek pembangunan. Terminal pertama adalah kesadaran.”
Kesadaran, menurutnya, bahwa Jeneponto memiliki kekuatan yang selama ini belum sepenuhnya dikenali oleh masyarakatnya sendiri.
Ia menyebut bahwa banyak daerah berlomba membangun infrastruktur wisata, tetapi lupa membangun kebanggaan masyarakat terhadap daerahnya sendiri.
Padahal sebelum orang luar mencintai Jeneponto, masyarakat Jeneponto harus lebih dulu menemukan alasan untuk bangga terhadap daerahnya.
Dari titik itulah perjalanan SENGKAKI RI JENEPONTO dimulai.
Tahap berikutnya adalah menemukan kembali cerita-cerita yang hidup di tengah masyarakat.
Cerita tentang Pasar Kuda Tolo.
Cerita tentang pegunungan Rumbia.
Cerita tentang Kampung Kopi.
Cerita tentang Kota Tua Jeneponto.
Cerita tentang Jalan Pelita yang mulai tumbuh menjadi ruang interaksi masyarakat.
Cerita tentang komunitas berkuda, memanah, UMKM, seni, budaya, dan kehidupan masyarakat Turatea.
“Pariwisata pada akhirnya adalah industri cerita. Orang datang bukan hanya untuk melihat tempat, tetapi untuk merasakan kisah yang hidup di dalamnya,” jelasnya.
Dalam pandangan tersebut, pengembangan wisata tidak lagi dipahami sebagai tugas pemerintah semata. Sebaliknya, ia harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Pemerintah menyediakan arah kebijakan.
Komunitas menghadirkan kreativitas.
UMKM menciptakan nilai ekonomi.
Media menyebarluaskan cerita.
Masyarakat menjaga keramahan.
Dan seluruh pihak bergerak dalam semangat yang sama.
Di sinilah konsep SENGKAKI RI JENEPONTO mulai menemukan bentuknya sebagai sebuah gerakan sosial.
Gerakan yang tidak hanya mengajak orang datang berkunjung, tetapi juga mengajak masyarakat untuk melihat kembali daerahnya dengan cara pandang yang baru.
Ketika ditanya mengenai gambaran akhir yang ingin dicapai, narasumber kembali memberikan jawaban yang sederhana namun mengandung makna yang mendalam.
“Saya membayangkan suatu hari nanti ada seseorang yang datang ke Jeneponto. Ia mungkin lupa nama hotel tempat menginap. Ia mungkin lupa nama warung tempat makan. Tetapi ketika pulang ia berkata, ‘Saya tidak tahu mengapa, tetapi saya merasa diterima di Jeneponto.'”
Menurutnya, kalimat sederhana itu mungkin merupakan ukuran keberhasilan yang paling hakiki.
Sebab manusia tidak selalu mengingat tempat yang pernah ia kunjungi.
Tetapi manusia hampir selalu mengingat bagaimana sebuah tempat membuatnya merasa.
Bagi kami komunitas masyarakat sipil gagasan SENGKAKI RI JENEPONTO bukanlah program yang sudah jadi, bukan pula kebijakan resmi pemerintah daerah. Ia adalah sebuah tawaran pemikiran yang lahir dari kepedulian terhadap masa depan Jeneponto.
Sebuah gagasan terbuka yang diharapkan dapat didiskusikan, diperkaya, dan dikembangkan bersama oleh pemerintah, komunitas, akademisi, pelaku usaha, pegiat budaya, media, dan seluruh masyarakat.
Karena mungkin pada akhirnya, SENGKAKI RI JENEPONTO bukan hanya tentang pariwisata.
Ia adalah tentang bagaimana sebuah daerah menemukan kembali jati dirinya.
Dan bagaimana masyarakatnya bersama-sama membangun masa depan yang berakar pada budaya, pengalaman, dan kebanggaan terhadap tanah yang mereka cintai. (*)

Tinggalkan Balasan