MAKASSAR – Inovasi teknologi lahir dari lingkungan pendidikan MAN 2 Kota Makassar melalui Kimora, alat praktikum berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang memadukan ilmu kimia dan teknologi informasi (IT).

 

Inovasi tersebut dikembangkan oleh tim yang diwakili Hj. Nurhamida Yusuf dan Chaerul Akbar, perwakilan MAN 2 Kota Makassar.

 

Kimora hadir dalam rangkaian Teacher Tech Competition 2026, kegiatan yang diinisiasi melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) Bank BCA dan diselenggarakan di Kota Makassar.

Kegiatan tersebut mempertemukan perwakilan sekolah dari berbagai wilayah di Sulawesi untuk mendorong pemanfaatan teknologi dalam dunia pendidikan.

 

Dalam ajang tersebut, peserta didorong untuk mengembangkan gagasan dan inovasi berbasis teknologi yang dapat memberikan solusi terhadap kebutuhan pembelajaran di sekolah.

 

Salah satu inovasi yang mencuri perhatian adalah Kimora, yang dirancang untuk membantu proses praktikum sekaligus mendigitalisasi pengumpulan tugas siswa.

 

Ukur Suhu, pH dan TDS

 

Kimora dirancang untuk mengukur tiga parameter dalam kegiatan praktikum, yakni suhu, pH, dan TDS (Total Dissolved Solids) atau jumlah zat padat terlarut dalam air.

 

Data hasil pengukuran dapat diakses siswa melalui perangkat mobile. Sistem tersebut memungkinkan proses pencatatan hingga pengumpulan tugas dilakukan secara digital.

 

Konsep ini membuat kegiatan praktikum menjadi lebih ringkas dan mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan kertas.

 

Siswa tidak hanya melakukan pengukuran menggunakan perangkat, tetapi juga dapat memanfaatkan data yang diperoleh untuk menyelesaikan dan mengumpulkan tugas secara langsung melalui sistem digital.

 

Berawal dari Pengalaman Siswa

 

Menariknya, gagasan Kimora berawal dari pengalaman seorang siswa yang mengalami buta warna.

 

Kondisi tersebut menjadi salah satu pemicu munculnya gagasan untuk mencari solusi teknologi yang dapat membantu proses pembelajaran dan praktikum.

 

Dari persoalan tersebut, ide kemudian dikembangkan menjadi sebuah perangkat yang mampu mengukur sejumlah parameter sekaligus dan mengintegrasikan hasilnya ke dalam sistem digital.

 

Proses pengembangan Kimora juga berlangsung cukup singkat. Mulai dari perencanaan hingga penyelesaian alat, tim membutuhkan waktu sekitar dua sampai tiga minggu.

 

Selama proses tersebut, tim mendapatkan pendampingan dari mentor BCA yang membantu mengarahkan pengembangan gagasan hingga penyelesaian perangkat.

 

Kolaborasi Kimia dan IT

 

Kimora menjadi contoh kolaborasi lintas bidang dalam pembelajaran.

Pengetahuan kimia digunakan untuk menentukan parameter yang dibutuhkan dalam praktikum, sementara teknologi informasi dimanfaatkan untuk mengolah, menyimpan dan mengakses data.

 

Pemanfaatan AI menjadi bagian dari pengembangan sistem sehingga proses praktikum dapat terhubung dengan teknologi digital.

 

Bagi siswa, proses tersebut memberikan pengalaman belajar yang tidak hanya berorientasi pada teori.

Mereka ditantang mengidentifikasi persoalan, merancang solusi, mengembangkan perangkat hingga menghasilkan inovasi yang dapat diterapkan dalam kegiatan pembelajaran.

 

Konsep inilah yang menjadi salah satu nilai penting dari Teacher Tech Competition 2026, yakni memberikan ruang bagi sekolah dan tenaga pendidik bersama siswa untuk mengembangkan pemanfaatan teknologi secara kreatif.

 

Dorong Pembelajaran Tanpa Kertas

 

Salah satu keunggulan Kimora terletak pada kemampuannya mendukung sistem pembelajaran paperless.

 

Data hasil praktikum yang diperoleh dari alat dapat diakses melalui perangkat mobile. Selanjutnya, siswa dapat menggunakan data tersebut untuk menyelesaikan tugas dan mengirimkannya secara digital.

 

Dengan alur tersebut, proses praktikum menjadi lebih terintegrasi, mulai dari pengukuran, pencatatan data hingga pengumpulan tugas.

 

Digitalisasi ini juga membuka peluang pengelolaan hasil praktikum yang lebih terstruktur karena data tidak hanya berhenti pada catatan di lembar kerja siswa.

 

Ruang Inovasi Sekolah di Sulawesi

 

Penyelenggaraan Teacher Tech Competition 2026 di Kota Makassar menjadi ruang bagi sekolah-sekolah dari berbagai wilayah di Sulawesi untuk memperlihatkan inovasi masing-masing.

 

Kegiatan yang diinisiasi melalui CSR BCA tersebut menunjukkan bagaimana kolaborasi antara dunia pendidikan dan sektor swasta dapat membuka ruang bagi pengembangan kompetensi teknologi di lingkungan sekolah.

 

Kehadiran mentor juga menjadi bagian penting dalam proses tersebut.

Pendampingan membantu peserta mengembangkan ide agar tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi dapat diwujudkan menjadi sebuah solusi atau perangkat yang memiliki manfaat nyata.

 

Kimora menjadi salah satu gambaran dari proses tersebut. Berawal dari kebutuhan yang muncul dalam lingkungan siswa, gagasan kemudian berkembang melalui kolaborasi kimia dan IT, sebelum diwujudkan menjadi alat praktikum berbasis teknologi.

 

Bagi MAN 2 Kota Makassar, inovasi ini sekaligus memperlihatkan bahwa siswa dapat mengambil peran sebagai pencipta teknologi, bukan hanya sebagai pengguna.

 

Melalui Kimora, proses pembelajaran diarahkan menjadi lebih terintegrasi dengan perkembangan teknologi.

Pengukuran suhu, pH dan TDS yang dipadukan dengan sistem digital memberikan pengalaman praktikum yang lebih modern, sementara akses mobile dan pengumpulan tugas secara digital mendorong pola pembelajaran yang lebih paperless.

 

Di sisi lain, kisah lahirnya Kimora dari pengalaman siswa menunjukkan bahwa inovasi dapat bermula dari persoalan sederhana di lingkungan sekolah.

 

Dengan dukungan sekolah, mentor dan program seperti Teacher Tech Competition 2026, persoalan tersebut dapat dikembangkan menjadi sebuah gagasan teknologi.

 

Kimora pun menjadi bukti bahwa laboratorium sekolah tidak hanya menjadi tempat melakukan eksperimen, tetapi juga dapat menjadi ruang lahirnya inovasi yang mempertemukan sains, teknologi dan kreativitas siswa.