Maros – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Gelombang 116 Universitas Hasanuddin melaksanakan program kerja bertajuk “Pemetaan Partisipatif Kerawanan Banjir dan Penyusunan Peta Jalur Evakuasi bagi Kelompok Rentan di Desa Bonto Tallasa.” Program ini merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat yang bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, khususnya kelompok rentan, dalam menghadapi bencana banjir melalui penyediaan informasi spasial yang mudah dipahami dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Pelaksanaan program diawali dengan proses identifikasi wilayah yang berpotensi terdampak banjir melalui survei lapangan, observasi kondisi eksisting, serta diskusi bersama pemerintah desa, kepala dusun, dan masyarakat. Pendekatan partisipatif diterapkan untuk menghimpun informasi berdasarkan pengalaman masyarakat terhadap kejadian banjir yang pernah terjadi, sehingga peta yang dihasilkan dapat menggambarkan kondisi nyata di lapangan dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Berdasarkan hasil identifikasi tersebut, mahasiswa KKN menyusun peta kerawanan banjir yang mengklasifikasikan wilayah berdasarkan tingkat kerawanan bencana banjir. Selain itu, tim juga menyusun peta jalur evakuasi yang memuat jalur aman, titik kumpul sementara, serta lokasi fasilitas umum yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat evakuasi ketika terjadi bencana. Peta tersebut kemudian dipasang pada papan informasi kebencanaan agar dapat diakses oleh seluruh masyarakat sebagai media edukasi sekaligus pedoman dalam melakukan evakuasi secara mandiri.
Sebagai pelengkap informasi mitigasi, mahasiswa juga memasang plang kebencanaan yang berlokasi di Kantor Desa Bonto Tallasa. Lokasi tersebut dipilih karena lokasinya yang strategis dan mampu dilihat oleh semua masyarakat. Plang tersebut berfungsi sebagai penunjuk arah menuju jalur evakuasi sehingga masyarakat dapat lebih mudah menemukan rute yang aman ketika terjadi banjir. Keberadaan plang diharapkan mampu meningkatkan efektivitas proses evakuasi serta mengurangi risiko kepanikan saat kondisi darurat.
Program kerja ini memperoleh apresiasi dari pemerintah dusun karena dinilai memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Desa Bonto Tallasa. Selama ini, masyarakat belum memiliki informasi spasial yang memuat tingkat kerawanan banjir maupun jalur evakuasi yang dapat dijadikan acuan ketika bencana terjadi.
“Program ini sangat bermanfaat bagi masyarakat. Sebelumnya kami belum memiliki peta kerawanan banjir maupun peta jalur evakuasi yang dapat menjadi pedoman saat terjadi banjir. Dengan adanya peta dan plang kebencanaan ini, masyarakat menjadi lebih mengetahui wilayah yang rawan, jalur yang aman untuk dilalui, serta titik evakuasi yang dapat dituju. Kami berharap informasi ini dapat dimanfaatkan dan dijaga bersama demi keselamatan masyarakat,” ujar Kepala Dusun Bonto Padingin saat diwawancarai.
Melalui program kerja ini, mahasiswa KKN-T 116 Universitas Hasanuddin tidak hanya menghasilkan luaran berupa peta kerawanan banjir, peta jalur evakuasi, papan informasi, dan plang kebencanaan, tetapi juga mendorong tumbuhnya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya mitigasi bencana berbasis partisipasi. Keterlibatan masyarakat dalam setiap tahapan pemetaan menjadi langkah penting dalam menghasilkan informasi kebencanaan yang akurat, aplikatif, dan sesuai dengan kondisi lokal.
Selain mengapresiasi program kerja mahasiswa KKN-T 116 Universitas Hasanuddin, Ketua RT Dusun Bonto juga menyampaikan harapannya agar penanganan banjir di Desa Bonto Tallasa dapat menjadi perhatian bersama, khususnya pemerintah daerah. Menurutnya, banjir yang terjadi tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga memberikan dampak yang cukup besar terhadap sektor pertanian yang menjadi mata pencaharian utama sebagian warga.
“Kami berharap pemerintah dapat mengambil langkah yang lebih efektif dalam mengatasi permasalahan banjir di Desa Bonto Tallasa.” ujar Ketua RT Dusun Bonto Padingin saat diwawancarai.
Program ini diharapkan dapat menjadi salah satu upaya berkelanjutan dalam mendukung terwujudnya Desa Bonto Tallasa sebagai desa yang lebih tangguh terhadap bencana. Sinergi antara mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat diharapkan mampu memperkuat kapasitas masyarakat, khususnya kelompok rentan, dalam menghadapi potensi banjir melalui pemanfaatan informasi spasial sebagai dasar pengambilan keputusan saat kondisi darurat.

Tinggalkan Balasan