MAKASSAR – Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan mengambil langkah agresif untuk mempercepat transformasi ekonomi daerah melalui penguatan investasi, hilirisasi industri, perdagangan, dan pariwisata.

Komitmen tersebut ditegaskan dalam pelaksanaan Dedicated Team Meeting (DTM) Forum Percepatan Investasi, Perdagangan, dan Pariwisata Sulawesi Selatan (PINISI SULTAN) yang dirangkaikan dengan Kick-Off South Sulawesi Investment Challenge (SSIC) 2026 di Kantor Gubernur Sulawesi Selatan.

Forum strategis ini mempertemukan jajaran pemerintah pusat, pemerintah daerah, Bank Indonesia, BKPM, Bappenas, Danantara Indonesia, serta kepala daerah se-Sulawesi Selatan guna menyatukan langkah mempercepat investasi yang lebih produktif, terarah, dan berkelanjutan.

Investasi Sulsel Masih Tertinggal, Perlu Lompatan Besar

Meski realisasi investasi Sulawesi Selatan sepanjang 2025 tetap mencatat kinerja positif dari sisi Penanaman Modal Asing (PMA) maupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), posisi Sulsel yang masih berada di peringkat ke-20 nasional menjadi alarm serius.

Capaian tersebut menunjukkan Sulawesi Selatan masih membutuhkan reformasi investasi yang lebih tajam untuk bersaing dengan provinsi lain dalam menarik investor.

Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, Jufri Rahman, menegaskan bahwa percepatan investasi tidak cukup hanya dengan promosi, tetapi harus dibarengi reformasi tata kelola secara menyeluruh.

“Sulawesi Selatan harus memperkuat infrastruktur pendukung, menjamin keamanan investasi, serta memberikan kepastian berusaha agar investor benar-benar melihat Sulsel sebagai tujuan utama investasi,” tegasnya.

Hilirisasi Jadi Kunci Transformasi Ekonomi

DTM PINISI SULTAN 2026 menempatkan hilirisasi industri berbasis komoditas unggulan sebagai strategi utama pembangunan ekonomi Sulawesi Selatan.

Fokus hilirisasi diarahkan pada sektor strategis seperti:

  • Nikel
  • Tembaga
  • Kelapa
  • Rumput laut
  • Garam
  • Ikan TCT
  • Udang
  • Kakao
  • Kelapa sawit

Pendekatan ini sejalan dengan agenda pembangunan nasional yang menekankan industrialisasi bernilai tambah tinggi dan dekarbonisasi ekonomi.

Lebih dari 90 Proyek Investasi, Tapi Belum Maksimal

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Selatan, Rizki Ernadi Wimanda, mengungkapkan bahwa Sulsel saat ini telah memiliki lebih dari 90 Investment Project Ready to Offer (IPRO), dengan sejumlah proyek berstatus clean and clear (CnC).

Namun demikian, realisasi investasi masih menghadapi tantangan serius, antara lain:

  • Kesiapan proyek yang belum optimal
  • Keterbatasan akses pembiayaan alternatif
  • Dokumen feasibility study yang belum kuat
  • Belum seluruh proyek selaras dengan prioritas nasional

Menurut Rizki, efisiensi investasi juga harus terus ditingkatkan, mengingat indikator ICOR Indonesia masih lebih tinggi dibanding negara pesaing seperti Malaysia dan Vietnam.

Strategi Besar Sulsel Rebut Investor

Dalam forum ini, disepakati sejumlah langkah strategis untuk mempercepat investasi daerah, meliputi:

1. Penyelarasan Proyek dengan Agenda Nasional
Fokus pada proyek-proyek CnC yang mendukung hilirisasi dan ekonomi berkelanjutan.

2. Penguatan Infrastruktur dan Keamanan Investasi
Meningkatkan daya saing daerah melalui kesiapan sarana penunjang dan kepastian usaha.

3. Penyusunan Feasibility Study Berkualitas Global
Melibatkan lembaga kredibel untuk meningkatkan standar proyek investasi.

4. Promosi Investasi Lebih Agresif
Melalui forum investasi, one-on-one meeting, hingga site visit dengan calon investor domestik dan internasional.

5. Diversifikasi Pembiayaan Proyek
Meliputi KPBU, dukungan Danantara, kerja sama internasional, dan kemitraan strategis swasta.

6. Penguatan SDM Pengelola Proyek
Capacity building penyusunan proposal investasi berstandar internasional.

Dukungan Pemerintah Pusat dan Danantara

Kegiatan ini juga menghadirkan dukungan konkret dari Kementerian Investasi/BKPM, Bappenas, dan Danantara Indonesia yang menyoroti pentingnya pembiayaan inovatif serta strategi investasi daerah yang terintegrasi dengan pembangunan nasional.

Danantara disebut siap membuka peluang dukungan pembiayaan proyek-proyek strategis daerah yang memiliki kualitas tinggi dan nilai ekonomi besar.

Sulsel Bidik Posisi Baru di Peta Investasi Nasional

Melalui PINISI SULTAN dan SSIC 2026, Sulawesi Selatan menunjukkan ambisi kuat untuk keluar dari posisi menengah dan naik menjadi salah satu pusat investasi utama nasional.

Sinergi antara pemerintah, regulator, investor, dan lembaga pembiayaan diyakini menjadi fondasi penting dalam menciptakan investasi yang:

  • Produktif
  • Kompetitif
  • Berkelanjutan
  • Berorientasi hilirisasi
  • Berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi

Momentum Transformasi Ekonomi Sulawesi Selatan

DTM PINISI SULTAN 2026 bukan sekadar forum koordinasi, melainkan langkah nyata mempercepat reformasi investasi Sulawesi Selatan di tengah persaingan global yang semakin ketat.

Dengan proyek yang lebih siap, promosi yang lebih kuat, dan dukungan pembiayaan yang lebih luas, Sulawesi Selatan kini bersiap menegaskan diri sebagai motor pertumbuhan ekonomi baru di kawasan timur Indonesia.