KEDIRI – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkuat literasi dan inklusi keuangan syariah melalui pengembangan ekosistem pesantren sebagai motor kemandirian ekonomi masyarakat.
Hal ini disampaikan Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku PUJK, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Dicky Kartikoyono, dalam kegiatan Forum Edukasi dan Temu Bisnis Keuangan Syariah (FEBIS) dan SAKINAH di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.
Menurut Dicky, pesantren memiliki peran strategis sebagai pusat pendidikan sekaligus penggerak ekonomi. Ia menilai program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya meningkatkan kualitas gizi, tetapi juga membuka peluang ekonomi melalui keterlibatan sektor pertanian hingga perikanan dalam rantai pasok.
“OJK hadir tidak hanya sebagai regulator, tetapi juga katalis dan fasilitator yang membuka akses pembiayaan serta mempertemukan pelaku usaha dengan lembaga keuangan syariah,” ujarnya.
Melalui FEBIS, pelaku usaha pesantren mendapat kesempatan business matching dengan lembaga jasa keuangan syariah, guna memperluas akses pembiayaan. Sementara program SAKINAH membekali santri dengan pemahaman pengelolaan keuangan, produk keuangan syariah, hingga kewaspadaan terhadap aktivitas ilegal.
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Sony Sanjaya, menambahkan bahwa program MBG menyasar kelompok rentan seperti ibu hamil, balita, dan santri, sekaligus memberikan dampak ekonomi melalui pelibatan masyarakat luas.
Dukungan juga datang dari Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf yang menilai program ini penting untuk meningkatkan kualitas SDM santri, baik secara intelektual, fisik, maupun spiritual.
Sebagai bagian dari kegiatan, dilakukan peresmian fasilitas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) serta penandatanganan prasasti untuk 27 SPPG, sebagai langkah konkret penguatan ekosistem ekonomi pesantren yang berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan