MAKASSAR — Peta logistik Indonesia Timur mulai menarik garis tebal baru. Abu Dhabi Ports Group (ADPG), raksasa pelabuhan asal Uni Emirat Arab, secara resmi menjajaki potensi investasi di Makassar New Port (MNP).

Sinyal ini menandai meningkatnya minat investor global terhadap Makassar sebagai simpul strategis rantai pasok kawasan timur Indonesia.

Kunjungan tim ADPG yang dipimpin Ghazi Masmoudi, bersama Huang Peng dan Vasco Mario Namara, berlangsung bersama Direktur Utama PT Kawasan Industri Makassar, Alif Abadi. Mereka diterima oleh jajaran Pelindo Regional 4 yang dipimpin Abdul Azis.

Dalam pertemuan strategis, fokus pembahasan mengerucut pada tiga kata kunci: konektivitas, efisiensi, dan integrasi.

Ketiganya ibarat tiga roda penggerak yang menentukan apakah Makassar hanya menjadi pelabuhan transit, atau naik kelas menjadi pusat distribusi regional.

Ghazi Masmoudi menilai Makassar memiliki “magnet geografis” yang kuat. Letaknya berada di jalur pelayaran vital, ditopang infrastruktur pelabuhan modern serta kedekatan dengan kawasan industri.

“Kami melihat potensi besar untuk meningkatkan efisiensi rantai pasok dan membuka ruang kolaborasi jangka panjang,” ujarnya.

Pandangan itu sejalan dengan strategi PT Kawasan Industri Makassar. Menurut Alif Abadi, hubungan antara pelabuhan dan kawasan industri bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.

“Jika pelabuhan adalah pintu, maka kawasan industri adalah mesinnya. Keduanya harus menyatu agar daya saing meningkat dan investor merasa yakin untuk masuk,” katanya.

Sementara itu, Pelindo menegaskan bahwa Makassar New Port dirancang bukan sekadar menambah kapasitas, tetapi membangun ekosistem logistik modern.

Dari terminal peti kemas hingga integrasi digital layanan, semua diarahkan untuk memangkas biaya logistik yang selama ini menjadi tantangan utama di kawasan timur.

Kunjungan lapangan ke Terminal Peti Kemas New Makassar 1 menjadi penutup agenda, memperlihatkan secara langsung kesiapan operasional yang menjadi “etalase” daya saing pelabuhan ini.

Di balik kunjungan ini, tersimpan pesan ekonomi yang lebih luas: Makassar tidak lagi hanya menjadi titik singgah, tetapi sedang dipoles menjadi panggung utama perdagangan.

Jika kerja sama ini berlanjut, efeknya bisa menjalar seperti arus laut yang tak terlihat namun kuat, dari peningkatan investasi, efisiensi distribusi barang, hingga terbukanya lapangan kerja baru.

Makassar kini berdiri di persimpangan penting. Dan kali ini, dunia mulai menoleh.