MAKASSAR — Di sebuah warung kopi, secangkir kopi dibayar tanpa lembaran uang berpindah tangan.

Pelanggan cukup mengarahkan kamera ponselnya ke sebuah kode QR, menunggu beberapa detik, lalu transaksi selesai.

Pemandangan serupa kini semakin mudah ditemukan, bukan hanya di kafe atau pusat perbelanjaan, tetapi juga di pasar tradisional, lapak UMKM, toko kecil, destinasi wisata hingga berbagai layanan masyarakat.

Bagi sebagian orang, memindai QRIS mungkin hanya perkara beberapa detik.

Namun, di balik gerakan sederhana itu, terjadi perubahan besar dalam cara masyarakat Sulawesi Selatan bertransaksi.

Uang tunai perlahan mendapat pesaing baru: pembayaran digital yang cukup dilakukan melalui layar telepon genggam.

Perubahan tersebut tercermin dari besarnya ekosistem QRIS di Sulawesi Selatan.

Per 30 Juni 2024, jumlah pengguna QRIS telah mencapai sekitar 1,48 juta, sedangkan merchant yang menggunakannya mencapai sekitar 1,46 juta.

Dalam periode yang sama, volume transaksi QRIS tercatat sekitar 148,8 juta transaksi.

Angka-angka itu menunjukkan bahwa QRIS bukan lagi sekadar fasilitas pembayaran yang ditemui di pusat-pusat ekonomi modern.

Ia telah masuk ke ruang ekonomi sehari-hari masyarakat, menyentuh pedagang kecil dan konsumen dari berbagai lapisan.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Selatan, Rizki Ernadi Wimanda, melihat perkembangan tersebut sebagai bagian dari semakin luasnya pemanfaatan pembayaran digital di daerah.

Dari warung kopi hingga pasar tradisional, QRIS perlahan mengubah kebiasaan lama: dari uang yang berpindah dari satu tangan ke tangan lain menjadi transaksi yang berpindah melalui jaringan digital.

Di sinilah cerita QRIS di Sulawesi Selatan menjadi lebih besar daripada sekadar soal cara membayar.

Ia menyentuh pertanyaan yang lebih mendasar: sejauh mana digitalisasi pembayaran mampu mengubah cara pelaku usaha berjualan, konsumen bertransaksi, dan ekonomi daerah bergerak?

Data per 30 Juni 2024 menunjukkan besarnya skala penggunaan QRIS di Sulawesi Selatan.

Jumlah pengguna QRIS telah mencapai sekitar 1,48 juta pengguna, sementara jumlah merchant yang menggunakan QRIS mencapai sekitar 1,46 juta merchant.

Pada periode yang sama, volume transaksi QRIS di Sulawesi Selatan tercatat sekitar 148,8 juta transaksi.

Angka tersebut tidak sekadar menunjukkan pertumbuhan penggunaan sebuah teknologi pembayaran.

Di dalamnya terdapat gambaran mengenai perubahan pola konsumsi masyarakat dan cara pelaku usaha menjalankan transaksi.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Selatan, Rizki Ernadi Wimanda, menjadi salah satu narasumber dalam melihat perkembangan pembayaran digital tersebut.

Ketika Pembayaran Digital Masuk ke Ekonomi Rakyat

Perubahan paling terasa dari kehadiran QRIS adalah semakin pendeknya jarak antara teknologi digital dan aktivitas ekonomi masyarakat sehari-hari.

Dulu, pembayaran digital lebih mudah ditemukan pada bisnis yang telah memiliki infrastruktur teknologi dan sistem pembayaran modern.

Kini, seorang pedagang kecil pun dapat menyediakan metode pembayaran digital tanpa harus membangun sistem pembayaran sendiri.

Di pasar tradisional, misalnya, transaksi yang sebelumnya identik dengan uang tunai kini mulai memiliki alternatif pembayaran melalui QRIS. Hal serupa terlihat di warung kopi dan usaha kuliner kecil.

Fenomena ini penting karena struktur ekonomi Sulawesi Selatan tidak hanya ditopang oleh perusahaan besar.

UMKM menjadi bagian penting dari aktivitas ekonomi masyarakat.

Ketika pembayaran digital semakin mudah diterima oleh pelaku usaha kecil, maka proses digitalisasi ekonomi juga bergerak dari tingkat akar rumput.

QRIS pada akhirnya bukan hanya persoalan bagaimana konsumen membayar.

Ia juga menyentuh bagaimana merchant menerima transaksi, mencatat aktivitas penjualan dan berinteraksi dengan konsumen.

Bagi merchant, salah satu keuntungan utama QRIS terletak pada konsep satu kode untuk berbagai layanan pembayaran.

Pelaku usaha tidak perlu menyediakan banyak kode QR dari berbagai penyedia layanan pembayaran.

Satu QRIS dapat menjadi pintu masuk bagi beragam transaksi pembayaran digital.

Konsep tersebut membuat sistem pembayaran menjadi lebih sederhana.

Pedagang cukup menyediakan satu kode QR yang dapat dipindai oleh konsumen menggunakan layanan pembayaran yang mendukung QRIS.

Bagi konsumen, kemudahan itu berarti tidak harus selalu membawa uang tunai.

Sementara bagi merchant, semakin banyak pilihan pembayaran yang dapat diterima berpotensi memperluas akses konsumen terhadap produk dan jasa yang ditawarkan.

148,8 Juta Transaksi dan Perubahan Perilaku

Angka 148,8 juta transaksi menjadi indikator penting dalam membaca perkembangan QRIS di Sulawesi Selatan.

Jika jumlah transaksi tersebut ditempatkan dalam konteks aktivitas ekonomi sehari-hari, maka QRIS telah menjadi bagian dari rutinitas pembayaran masyarakat.

Transaksi tidak hanya berlangsung di tempat-tempat yang secara khusus dikenal sebagai pusat ekonomi digital.

QRIS hadir dalam transaksi dengan skala yang beragam.

Ada transaksi di warung kopi, pembayaran makanan dan minuman, pembelian barang di toko, transaksi UMKM, hingga pembayaran pada berbagai layanan masyarakat.

Inilah yang membuat perkembangan QRIS menarik untuk dilihat dari perspektif ekonomi digital.

Teknologi tersebut tidak berdiri sebagai produk yang terpisah dari kehidupan ekonomi, melainkan menjadi bagian dari infrastruktur pembayaran.

Semakin banyak merchant yang menerima QRIS, semakin luas pula titik tempat masyarakat dapat menggunakan pembayaran digital.

Sebaliknya, semakin banyak masyarakat menggunakan pembayaran digital, semakin kuat alasan merchant untuk menyediakan QRIS.

Terbentuk sebuah ekosistem yang saling memperkuat.

Data 1,48 juta pengguna dan 1,46 juta merchant per 30 Juni 2024 memperlihatkan bahwa ekosistem tersebut telah memiliki basis yang sangat besar di Sulawesi Selatan.

Namun, ukuran keberhasilan digitalisasi pembayaran tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah pengguna dan merchant.

Tantangan berikutnya adalah memastikan penggunaan tersebut berlangsung secara berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata bagi pelaku ekonomi.

Peluang Baru bagi UMKM

Bagi UMKM, digitalisasi pembayaran dapat menjadi bagian dari proses transformasi usaha.

Selama bertahun-tahun, salah satu tantangan usaha kecil adalah bagaimana mengikuti perubahan perilaku konsumen.

Ketika konsumen semakin terbiasa membawa ponsel daripada uang tunai, merchant dituntut mampu mengikuti perubahan tersebut.

QRIS memberikan salah satu jawabannya.

Pedagang yang menerima QRIS dapat melayani konsumen yang memilih pembayaran non-tunai tanpa harus membangun sistem pembayaran yang rumit.

Dalam konteks yang lebih luas, digitalisasi pembayaran juga membuka peluang bagi UMKM untuk masuk lebih jauh ke dalam ekosistem ekonomi digital.

Namun, pembayaran digital hanyalah salah satu bagian dari transformasi tersebut.

Kemampuan pelaku usaha mengelola keuangan, meningkatkan kualitas produk, memanfaatkan pemasaran digital dan menjaga keamanan transaksi tetap menjadi faktor penting agar digitalisasi benar-benar menghasilkan peningkatan produktivitas.

Karena itu, pertumbuhan QRIS idealnya berjalan bersama peningkatan literasi digital dan literasi keuangan masyarakat.

Dari Transaksi ke Ekosistem Ekonomi Digital

Perjalanan QRIS di Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa transformasi digital tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang rumit.

Sebuah kode QR yang dipindai dalam hitungan detik dapat menjadi pintu masuk menuju perubahan yang lebih luas.

Ketika pedagang kecil mulai menerima pembayaran digital, ketika konsumen terbiasa melakukan transaksi tanpa uang tunai, dan ketika semakin banyak sektor ekonomi menerima QRIS, maka batas antara ekonomi konvensional dan ekonomi digital semakin tipis.

Perubahan tersebut juga memperlihatkan bahwa digitalisasi dapat berjalan secara inklusif.

Teknologi pembayaran tidak hanya diperuntukkan bagi kelompok masyarakat yang tinggal di pusat kota atau bertransaksi di pusat perbelanjaan modern.

Pasar tradisional, warung kopi, UMKM, destinasi wisata hingga berbagai layanan masyarakat ikut menjadi bagian dari ekosistem tersebut.

Bagi Sulawesi Selatan, perkembangan ini memiliki arti strategis. Dengan basis pengguna sekitar 1,48 juta dan merchant sekitar 1,46 juta per 30 Juni 2024, serta volume transaksi sekitar 148,8 juta transaksi, QRIS telah menunjukkan skala pemanfaatan yang signifikan.

Tantangannya kini bukan lagi sekadar memperkenalkan QRIS. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana memastikan digitalisasi pembayaran mampu menghasilkan dampak ekonomi yang lebih besar: memperluas akses transaksi, membantu UMKM berkembang, meningkatkan efisiensi pembayaran, sekaligus memperkuat ekosistem ekonomi digital Sulawesi Selatan.

Pada titik inilah QRIS dapat dipandang bukan sekadar kode yang terpampang di meja kasir.

Ia merupakan bagian dari perubahan cara masyarakat bertransaksi.

Dari pasar tradisional hingga pusat perbelanjaan, dari warung kopi hingga destinasi wisata, pembayaran digital perlahan menjadi bahasa baru dalam aktivitas ekonomi masyarakat Sulawesi Selatan.

Dan ketika jutaan pengguna serta merchant telah terhubung dalam ekosistem tersebut, perubahan itu bukan lagi sekadar tren teknologi. Ia telah menjadi bagian dari wajah baru ekonomi daerah.