JENEPONTO, matasulsel.id — Aktivitas panen padi kembali terlihat di Kampung Lembang Loe, Kelurahan Balang, Kecamatan Binamu, Kabupaten Jeneponto, Rabu, 13 Agustus 2026.

Sejumlah petani melakukan pemanenan menggunakan mesin dros atau mesin panen padi berkapasitas besar, sementara sebagian petak sawah lainnya masih menunggu waktu panen hingga bulir padi benar-benar menguning dan siap dipanen.

Pemandangan hamparan sawah yang sebagian telah selesai dipanen dan sebagian lainnya masih dalam proses pematangan menunjukkan bahwa aktivitas pertanian di wilayah tersebut tetap berjalan di tengah kondisi yang telah memasuki musim kemarau.

Menariknya, musim tanam kali ini merupakan musim tanam kedua bagi sebagian petani di Lembang Loe. Sebelumnya, para petani juga telah melakukan panen pada awal tahun 2026.

Dengan dukungan sumber air melalui sistem pompanisasi dari sungai yang berada di sekitar kawasan tersebut, petani masih mampu mempertahankan aktivitas budidaya tanaman pangan meskipun curah hujan mulai berkurang.

Salah seorang petani setempat, Sudirman, yang akrab disapa Tonteng, menyampaikan bahwa hasil panen pada musim tanam kali ini cukup baik. Kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa ketersediaan air melalui pompanisasi memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan produksi pertanian, khususnya ketika memasuki musim kemarau.

“Kalau hasilnya cukup bagus. Sekarang sudah masuk musim kemarau, tetapi karena pengairan masih bisa didukung dengan pompa dari sungai, kami tetap bisa menanam dan panen,” ungkap Sudirman.

Selain padi, aktivitas pertanian di kawasan tersebut juga menunjukkan pola tanam yang dinamis. Sejumlah petani bahkan telah melakukan panen jagung, sementara sebagian lainnya mulai kembali menanam jagung untuk musim tanam berikutnya. Komoditas jagung yang banyak dibudidayakan merupakan jenis jagung kuning.

Kondisi ini menunjukkan kemampuan petani dalam mengoptimalkan lahan pertanian melalui pola tanam berkelanjutan, dengan menyesuaikan ketersediaan air, kondisi musim, serta peluang ekonomi dari komoditas yang dibudidayakan.

Di tengah aktivitas panen, aspek pemasaran hasil produksi menjadi perhatian penting bagi petani. Sudirman menjelaskan, apabila gabah dijual langsung dalam kondisi basah kepada pedagang atau pembeli, harga yang diterima petani saat ini berada di kisaran Rp6.400 per kilogram.

Menurutnya, harga tersebut relatif cukup baik. Namun demikian, petani masih berharap adanya kepastian pasar serta kemungkinan penyerapan gabah oleh pemerintah melalui Perum Bulog dengan harga yang memberikan keuntungan lebih baik bagi petani.

Harapan tersebut menjadi penting karena keberhasilan produksi pertanian tidak hanya ditentukan oleh kemampuan petani menghasilkan panen, tetapi juga bagaimana hasil produksi tersebut dapat terserap dengan harga yang memberikan nilai ekonomi yang layak.

Dengan demikian, sinergi antara petani, pemerintah, pelaku usaha, serta lembaga yang memiliki kewenangan dalam penyerapan hasil pertanian menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlanjutan usaha tani dan meningkatkan kesejahteraan petani.

Hal lain yang menarik dari aktivitas panen di Lembang Loe adalah penggunaan mesin dros atau mesin panen padi. Penggunaan mekanisasi tersebut membuat proses panen dapat dilakukan dengan kapasitas yang lebih besar dan waktu yang relatif lebih efisien dibandingkan apabila dilakukan secara manual.

Namun, menurut keterangan petani, mesin panen yang digunakan saat ini masih didatangkan dari kabupaten lain. Kondisi tersebut sekaligus membuka ruang bagi penguatan dukungan sarana dan prasarana pertanian di tingkat lokal.

Para petani berharap, ke depan, terdapat perhatian dan dukungan agar kelompok tani di wilayah tersebut dapat memiliki atau memperoleh akses yang lebih mudah terhadap mesin panen sendiri.

Ketersediaan mesin pertanian di tingkat lokal dinilai tidak hanya dapat mempercepat proses panen, tetapi juga berpotensi mengurangi biaya operasional, meningkatkan efisiensi waktu, serta memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi petani.

Aktivitas pertanian di Lembang Loe memberikan gambaran bahwa musim kemarau tidak selalu menjadi penghalang bagi petani untuk mempertahankan produktivitas.

Dengan dukungan sumber air, teknologi pompanisasi, mekanisasi pertanian, serta kemampuan petani mengatur pola tanam, lahan pertanian masih dapat dimanfaatkan secara produktif.

Fenomena tersebut sekaligus menjadi bahan pembelajaran bahwa pengelolaan sumber daya air menjadi salah satu faktor strategis dalam menjaga ketahanan pangan daerah, terutama pada wilayah yang menghadapi tantangan perubahan musim.

Ke depan, penguatan infrastruktur pengairan, perluasan akses terhadap alat dan mesin pertanian, peningkatan kapasitas kelompok tani, serta kepastian pasar dan harga hasil produksi menjadi beberapa aspek yang perlu terus mendapat perhatian bersama. (*)