JENEPONTO, matasulsel.id – Suasana semarak dan kaya nilai adat membungkus Kampung Nelayan Merah Putih, Desa Balangloe Tarowang, Kecamatan Tarowang, Kabupaten Jeneponto.

Pemerintah Desa Balangloe Tarowang bekerjasama, Karang Taruna Kecamatan Tarowang dan Dinas Pemuda olahraga Kabupaten Jeneponto sukses menggelar pesta adat tahunan Je’ne-Je’ne Sappara (JJS) 2026 yang dirangkaikan dengan Festival Olahraga Tradisional Daerah.

Perhelatan ini berlangsung meriah sejak Rabu (23/07) hingga puncaknya pada Rabu (29/07).
Festival budaya yang diadakan untuk merawat ingatan sejarah Kerajaan Tarowang ini tak hanya menjadi wadah silaturahmi ribuan warga dan pendorong ekonomi UMKM lokal, namun juga membawa terobosan baru yang menyedot perhatian publik.

Salah satu magnet utama yang menjadi pembicaraan hangat sepanjang gelaran JJS 2026 adalah panggung Assempa’ (adu kaki tradisional). Tradisi fisik diwariskan turun-temurun ini diangkat ke level baru melalui kolaborasi bersama komunitas Mixed Martial Arts (MMA).
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, panitia kini menghadirkan ring pertarungan oktagon yang dilengkapi pembatas keamanan profesional serta dewan juri bersertifikasi.

Dipilah ke dalam tiga kelas berat badan (50–55 kg, 56–60 kg, dan 61–65 kg), ajang ini memberikan ruang aman, terukur, dan sportiv bagi pemuda setempat untuk menyalurkan bakat bertarungnya tanpa menghilangkan semangat ksatria khas Turatea.
Penataan Assempa’ yang modern dan profesional ini berakar kuat pada sejarah perjuangan Kerajaan Tarowang.

Amdy Safri Kr. Daming, keturunan Karaeng Tarowang sekaligus Anggota DPRD Kabupaten Jeneponto dari Partai Ummat, menjelaskan nilai historis di balik tradisi ini:

“JJS ini merupakan instrumen sejarah Karaeng Tarowang melayani Karaeng Jawayya yang hendak memicu perang. Saat itu disepakati, daripada terjadi perang terbuka, lebih baik algojo Karaeng Jawayya bertarung (Assempa’) melawan algojo Karaeng Tarowang. Alhasil, Tarowang menang dan Karaeng Jawayya angkat kaki. Assempa’ adalah simbol kebenaran dan keberanian,” ungkap Amdy Safri.

Dari Olahraga Tradisional hingga Pentas Seni
Tidak hanya Assempa’, festival ini dirancang inklusif untuk seluruh lapisan masyarakat—mulai dari pelajar SMP/MTs, pemuda Karang Taruna, hingga warga umum.

Olahraga Rekreasi Tradisional : Siang hingga sore hari diisi dengan kompetisi Hadang (Gobak Sodor/Gala-Galaeng) dan Terompah Panjang (Bakiak), hingga Turnamen Sepak Takraw.

Seni & Edukasi Kultual : Malam harinya disemarakkan dengan Lomba Menari tingkat SMP, Nyanyi Solo Lagu Daerah tingkat SD, hingga babak puncak Pemilihan Duta Wisata.

Pada hari puncak, ribuan pasang mata disuguhkan iring-iringan Kerajaan yang dikawal pasukan berkuda Patonro lengkap dengan kain hiasan Lapa’ Eja saat menjemput Sesepuh Kerajaan.
Keberhasilan teknis festival ini tidak lepas dari bimbingan intensif para Tokoh dan Dewan Adat Tarowang. Mereka bertindak sebagai penasihat agar setiap perlombaan tidak melenceng dari pakem tradisi, sekaligus menjadi jembatan emosional dalam merangkul warga.

Menggerakkan Ekonomi UMKM & Menginspirasi Generasi Muda
Atmosfer kemeriahan mencatatkan partisipasi luar biasa. Setiap malamnya, sekitar 1.000 hingga 1.500 pengunjung memadati arena, dan melonjak hingga mencapai 5.000 warga pada puncak acara.

Keramaian ini membawa dampak instan bagi roda ekonomi warga bawah, khususnya pedagang kuliner khas seperti sara’ba dan kerajinan lokal.

Salah satu Pelaku UMKM Kuliner Lokal mengungkapkan kegembiraannya:
“Alhamdulillah, dagangan saya laris manis sejak hari pertama festival. Penonton tidak berhenti jajan. Bagi kami pedagang kecil, pesta adat ini adalah berkah luar biasa yang benar-benar membantu perekonomian keluarga,” ujanya.

Festival ini juga membuktikan efektivitasnya dalam menyalurkan energi positif generasi muda agar terhindar dari kenakalan remaja maupun ketergantungan gadget.

Seorang Peserta Muda Lomba Tradisional menuturkan:
“Biasanya kami cuma main game di HP, tapi lewat festival ini kami bisa merasakan langsung serunya olahraga tradisional. Ada rasa kebersamaan dan kekompakan yang kuat banget. Apalagi saat menonton Assempa’ malam hari yang makin keren karena pakai ring octagon modern,” terangnya.

Camat Tarowang, Taufik, S.Sos., MM, menegaskan pentingnya menjaga tradisi ini: “JJS harus tetap dilestarikan sebagai kekayaan budaya lokal. Dari sinilah peradaban harus dibangun melalui frame peradatan.”

Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Desa Balangloe Tarowang, Arismunandar Asmar, S.Pd, serta Ketua Karang Taruna Kecamatan Tarowang, Johan, SE., MM., menekankan bahwa pemuda harus menjadi garda terdepan pelestarian budaya.
Kegiatan yang juga mendukung program Pembudayaan Olahraga dari Dispora Jeneponto ini terlaksana berkat sinergi Panitia Pelaksana (Ketua Roswita, Sekretaris Hamsah Haz, Bendahara Nurmila), dukungan Pemdes Balangloe Tarowang, Dinas Pariwisata, Dispora, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, unsur Muspika (Kapolsek & Danramil Batang-Tarowang), Duta Wisata, serta Pemangku Adat setempat.

Festival Olahraga Tradisional dalam Pesta Adat Je’ne-Je’ne Sappara 2026 telah membuktikan bahwa kolaborasi antara pemerintah, tokoh adat, pemuda, dan masyarakat mampu melahirkan tontonan yang edukatif, menghibur, sekaligus memberdayakan.
Ke depan, harapan besar tertumpu agar ajang ini terus konsisten digelar.

Olahraga tradisional dan nilai-nilai luhur Turatea harus tetap membumi dan dipraktikkan oleh generasi penerus, bukan sekadar dipajang dalam ingatan agar Jeneponto terus melangkah maju menjadi daerah yang sehat, berbudaya, dan berprestasi. (*)