By Rudianto Aidid

Seperti tahun sebelumnya hari jadi Kabupaten Jeneponto ke 163 tahun kali ini dirayakan dengan berbagai acara seremoni yang sangat meriah dengan suasana sederhana dan bahagia. Setiap hari jadi selalu ada makna yang hadir dalam perayaannya, paling tidak dua hal.

Pertama, hari jadi dirayakan sebagai bentuk rasa syukur kita oleh karena usia 163 tahun ini penuh keberkahan, Rahmat dengan berbagai nikmat Allah SWT, apatah lagi dalam rilis BPS menunjukkan capaian keberhasilan setahun kepemimpinan Bapak Bupati H. Paris Yasir dari sisi indikator mikro daerah sehingga mestinya membuat kita bangga dan bersujud syukur.

Kedua adalah usia 163 tahun ini bisa juga menjadi momentum kontempelasi tentang berbagai hal yang telah berlalu dan menjadi kajian yang dapat bermanfaat dimasa mendatang.
Kajian dibutuhkan untuk pengayaan hari ini oleh karena ada evaluasi, revitalisasi dan restrukturisasi tentang berbagai hal yang telah dilakukan di masa lalu dan sebagian atau seluruhnya menjadi literasi.

Hari ini kita bisa membuka, membaca dan memahami fenomena di masa lampau bahkan sejarah bukan untuk kembali kemasanya namun menjadi referensi untuk melakukan sesuatu yang berharga di masa depan. Momentum hari jadi penting untuk merencanakan arah masa depan yang progresif. If you fail to plan, you are planning to fail (B. Franklin).

Ada yang menarik sebelum hari jadi, pekan lalu pada rapat monitoring dengan KPK memberikan input ke Perangkat Daerah tentang berbagai hal. Pada segmen pelaporan rencana umum PD, KPK memberikan warning pada kondisi kerja ASN yang mengatakan kalau dalam hal pekerjaan sekecil ini PD tidak mampu maksimal bagaimana dengan pekerjaan besar lainnya.

Katanya ini hanya pekerjaan administratif saja selama bertahun-tahun tapi tidak ada kemajuan. Kalau kondisi kerja seperti itu bagaimana tahun depan, apakah ada perubahan atau kemajuan.

Tahun depan tak bisa diprediksi, mungkin bantuan pusat semakin berkurang atau tidak ada lagi. Makanya Pemerintah Daerah diharapkan untuk berusaha maksimal dalam melaksanakan tanggung jawabnya. Namun jika kondisi kerja masih seperti ini maka akan sulid mencapai target sehingga dalam rapat itu KPK menyarankan Pemerintah Daerah mengkalisifikasi ASN yang bekerja dengan yang tidak bekerja. Kemudian memberikan pendi – singkatan pensiun dini – kepada yang memang tidak produktif. Dimata KPK kondisi kerja seperti ini merugikan Pemerintah.

Setelah itu dikesempatan lain, salah seorang kepala PD berkelakar bahwa pekerjaan di PD itu mungkin bisa selesai walau dua orang saja, jadi yang lain bisa pensiun.

Kondisi kerja saat ini menurun dan tidak maksimal mungkin dipengaruhi pertama faktor yang tidak secara langsung seperti kondisi nasional dan global. Ini adalah faktor eksternal namun kondisi ini baru setahun terakhir mengarahkan alam bawah sadar kita untuk melakukan persiapan dan pengendalian efisien dan efektif. Kemudian kedua adalah faktor internal ASN dapat terlihat dari salah satu ukurannya adalah sikap apatisme.

Dalam aktivitas tupoksinya mungkin menunda kerja yang semestinya selesai. Penundaan-penundaan ini mengakibatkan pada kondisi yang diutarakan KPK tersebut. Kemudian mungkin juga terjadi karena kapasitas SDM maupun kurangnya aktualisasi nilai seperti ikhlas dalam kerja. Hal ini kita perlu melihat dan mancari makna dari relevansi tagline dalam perayaan hari jadi kali ini.

Sadar kondisi yang kurang baik ini sehingga setiap kita perlu memahami tagline ikhlas layak untuk diejawantahkan dalam pelaksanaan tupoksi.

Dalam ilmu komunikasi moderen ada kaidah yang saling terkait antara pengetahuan, sikap dan perilaku. Misalnya sikap kemudian perilaku ASN berbeda dalam melakukan segala sesuatu oleh karena knowledge juga berbeda. Maka dimulai dari pemahaman yang sama tentang ikhlas bekerja misalnya. Secara etimologi ikhlas adalah murni, tulus tidak berharap pujian dari orang lain.

Lebih jauh dalam kontek terminologi agama ikhlas adalah semata hanya mengharap Ridho Allah SWT. sehingga segala aktivitasnya tulus. Jika nilai-nilai tersebut yang digunakan dalam lingkup aktivitas kerja maka lahirlah sufi-sufi corporate. Zaman seperti ini akan terlihat sufi berada dikantor-kantor secara tulus bekerja oleh karena kemurnian niatnya dalam melaksanakan tupoksinya tanpa bergantung faktor dari luar seperti validasi eksternal atau positioning. Ini juga membangun persepsi bahwa pelaksanaan tupoksi atau tugas lainnya juga sebagai ibadah.

Nilai tersebut harus dibentuk pada civitas kantor sehingga ada semangat kolektif dan menjadi semakin luas. Disinilah A’bulo sibatang terbentuk oleh karena ada semangat yang sama dari kausalitas KAP tadi – Knowledge, Attitude dan Practice – dalam melaksanakan tupoksinya masing-masing. Jika nilai-nilai tersebut tidak terbentuk dalam jamaah atau civitas maka akan sulit terjadi transformasi. Oleh karenanya dalam hal ini A’bulo sibatang dalam membangun keikhlasan adalah kunci untuk melakukan pekerjaan dengan rasa suka cita. Ukuran keikhlasan terlihat dalam aktivitas seseorang yang dilakukan dengan suka cita. Tanpa beban dalam melakukannya bahkan jika difahami pekerjaan itu sebagai ghairu mahdhah – ibadah – maka hadirlah ketenangan yang dapat meningkatkan hormon endorfin yang menghadirkan rasa bahagia. Kita sadari ataupun tidak begitulah sejatinya ibadah.

Jadi makna tegline ikhlas dan bahagia ini adalah nilai ideal universal yang dicita-citakan semua manusia. Mari kita coba memperhatikan, segala pilihan hidup semua memiliki alasan yang bemacam-macam namun ujung alasan itu yang utama adalah kebahagiaan, menginginkannya adalah sebuah keniscayaan. Islam dan semua agama, ideologi dan sekte atau pemikiran apapun. Para tokoh agama maupun para filsuf Plato, Karl Marx, Aristoteles dan lainnya menginginkan kebahagiaan namun melalui caranya masing-masing dalam mencari nilai tersebut. Hanya oleh karena sebagian manusia terdikte – kotak pandora – persepsinya masing-masing sehingga ikhlas dan bahagia aktualnya berbeda, lagi-lagi oleh karena knowlidge.

Persepsi perlu dibangun menjadi sebuah cita-cita, maka kearifan lokal A’bulo sibatang dalam beraktivitas – kantor, masyarakat, komunitas – yang dilandasi dengan keikhlasan maka capaian khususnya di Perangkat Daerah akan melaju sehingga target visi misi jeneponto bahagia akan tercapai. Hari ini harus lebih baik dari kemarin begitulah pesan Ulama. Siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin maka dialah orang yang beruntung dan siapa yang hari ini sama dari hari kemarin maka dialah orang yang merugi.

Akhirnya semua pilihan ada pada pribadi masing-masing. Akankan terus dalam kondisi seperti ini yang dapat merugikan ataukah kita memilih untuk lebih baik dan bahagia. Manusia adalah makhluk merdeka untuk memilih dan setiap pilihan konsekwensinya adalah pertanggung jawaban. Allah memberikan pilihan dalam QS. Al-kahfi : 29 ” Dan Katakanlah (Muhammad) kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; barang siapa menghendaki (beriman) hendaklah dia beriman, dan barang siapa menghendaki (kafir) biarlah dia kafir….”. Jadi ada dua jalan yang diperlihatkan dan manusia dengan kehendaknya dapat memilih dengan konsekwensinya masing-masing (dapat dilihat kelanjutan ayatnya) – Wallahu a’lam.

Walaupun subyektif namun harapannya, tegline hari jadi ini yang merupakan nilai universal dapat diaktualisasikan dalam kehidupan sebagai sebuah jalan untuk mencapai visi misi Kabupaten Jeneponto. Semoga dengan usia yang ke 163 tahun ini, tidak membuat Jeneponto redup tapi semakin bersinar dan bahagia. (*)