JAKARTA – Perkembangan pesat layanan keuangan digital membawa peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi, namun sekaligus menghadirkan tantangan baru berupa meningkatnya risiko penipuan digital.
Karena itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkuat keamanan ekosistem keuangan digital dan pelindungan konsumen untuk menjaga kepercayaan masyarakat.
Penguatan tersebut menjadi salah satu fokus pembahasan pada hari kedua Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia (FEKDI) dan Indonesia Fintech Summit & Expo (IFSE) 2026 di Jakarta, Jumat, 25 September 2026.
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen OJK, Dicky Kartikoyono, mengatakan keamanan ekosistem digital dan pelindungan konsumen merupakan fondasi penting agar inovasi keuangan digital dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi perekonomian nasional.
Hal tersebut disampaikan Dicky dalam Leader’s Insight pada Casual Talk bertema “Menjaga Kepercayaan, Mengawal Inovasi: Ekosistem Digital yang Aman dan Berdaulat.”
Menurut Dicky, inovasi digital memiliki peran strategis dalam meningkatkan produktivitas nasional sekaligus menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia.
“Inovasi digital kita itu tujuannya adalah untuk mendorong produktivitas yang akhirnya menjadi engine of growth kita, dengan visi atau target pertumbuhan ekonomi kita sebesar 8 persen,” kata Dicky.
Ia menjelaskan, sektor jasa keuangan memiliki posisi penting sebagai jembatan yang menghubungkan perkembangan teknologi dengan pencapaian target pertumbuhan ekonomi nasional.
Namun, inovasi digital membutuhkan kepercayaan masyarakat. Karena itu, menurut Dicky, kepercayaan tidak dapat dibangun oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan kolaborasi berbagai pemangku kepentingan.
“Kepercayaan membutuhkan kolaborasi,” ujarnya.
Dicky menekankan bahwa pelindungan konsumen tidak boleh hanya dilakukan setelah terjadi permasalahan. Upaya tersebut harus dilakukan secara proaktif dan preventif sejak awal.
Pelindungan konsumen, lanjutnya, perlu dilakukan sepanjang perjalanan konsumen, mulai dari tahap desain produk, pemasaran, penggunaan layanan, hingga proses penanganan pengaduan dan pemulihan hak konsumen.
Penipuan Digital Makin Lintas Sistem
Seiring semakin luasnya pemanfaatan layanan keuangan digital, OJK juga mencermati perkembangan modus penipuan digital atau scam yang melibatkan berbagai platform dan sistem.
Karakter penipuan digital yang semakin lintas sistem membuat penanganannya membutuhkan kerja sama antarlembaga.
“Penipuan digital bersifat lintas sistem, sehingga penanganannya membutuhkan kolaborasi lintas lembaga. Melalui satu pintu pelaporan yang terhubung dengan berbagai lembaga, kita ingin memastikan setiap laporan masyarakat dapat ditangani secara cepat, terpadu, dan tuntas,” tegas Dicky.
OJK telah memiliki sejumlah instrumen untuk memperkuat pelindungan konsumen, antara lain pengawasan perilaku pelaku usaha jasa keuangan, Aplikasi Portal Perlindungan Konsumen (APPK), Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI), serta Indonesia Anti-Scam Centre (IASC).
Ke depan, berbagai instrumen tersebut perlu bekerja sebagai satu ekosistem yang terintegrasi.
Penguatan sinergi dengan Bank Indonesia (BI), kementerian, dan lembaga terkait menjadi bagian penting dalam membangun sistem pelaporan penipuan yang terhubung sehingga penanganan laporan masyarakat dapat dilakukan secara lebih terpadu.
Casual Talk tersebut turut menghadirkan Kepala Departemen Surveilans Sistem Pembayaran dan Pelindungan Konsumen Bank Indonesia Sally Marintan Hutapea, Direktur Eksekutif Kelompok Spesialis Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen OJK Djoko Kurnijanto, serta perwakilan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) dan Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) sebagai panelis.
Pembahasan mencakup upaya menjaga kepercayaan masyarakat, pemanfaatan inovasi untuk meningkatkan keamanan ekosistem, penguatan resiliensi ekosistem digital, serta kolaborasi antarotoritas dan industri.
Regulasi Digital OJK Dorong Inovasi Tetap Aman
Hari kedua FEKDI x IFSE 2026 mengusung tema “Membangun Talenta Digital dan Mendorong Inovasi untuk Memperkuat Daya Saing Ekonomi Keuangan Digital Indonesia.”
Rangkaian kegiatan diawali Signature Moment Talenta Digital untuk Indonesia Maju yang diikuti Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti dan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno, bersama sejumlah menteri, jajaran OJK, serta pimpinan asosiasi industri.
OJK juga berpartisipasi dalam Casual Talk bertema “Strategi dan Pemanfaatan Inovasi Digital sebagai Penggerak Pertumbuhan Ekonomi.”
Dalam sesi tersebut, Kepala Departemen Pengaturan dan Perizinan IAKD OJK Gonthor Ryantori Aziz menjelaskan bahwa strategi regulasi digital OJK diarahkan untuk menjaga keseimbangan antara inovasi dan stabilitas sistem keuangan.
Pendekatan tersebut dibangun melalui tiga pilar, yakni ruang uji coba atau regulatory sandbox, standar dasar yang kuat, serta evaluasi berbasis bukti.
Regulatory Sandbox menjadi jembatan antara inovasi dan kepatuhan. Melalui mekanisme tersebut, manfaat sekaligus risiko sebuah inovasi dapat diuji secara terbatas sebelum dipasarkan secara luas.
Namun, OJK menegaskan bahwa kelulusan dari regulatory sandbox tidak otomatis memberikan izin usaha. Peserta tetap harus menindaklanjuti proses perizinan atau pendaftaran sesuai ketentuan yang berlaku.
Sinergi OJK-BI Jadi Penopang Ekosistem Digital
Semakin terintegrasinya layanan keuangan juga menuntut pengawasan lintas otoritas yang semakin solid.
Karena itu, sinergi antara OJK, Bank Indonesia, kementerian, dan lembaga terkait menjadi bagian penting untuk memastikan ekosistem keuangan digital tetap inovatif sekaligus aman dan terpercaya.
Selain sesi utama, hari kedua FEKDI x IFSE 2026 juga diisi dengan Digital Talent Expo, business matching, serta talkshow di mini stage.
Berbagai kegiatan tersebut menampilkan inisiatif industri dalam memperluas inklusi keuangan dan pembiayaan bagi sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Penguatan keamanan, pelindungan konsumen, regulasi, dan kolaborasi lintas lembaga menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem keuangan digital yang tidak hanya berkembang dari sisi inovasi, tetapi juga memiliki fondasi kepercayaan masyarakat yang kuat.

Tinggalkan Balasan