Makassar, matasulsel.id – Mentari pagi baru saja menyapa, ketika puluhan finalis Putra Putri Maritim Sulawesi Selatan berkumpul di kawasan Pantai Losari, tepat di depan Benteng Rotterdam, Rabu (22/7) pukul 06.00 WITA.

Dari titik keberangkatan itu, mereka menyeberang menuju Pulau Lae-Lae untuk mengikuti pembekalan kemaritiman yang dirancang berbeda, bukan sekadar mendengar materi, tetapi belajar langsung dari alam.

Di tengah semilir angin laut dan hamparan pesisir, hadir sosok inspiratif Ratnasari, S.Pi., M.Si, pemilik CV Bulan Bintang, inovator produk berbasis sumber daya kelautan yang dikenal luas dengan julukan “Sang Penenun Laut.” Julukan tersebut bukan tanpa alasan. Selama bertahun-tahun, Ratnasari berhasil membuktikan bahwa kekayaan laut tidak hanya berhenti pada hasil tangkapan ikan, tetapi juga dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi yang memberi manfaat bagi masyarakat.

Melalui inovasi yang terus dikembangkan, ia berhasil mengolah rumput laut dan berbagai bahan baku pesisir menjadi Minyak Faahirah, aneka kosmetik alami, hingga produk kesehatan tradisional yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Baginya, laut bukan sekadar ruang kehidupan, melainkan laboratorium alam yang menyimpan jutaan peluang bagi mereka yang memiliki keberanian untuk berinovasi.

Ratnasari memilih meninggalkan metode ceramah dan menggantinya dengan pendekatan experiential learning atau pembelajaran berbasis pengalaman.

Para finalis diberi tantangan sederhana, tetapi sarat makna, mereka memiliki waktu tiga menit untuk menyusuri kawasan pesisir dan menemukan dua benda apa pun yang menarik perhatian, baik berupa tumbuhan pantai, biota laut, cangkang, batu karang, maupun benda lain yang ditemukan di sekitar lokasi.

Setelah kembali berkumpul, setiap peserta diminta mempresentasikan temuannya sekaligus menjelaskan bagaimana benda tersebut dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai tambah bagi masyarakat.

Dari tantangan sederhana itu lahirlah berbagai gagasan kreatif. Ada yang melihat potensi cangkang laut sebagai kerajinan bernilai seni, ada yang membayangkan tanaman pesisir sebagai bahan kosmetik alami, sementara peserta lainnya menawarkan konsep produk ramah lingkungan berbasis limbah laut. Beragam ide tersebut memperlihatkan bahwa kreativitas mampu mengubah cara pandang terhadap sumber daya yang selama ini dianggap biasa.

Suasana pembelajaran pun berlangsung hidup. Diskusi mengalir hangat, dipenuhi rasa ingin tahu dan keberanian menyampaikan gagasan. Tidak ada jawaban yang dianggap salah, karena yang paling dihargai adalah kemampuan berpikir kritis, berimajinasi, dan menemukan peluang dari lingkungan sekitar.

Bagi Ratnasari, itulah hakikat seorang Duta Maritim.

Mereka tidak cukup hanya mengenal potensi laut, tetapi juga harus mampu menjadi penggerak perubahan yang menghadirkan solusi bagi masyarakat melalui inovasi dan pemanfaatan sumber daya secara bertanggung jawab.

“Laut tidak hanya memberikan ikan. Di setiap jengkal pesisir tersimpan peluang ekonomi yang menunggu untuk ditemukan. Tugas generasi muda adalah mengubah potensi menjadi inovasi, dan inovasi menjadi kesejahteraan,” ungkap Ratnasari di hadapan para finalis.

Pesan tersebut menjadi refleksi bahwa masa depan kemaritiman Indonesia tidak hanya bergantung pada kekayaan alam yang dimiliki, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusia yang mampu mengelolanya secara kreatif, inovatif, dan berkelanjutan.

Kegiatan pembekalan di Pulau Lae-Lae juga menjadi pengingat bahwa pendidikan terbaik tidak selalu berlangsung di dalam ruangan. Alam mampu menjadi ruang belajar yang kaya akan pengalaman, mengajarkan peserta untuk mengamati, menganalisis, berdiskusi, hingga melahirkan gagasan yang dapat menjawab tantangan pembangunan ekonomi berbasis kelautan.

Lebih dari sekadar agenda pembekalan bagi finalis Putra Putri Maritim Sulawesi Selatan, kegiatan ini merupakan investasi bagi lahirnya generasi muda yang memiliki kepedulian terhadap laut, memahami pentingnya menjaga ekosistem pesisir, sekaligus mampu menciptakan nilai tambah dari sumber daya lokal melalui inovasi.

Di tengah tantangan perubahan iklim dan tuntutan pembangunan berkelanjutan, semangat yang ditanamkan Ratnasari menjadi pengingat bahwa laut bukan hanya warisan yang harus dijaga, tetapi juga sumber inspirasi yang mampu melahirkan peluang ekonomi baru. Ketika ilmu pengetahuan dipadukan dengan kreativitas dan kecintaan terhadap lingkungan, pesisir bukan lagi dipandang sebagai batas daratan, melainkan sebagai awal lahirnya inovasi yang membawa manfaat bagi masyarakat.

Dari Pulau Lae-Lae, semangat itu pun berlayar—menginspirasi para finalis untuk menjadi duta yang tidak hanya fasih berbicara tentang kemaritiman, tetapi juga mampu menghadirkan aksi nyata dalam mendorong ekonomi biru, memperkuat kesejahteraan masyarakat pesisir, dan menjaga kelestarian laut Indonesia untuk generasi yang akan datang. (*)