MATASULSEL.ID, JENEPONTO – Di tengah hiruk-pikuk Jalan Lanto Dg. Pasewang, tepatnya berhadapan dengan Masjid Agung Jeneponto, sebuah tempat cukur sederhana telah menjadi saksi perjalanan bangkitnya seorang perajin gunting. Andris, pemilik usaha cukur rambut Turatea, membuktikan bahwa dengan ketekunan dan dukungan yang tepat, impian kecil dapat berkembang menjadi harapan yang nyata.

Awalnya, Andris hanya mengandalkan peralatan seadanya dan keterampilan yang ia pelajari secara otodidak. Namun, hasratnya untuk memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan membuatnya terus berusaha meningkatkan usahanya. Kesempatan itu datang ketika ia mengenal Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI. Dengan bantuan pinjaman tersebut, Andris mampu merenovasi tempat usahanya, melengkapi peralatan cukur yang lebih modern, dan menata ruangan agar lebih nyaman bagi pelanggan.

“Dulu, saya hanya bisa mengandalkan sedikit alat dan tempat yang sangat sederhana. Setelah mendapatkan KUR BRI, saya bisa memperbaiki segalanya—dari kursi cukur hingga cermin yang lebih baik. Ini benar-benar mengubah jalan hidup saya,” ujar Andris dengan senyum penuh syukur.

Usahanya yang terletak di lokasi strategis dekat Masjid Agung Jeneponto kini ramai dikunjungi pelanggan dari berbagai kalangan. Dengan tarif yang terjangkau, yaitu Rp15.000 untuk dewasa dan Rp10.000 untuk anak-anak, Andris berhasil menarik hati masyarakat sekitar. Bukan hanya sekadar mencukur rambut, ia juga memberikan pelayanan ramah dan hangat, membuat pelanggan merasa seperti keluarga.

“Saya ingin usaha ini bukan hanya sekadar tempat cukur, tapi juga ruang untuk bersilaturahmi. Di sini, kita bisa bertukar cerita dan saling menguatkan,” tambahnya.

Keberhasilan Andris tidak hanya berdampak pada kehidupannya sendiri, tetapi juga menginspirasi warga sekitar. Banyak yang melihat perjuangannya sebagai bukti bahwa dengan semangat dan dukungan finansial yang tepat, usaha kecil dapat tumbuh dan memberikan manfaat lebih luas.

Berkat KUR BRI, Andris tidak hanya mengukir rambut pelanggannya, tetapi juga mengukir cerita suksesnya sendiri—satu guntingan demi guntingan, dari jalanan sederhana menuju masa depan yang lebih cerah hingga bisa membiayai kuliah anak-anaknya. (*)