MATASULSEL.ID, MAKASSAR – Memasuki usia ke-40 tahun, Radio Mercurius tidak sekadar merayakan perjalanan panjangnya, tetapi juga menggelar diskusi kritis bertema “Penyiaran Radio di Pusaran Arus Teknologi dan Ancaman Royalti”.
Diskusi berlangsung di Verda Coffee & Kitchen, Sabtu (14/02), menghadirkan akademisi hukum dari Universitas Hasanuddin, Judha Riksawan, serta Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Sulawesi Selatan, Irwan Ade Saputra. Forum dipandu oleh moderator Andi Mangara.
Teknologi dan Royalti Tak Perlu Berhadap-hadapan
Judha Riksawan membuka diskusi dengan pandangan tegas bahwa teknologi, royalti musik, hingga kecerdasan buatan (AI) tidak seharusnya diposisikan sebagai ancaman bagi radio.
“Teknologi dan royalti musik itu sesungguhnya tidak perlu berhadap-hadapan. Justru ketiganya saling melengkapi, termasuk AI. Istilah radikalnya, kita manfaatkan,” ujarnya.
Menurutnya, tantangan terbesar bukan pada hadirnya teknologi, melainkan kesiapan industri radio dalam menyesuaikan model bisnis, regulasi, dan perlindungan hak cipta di era digital.
Regulasi AI dan Royalti Harus Proporsional
Sejumlah penanggap diskusi, di antaranya Dr. Zulkarnain Hamson (dosen peneliti), Dr. Fitryani (praktisi penyiaran RRI Pro 2 FM Makassar), serta Rusdin Tompo (Ketua KPID Sulsel 2011–2016), menyoroti pentingnya kehati-hatian dalam merumuskan regulasi.
“Regulasi harus berhati-hati mengatur kecerdasan buatan agar tidak mereduksi keterampilan manusia dalam penyiaran. Begitu pula soal royalti, perlu diatur secara proporsional,” tegas Zulkarnain dan Rusdin secara bergantian.
Mereka menilai, perlindungan hak cipta penting, namun mekanismenya tidak boleh membebani industri radio lokal yang tengah beradaptasi dengan perubahan ekosistem media.
Ancaman atau Peluang?
Irwan Ade Saputra mengingatkan bahwa kehadiran teknologi informasi sebenarnya sudah terasa sejak 10–20 tahun terakhir, termasuk di Sulawesi Selatan.
“Kita saja orang radio yang menganggapnya hal biasa. Padahal teknologi informasi, termasuk internet, hanyalah medium. Tinggal bagaimana kita memaknainya—ancaman atau peluang,” ujarnya.
Menurut Irwan, radio tetap memiliki kekuatan pada kedekatan emosional dengan pendengar, kredibilitas penyiar, dan kemampuan membangun komunitas—nilai yang belum tentu bisa digantikan algoritma.
Rangkaian HUT ke-40
Diskusi ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan ulang tahun ke-40 Radio Mercurius yang jatuh pada 14 Februari 2026. Selain forum intelektual tersebut, manajemen radio juga menyiapkan program sosial Amalia Ramadan 1447 H pada pekan pertama dan kedua bulan suci mendatang.
Program itu akan menggalang serta menyalurkan donasi barang kepada panti asuhan, masjid, dan individu yang membutuhkan.
Empat dekade perjalanan Radio Mercurius menjadi momentum refleksi: di tengah gelombang digitalisasi dan dinamika royalti, radio dituntut bukan sekadar bertahan, melainkan bertransformasi.


Tinggalkan Balasan