MATASULSEL.ID, JENEPONTO – Di tengah maraknya gerakan transaksi nontunai, Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) hadir sebagai solusi praktis bagi pelaku usaha dan konsumen. Di Kabupaten Jeneponto, BRI Cabang setempat menjadi salah satu penggerak utama dalam memperkenalkan dan mengimplementasikan teknologi pembayaran digital ini kepada masyarakat, mulai dari pedagang pasar tradisional hingga usaha menengah.
Pemimpin Cabang BRI Jeneponto, Ari Kusmayadi, menekankan bahwa kehadiran QRIS bukan sekadar mengikuti tren, melainkan membawa manfaat nyata bagi percepatan pertumbuhan ekonomi inklusif di daerah.
“QRIS itu seperti jalan tol untuk transaksi keuangan UMKM. Prosesnya instan, biaya operasionalnya lebih efisien dibandingkan dengan mesin EDC, dan yang paling penting, aman,” ujarnya saat ditemui di kantornya, Selasa (10/2/2026).
Menurut Ari, ada beberapa manfaat utama QRIS yang langsung dirasakan oleh pelaku usaha di Jeneponto:
1. Kemudahan dan Kecepatan Transaksi: Pembayaran dapat dilakukan hanya dengan sekali scan, mengurangi waktu antre dan meminimalisir kesalahan hitung uang tunai.
2. Biaya Terjangkau: Dibandingkan dengan menyewa mesin EDC, biaya berlangganan atau transaksi dengan QRIS cenderung lebih rendah, sehingga cocok untuk usaha mikro dan kecil.
3. Keamanan yang Lebih Tinggi: “Dengan QRIS, risiko memegang uang tunai dalam jumlah besar berkurang. Selain itu, sistemnya terstandarisasi nasional dan diawasi oleh Bank Indonesia, sehingga lebih terjamin keamanannya,” jelas Ari.
4. Meningkatkan Daya Saing Usaha: Usaha yang sudah menggunakan QRIS terlihat lebih modern dan dapat menarik lebih banyak pelanggan, terutama generasi muda yang sudah sangat akrab dengan dompet digital.
5. Pencatatan Keuangan yang Rapi: Semua transaksi tercatat secara digital, memudahkan pelaku usaha untuk mengelola pembukuan, melacak omzet, dan menjadi data yang valid ketika membutuhkan akses ke perbankan, seperti pengajuan KUR.
BRI Cabang Jeneponto aktif melakukan sosialisasi dan pendampingan kepada pedagang. “Kami tidak hanya menawarkan, tetapi juga mendampingi. Mulai dari cara daftar, cara membuat kode QR-nya, hingga membaca laporan transaksi. Target kami, tidak ada lagi pedagang di Jeneponto yang terkendala menerima pembayaran digital,” tambah Ari yang baru menjabat sebulan lebih sebagai Pinca BRI Jeneponto.
Salah satu pedagang mie di pasar tradisional, Ibu Sari, membenarkan manfaat tersebut. “Sejak pakai QRIS BRI, jualan lebih lancar. Anak-anak muda yang biasa bayar pakai aplikasi sekarang jadi sering beli. Uangnya juga langsung masuk ke rekening, jadi lebih teratur,” katanya.
Ari Kusmayadi berharap, adopsi QRIS yang masif akan mendorong sirkulasi uang non-tunai yang lebih sehat, meningkatkan inklusi keuangan, dan pada akhirnya mengakselerasi pertumbuhan ekonomi kerakyatan di Jeneponto. “Ini adalah langkah kecil menuju Jeneponto yang lebih digital dan produktif. BRI siap menjadi mitra utama masyarakat dalam transisi ini,” tutupnya.
Dengan komitmen dari perbankan seperti BRI dan antusiasme pelaku usaha, QRIS diproyeksikan bukan hanya sebagai alat bayar, tetapi juga menjadi tulang punggung baru sistem pembayaran yang efisien dan andal di tingkat akar rumput. (*)


Tinggalkan Balasan